Author :
Cahya Khosyiah / @snowwhite679
Title :
Don’t be Afraid of Rain
Cast :
- Niji Erika (OC. Boleh kamu, boleh
temen kamu, boleh tentangga kamu)
- Justin Bieber AS Justin
Sub-Cast: -Usher AS Your Uncle
-Nial Horan AS Your Bestfriend
Genger :
romance (kayanya), sad (gagal), hurt (ga yakin).
PG :
19+
= = = = =
-Aku tak
akan pernah takut pada hujan karna hujan menyatukan kita, karna akan ada
pelangi setelah hujan, akan ada warna setelah mendung, ada senyum setelah
tangis. Aku menunggu senyummu yang akan cerahkan hariku, Justin.-
= = = = =
-Niji
Erika (You) POV-
Niji Erika, itu lah namaku. Aku seorang yatim
piatu yang diasuh paman terbaik di dunia. Bohong jika aku berkata hidupku
sempurana, aku benci adik dari ayahku tersebut. Dia amat sangat protektif. Setiap hari Aku slalu berteriak
padanya tapi sejujurnya itulah caraku berterimakasih.
“Aku benci
kau paman” artinya “Aku mencintaimu paman.”
“Berhenti mengangguku” artinya “Jangan berhenti
mencintaiku.”
Kegiatan belajar di sekolah tlah usai, aku
berjalan santai menuju gerbang,
seketika langkahku terhenti karna melihat pemandangan yang tak asing lagi.
Ya, inilah yang aku benci dari pamanku, HE’S OVERPROTEKTIF.
“Mereka
lagi?” Aku mengendus kesal. Ku mengeluarkan benda pipih dari saku mantel
hitamku. Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini bahwa aku tidak suka dia
menaruh orang-orang didepan sekolahku, sebenarnya ini lebih baik dari pada saat
aku masih kelas satu, saat dia menaruh mereka di depan kelasku, tapi tetap saja
aku tidak suka. Aku bukan anak Presiden.
“Aku
sudah bilang untuk menghentikan ini. Kapan paman mengerti?” Ucapku setengah
berteriak pada orang disebrang sana.
“Kau
sudah sampai rumah? Aku sedang diluar.”
Aku tidak percaya ini, bersikap seolah dia tak
bersalah.
“Kau tau
kenapa tidak ada yang mengajakku pulang bersama? Kenapa tidak ada yang
mengajakku kencan?”
“Karna mereka merasa tidak pantas bersamamu dan itu benar mereka harus
merasa seperti itu.” jawab seseorang dari sana
dengan santai.
“Paman
salah!” Aku benar-benar muak dengannya. “Mereka takut karna ada 6 orang yang
mungkin bisa mencabut nyawa mengikuti kemana pun aku pergi.”
“Baiklah. Aku sibuk. Aku tau maumu. Kau boleh
pergi sendiri asal bisa melewati mereka.”
Tut..Tut..Tut.
Ingin rasanya aku berteriak diatas gunung
Himalaya “KAU PAMAN TERBURUK!” Ini serius aku sudah bosan dengannya. Aku ingin
sekali saja bersenang-senang.
“Jika itu yang anda inginkan bapak Menteri
Perhubungan yang terhormat.” Ku masukkan
kembali ponselku ke dalam saku.
“Mari
kita lihat.” Aku mengikat kuda rambut coklat yang biasa terurai ini.
Aku berjalan cepat menuju kantin belakang
sekolah, sesampainya ditempat tujuan aku
mengeluarkan tali dari tas punggungku. Ya, itulah isi tas dari seorang murid
bernama Niji Erika, tali, klereng, kaleng minuman dan masih banyak lagi barang
tidak penting yang masuk dalam tas sekolahku. Hay, jangan berfikir buruk
tentangku, ini adalah hobi serta untuk berjaga-jaga. Berjaga-jaga untuk ide
gilaku ini, maksudnya.
Aku melempar salah satu ujung tali keluar pagar
tembok, dengan bantuan tali tersebut gadis cantik ini mencoba naik keatas
tembok.
“Ya
Tuhan! Aku tak bisa percaya ini.” Sungguh diluar dugaanku, paman tlah
menempatkan beberapa pengawal disana, lebih banyak dari yang didepan sekolah
dan lebih banyak dari tempo hari. Aku tak yakin dia bisa lolos kali ini. Aku
harus cari cara lain, yang lebih cerdik tentunya.
“Perlu
bantuan tuan putri?” Sebuah suara berat masuk ke gendang telingaku, Aku senang
mendengar suara ini. Tapi aku terlalu sering membuatnya masuk dalam masalah
yang ku perbuat.
“Tak
perlu, Nial. Kau bisa terlibat masalah lagi.” Ucapku dengan berat hati,
sebenarnya hanya dia kesempatan terakhirku.
Nial adalah sahabatku sejak masuk Sekolah
Tingkat Dasar. Nial yang slama ini
membantuku untuk terlepas dari pengawal yang diberikan paman meski hanya ada
beberapa yang berhasil tapi Nial tak pernah lelah membantuku. He is my
superboy. J
“Aku
bantu.” Nial mengulurkan kedua tangnnya, mungkin dia berniat membantuku turun
dari atas pagar.
“Ini berbeda. Kita akan lakukan yang ebih baik
dari sebelumnya.” Nial menarik tanganku untuk
mengikutinya.
Kenapa aku merasa tangan Nial sangat lembut,
lebih lembut dari tanganku. Ini sangat manis, Nial menggandeng tanganku untuk
mengikutinya.
Apa yang sedang aku pikirkan? TIDAK! Aku hanya
menyukai Justin. Ku rasa aku terlalu sering bersama Nial jadi aku berfikir Nial
itu manis. Menjijikkan.
Nial membawaku menuju atap sekolah.
“Bantu
aku.” Nial terlihat menarik setengah lingkaran sebuah besi yang menempel pada
tembok.
“Apa
sampai seperti ini?” Sejujurnya, aku ragu dengan apa yang kan dilakukan Nial
untukku. Jika ini buruk sebaiknya aku tidak mengikutinya. Aku tidak mau
berakhir di kantor polisi seperti tempo hari karna disangka sebagai teroris.
“Pamanmu
tlah mengetahui setiap sudut sekolah ini, terowongan menuju pemberhentian
busway adalah satu-satunya tempat yang
MUNGKIN tak diketahui olehnya.” Nial menekan kata ‘MUNGKIN’.
Bagaimana Aku bisa yakin padanya jika dia sendiri
tidak yakin.
“Masuklah!”
Perintah Nial pada ku setelah tutup terowongan terbuka.
“APA?!
AKU?!” Nial pasti sudah gila. Aku tidak mau menjadi tikus yang pada akhirnya akan mati dalam terowongan.
“Aku dibelakangmu. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang akan ku alami. Kau
didepan.”
“Sampai
kapan aku harus mengorbankan nyawaku untukmu?”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Nial. Apakah
sebanyak itu yang dilakukannya untukku?
“Sampai
ada seorang laki-laki yang rela mati untukku.” Jawabku ringan.
“Bersabarlah
lebih lama, Nial.” Nial berucap pada dirinya sendiri. Aku tau Hidupnya terjebak
dalam rasa simpati padaku, Nial tak bisa meninggalkan aku walau sudah mempunyai
pujaan hati, bahkan berulang kali Nial putus dengan kekasihnya karena sang
pacar merasa cemburu terhadapku. Dan aku sendiri, masih sama. Aku tak pernah
punya lelaki selain paman dan Nial.
Aku pun
tersenyum penuh kemenangan karna Nial bersedia mengikuti permintaanku. 15 menit
lebih Aku dan Nial berjalan menyuri lorong, namun kami tak kunjung menemukan
jalan keluar.
“Berapa
lama lagi kita berjalan?” Nafasku tak beraturan, aku mulai merasa kelelahan.
“Sebentar
lagi gadis manja.”
“Hai!
Nial Horan! Aku bukan gadis manja!” Aku menendang kaki Nial, namun itu tak
berpengaruh apapun pada kaki kekar Nial. Aku tak punya cukup kekuatan untuk membuat
Nial merintih. Takkan pernah.
“Nah,
kita sudah sampai.”
Benar. Aku bisa melihat ujung trowongan yang
bercahaya. Akhirnya , setelah perjanan yang melelahkan.
Aku keluar dari semak belungkar di sebuah taman.
“Aku merasa seperti narapidana yang mencoba kabur dari penjara.
“Aku ada
kencan dengan Zoe jadi kau disini, aku pergi.” Ucap Nial.
Aku
tidak suka ini, aku tidak suka saat dia meninggalkanku untuk wanita lain. Nial
pun tersenyum melihat ekspresiku yang dalam mood buruk. Kadang aku juga merasa
jahat pada Nial, seharusnya dia dapatkan kebebasannya. Tapi aku juga tak bisa
merelakannya begitu saja. Aku harus dapatkan pengganti, dan Justin adalah
jawabannya.
“Kau
harus mencari seseorang yang rela mati untukmu karna mereka tak akan datang
hanya dengan ucapan.” Nial mengusap rambutku, aku merasa punya seorang kakak
sekarang. Ya, itulah superboy-ku. Nial bisa jadi segalanya.
“Aku
melihatnya.”
“Siapa?”
Tanya Nial sepontan dengan berseri. Dia seperti baru saja mendapat kabar baik.
“Yang
pertama adalah paman dan yang kedua adalah kau.”
Nial diam tak merespon, melihat ekspresinya
sekarang membuatku ingin tertawa geli. Lucu sekali. :D
~
~
~
Aku menusuri
setiap tapak jalan kecil dipinggir taman, tak ada sedikitpun niatnya untuk
segera pulang. Aku akan menikmati ini, kesempatan yang jarang ia dapat. Aku
akan baru pulang pukul 10, pukul 12, atau sekali-kali tak pulang sepertinya tak
masalah. Memberikan sedikit pelajaran pada paman, Aku sudah muak diperlakukan
seperti anak kecil. Aku bisa jaga dirinya sendiri.
Pukul 4
sore, ternyata ini tak seindah yang aku pikirkan, aku merasa sendiri, tak ada
teman untuk saling tertawa. Harusnya,
Nial tetap bersamaku jadi sang putri ini tak akan merasa kesepian . Aku benar-benar
sendiri. Beginikah rasanya jadi orang biasa? Tapi kenapa aku melihat mereka
sangat menikmatinya. Lihat orang yang sedang berjalan terburu-buru disana,
pasti anak dan istrinya sedang menunggu dirumah. Lihat 2 gadis kecil didepan
toko mainan itu, sesampainya dirumah mereka pasti mengadu pada orang tua mereka.
Dan lihat, muda-mudi yang duduk dikursi sepi itu, aku iri pada mereka, mereka
sedang berciuman dan aku? Disentuh seorang laki-laki saja tak pernah.
Seburuk itukah hidupku?
“Membosankan.” Aku menarik ikat kepala, ku biarkan rambutku
terurai. Aku ingin pulang, ini
lebih buruk daripada mendengarkan pamanku
mengoceh semalaman.
Aku masuk ke bus yang bisa membawaku kembali
kerumah, setidaknya itulah yang dikatakan penjual balon tadi. Dan saat aku
masuk,,,
WHAT?!! Benarkah yang ku lihat ini?
Aku ingin berteriak kegirangan sekarang.
Justin,,Justin,, aku satu bus dengan Justin. Aku menutup mulutku, ini adalah
usaha agar aku tak berteriak. Orang-orang
bisa membunuhku jika aku berteriak didalam bus. Aku segera mencari
tempat duduk yang bisa aku tempati. Ya, disana. 2 bangku dibelakang Justin.
Dari sini aku bisa dengan leluasa menikmati wajah tampan Justin, tanpa
diketahui jadi aku tak perlu merasa malu.
Slalu seperti ini, hatiku, jantungku, tepat
didadaku. Mereka slalu berpacu cepat saat aku melihat Justin. Jatuh cinta, ini
membuatku ingin mati. Aku hampir tak bisa bernafas karna Justin, aku tersiksa
namun aku menikmatinya. Aku ingin berhenti namun disisi lain aku tak ingin dia
pergi. Aku merasa gugup setiap melihat iris mata hanzel Justin yang indah. Aku
segera duduk dibangku belakang yang terletak sedikit jauh dari tempat Justin.
Bahkan,
dilihat dari samping pun Justin tetap saja tampan. Aku rasa Aku akan meleleh sekarang, Justin
tersenyum pada salah satu penumpang dan itu terlihat sangat manis, saat Justin
menaikkan ujung bibirnya. Ya Tuhan,Aku bisa gila karnanya.
~
~
“Kita sudah berputar 3 kali
sampai kapan kalian akan tetap disana.”
Apa dia tidak tau bahwa suaranya sangat
mengganggu? Kenapa sopir bus itu berteriak begitu keras?
Sebentar,,,berteriak? Padaku? Ya! Aku sudah melewati jalan ini 3 kali. Aku
pasti terlihat bodoh sekarang. Apa Justin tau aku mengawasinya? Jadi dia
sengaja memancingku? Argh! Tidak mungkin.
Sulit sekali mengetahui dimana dia tinggal. “Aku
turun di halte depan.” Ucapku lesu.
Aku melirik ke bangku Justin dan dia melihatku.
MELIHATKU? Dan sekarang dia tersenyum padaku. AAAAA. Apa yang harus kulakukan?
Dia berjalan kesini,ke arahku. Lalu,,,
“Ayo
turun.” Dia berbicara padaku. Jangan katakan aku sedang bermimpi. Ku benturkan
kepalaku ke kaca “Au!” sakit, jadi Aku tak bermimpi, ini nyata, dia berbicara
padaku. Jatungku,,semoga Justin tak mendengar jatungku berdetak terlalu cepat
dan kuat.
“Kau
tak ingin turun? Banyak hal yang aku ingin tanyakan padamu.”
Matilah! Satu pertanyaan saja aku tak tau harus
jawab apa, bagaimana dengan banyak.
Aku menganggukkan kepala, bertanda menutujui
ajakannya.
Sore
hari dimusim dingin, disinilah aku sekarang. Berjalan bersama Justin, hampir
setiap detik sejak 2 tahun lalu aku
memimpikan ini. Menikmati musin dingin bersama Justin, makan bersama, menonton,
tertawa, dan membincangkan satu topic yang sama-sama kami sukai. Berlebihankah
aku jika aku ingin berkencan dengan seorang Justin Bieber.
Justin
Bieber, dia adalah tangan kanan pamanku. Dulunya dia berkerja di gedung putih
bagian komunikasi, mungkin jodoh yang membawanya ke paman sehingga aku bisa bertemu dengannya. Cinta pada pandangan
pertama, itulah yang aku rasakan padanya. Bodoh. Namun aku hanya bisa mengagumi lelaki ini dari belakang. Akan berakibat
buruk jika paman mengetahui perasaanku, Aku tak kan pernah bertemu dengan
Justin lagi. Kemungkinan terburuk adalah Justin kehilangan pekerjaannya, di
asingkan ke Negara lain, atau tak dapat pekerjaan selama hidupnya. Itulah yang
dilakukan kebanyakan orang besar, aku sendiri tidak yakin paman akan melakukan
hal tersebut namun kekhawatiranku tak bisa ku tepiskan. Hanya melihatnya dari
balkon saat pagi hari dan dari kamar saat malam hari, melihatnya membukakan
pintu untuk paman, melihatnya menyapa pengawalku, itu sudah cukup bagiku.
“Jadi
kau juga suka berkeliling kota dengan menggunakan Bus?” Justin membuka
pembicaraan. Jadi, dia kira aku sedang berkeliling?
“Tidak
juga, sebenarnya ini baru pertama kali.” Jawabku jujur. “ Apa itu hobimu?”
“Ya. Aku
senang melihat orang banyak orang dengan
banyak profesi.”
“Kau
punya banyak kekasih, dan mudah bosan.” Dari jawaban Justin aku bisa
menyipulkan bahwa Justin bukan tipe lelaki yang setia tapi siapa perduli, Aku
akan tetap mencintainya meskipun dia punya 1 istri dan sepuluh simpanan aku
bersedia menjadi simpanan ke 11 bahkan ke 21, tak masalah bagiku. Bukankah
cinta tak berlogika?
“Sebenarnya
aku belum pernah berkencan sebelumnya.”
“Kenapa?!”
Aku sungguh terkejut. Dengan wajah dan kemampuan serta bakatnya, benarkah dia
tak pernah berkencan?
“Ini
pertama kalinya aku mengucapkan lebih dari 5 kata pada seorang gadis.”
Aku percaya itu, mana mungkin dia bisa mengobrol
dengan seorang gadis jika dia hanya berada di sekeliling Usher dan pengawalku.
“Niji.”
Aku mengulurkan tangan kananku.
“Apa?”
Dia nampak terkejut.
“Kenapa?”
“Tidak,
hanya seperti pernah mendengar nama itu.”
Bukan hanya ‘seperti’ Justin, tapi dialah aku.
Gadis ini dan seorang yang kau kira anak dari atasanmu adalah orang yang sama.
“Kau?”
“Justin.”
Justin menjabat tanganku sambil tersenyum.“Perlu ku antar pulang?”
Apakah begini rasanya berkencan, sangat tenang
karna akan ada orang yang mengantarmu pulang. Tapi,,,
“Tidak.”
Jawabku, padahal sebenarnya aku sangat ingin dia mengucapkan selamat malam
didepan rumahku, seharusnya kita tidak dipertemukan seperti ini, jika aku bukan
Niji Erika , akankah kita bisa bersama?
“Biarku
tebak, ada seorang gadis SMA yang mencoba kabur dari rumah disini.”
Pikiran liar, bagaimana seorang yang berkerja
untuk Negara bisa berpikir begitu dangkal.
Tik,,,Tik,,
“Aku
tidak suka ini.” Aku mengadahkan tangan, aku tidak suka hujan. Hujan membuatku
dingin dan basah. Gelap dan mendung, slalu datang saat yang tidak tepat.
“Pelangi
seharusnya suka hujan.” Justin menolehkan kepalanya.
“Kau
bisa bahasa jepang?” Ada yang tidak bisa Justin lakukan? Ku dengar dia juga mengusai 5 bahasa lain.
“Aku
pernah bekerja di gedung putih.” Jawabnya.
“Lalu
apa pekerjaanmu sekarang?” Tanyaku basa-basi.
“Aku
sedang menikmatinya.”
“Aku
tanya apa pekerjaanmu bukan bagaimana pekerjaanmu.” Sejujurnya aku senang
mendengar bahwa dia menikmati pekerjaannya, jadi tidak salah jika aku tetap
menyembunyikan perasaanku.
Why
would I, when you are here
there a moment I’ve been chasin
and I finally caught it out on this floor
baby, theres no hesitation
there a moment I’ve been chasin
and I finally caught it out on this floor
baby, theres no hesitation
Ringtone ponselku berbunyi, Paman pasti mengkhawatirkanku.
Ku tekan tombol berwana hijau
“Hallo.”
Tidak ada tanggapan dari sana. “Hallo.” Tetap hening.
“Ini
untukku.” Justin mengangkat ponselnya, bahkan Ringtone kami pun sama. Berharap
ini tanda-tanda kami berjodoh.
“Ya,,”
“Baik,,”
Paman pasti menelfon Justin untuk mencariku.
“Ada
apa?” Tanyaku.
“Pekarjaanku.
Putri dari menteri perhubungan belum pulang dari sekolah.”
“Bagaimana
kau mencarinya? Kau tidak tau wajahnya.”
“Bagaimana
kau tau aku belum melihat wajahnya?”
Kya! Hati-hatilah dalam berbicara Niji.
“Kau
bilang kau tidak pernah berbicara pada gadis lain sebelumnya.” Huft,, sekarang
aku tau apa manfaat makan banyak sayuran, dia membantumu berfikir cepat.
“Kau
benar, tapi aku harus tetap pergi.”
“Aku
mengerti.” Ku persilahkan dia untuk melaksanakan tugasnya. Dia pun berbalik dan
berjalan menjauh, ku tatap punggungnya yang lebar. Semakin lama langkahnya
semakin cepat dan pada akhirnya Justin berlari, dia pasti kelelahan karna
tingkahku yang seenakku sendiri.
Ku telfon salah satu pengawal paman, “Jemput
aku.”
“Dimana
anda?” Dasar orang bodoh, dia bisa melacak keberadaanku dengan singal handphone
seperti biasanya.
“Apa
perlu aku menjawab? Jika kalian tak datang dalam waktu 5 menit aku akan
mantikan ponselku jadi kalian tidak akan menemukanku selama 2 hari.”
Ku lihat Justin yang berlari ke arahku.Damn!
kenapa dia kembali?
“Jangan
kesini jika kalian kesini ku pastikan kalian dipecat.”
Tut,,tut,,tut.
“Ini?”
Justin menyodorkan sebuah payung. “Aku berlari untuk membelikan ini, masih
tidak mau menerima?”
Aku pikir dia terburu-buru untuk mencari putri
atasannya. Aku pun menerima payung yang dia berikan.
“Bagaimana
dengan tugasmu?”
“Aku
sudah menelfol 24 orang untuk mencarinya dan kau hanya punya satu orang untuk
memberikanmu payung, yaitu aku.”
Aku tersipu mendengar ucapan Justin. Itu adalah
kalimat terromantis yang pernah ku dengar, jangan buat aku semakin mencintaimu
Justin.
~
~
Hujan turun menetesi bumi, membawa hawa dingin.
Berbeda dengan hujan biasanya, kali ini aku sangat menyukai hujan. Setiap tetes
yang turun ada 10 rasa syukurku karna kau ada disini untukku. Terimakasih
Tuhan, sekarang aku tau kenapa aku harus bersyukur atas apa yang Kau berikan,
karna dia datang tanpa sia-sia.
“Apa
ini rumahmu?” Ini 100 kali lebih buruk dari rumahku, tapi sebuah tempat yang
tidak buruk untuk dijadikan tempat tinggal jika kau bersama orang yang kau
cintai didalamnya. Catnya terlihat sudah kusam, pekarangan yang tidak pernah di
bersihkan dan tidak punya tetangga. Bagaimana kau bisa hidup seperti ini?
“Bukan.”
Jawab Justin singkat. Bukan? Lalu kenapa dia membawaku kesini? “Tapi aku akan
disini untuk malam ini.” lanjutnya lagi.
“Baiklah.”
Ku terseyum, mengikuti langkahnya untuk masuk.
“Masuk
dan bersihkan dirimu.” Justin membuka pintu salah satu ruangan dirumah ini.
“Aku
merasa seperti bayi.”
Hening,,, apa leluconku sulit diterima?
Sepertinya tidak juga karna 5 detik kemudian Justin tertawa renyah.
Ya, aku bisa melihat sederet giginya sekarang,
lalu apa lagi? Ku rasa cukup atau aku akan mati malam ini karna tak bisa
bernafas.
~
Setelah selesai membersihkan diri ku cari Justin
namun aku tak mendapatkannya, ku jelajahi setip sudut ruangan yang ada dirumah
ini. Dan ternyata dia sedang memasak. Sungguh luar biasa, apa yang tak bisa dia
lakukan. Oh Tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk yag sempurna seperti dia, itu
membuatku tak percaya diri untuk berharap lebih dari mengaguminya. Aku
menyenderkan kepalaku ke tepi pintu, menikmati pemandangan indah yang
dipersembahkan Tuhan. Justin.
“Kau
sudah selesai.” Ucap Justin yang menyadari keberadaanku.
“Hem.”
Aku menganguk, berjalan mendekatinya. Yang memnuatku heran adalah dia berkata
bahwa ini bukan tempat tinggalnya namun dia punya cukup banyak baju ganti
disini, salah satunya yang sedang ku pakai.
Setelah
selasai memasak Justin menghidangkan ke 2 piring yang sudah ia persiapkan
kemudian membawanya ke meja makan.
Makan
malam berjalan dengan sepi, mungkin tak terbiasa makan sambil mengobrol padahal
aku sangat ingin berbicara banyak dengannya. Biarlah. Aku menghela nafas berat.
“Ada
apa?” Tanya Justin, mungkin dia mendengar helaanku.
“Nothing.”
Jawabku seadanya.
~
“Setelah
ini lekaslah tidur, pagi-pagi sekali aku akan mengantarmu ke sekolah.” Ucapnya
mengantarku ke ruangan yang seperti tempat tidur, memang terlihat berantakan
namun tak apa.
Ku tahan
tangan justin ketika hendak berbalik pergi.
“Aku
akan diluar” jawabnya sebelum aku mengeluarkan pertanyaan.
Aku
semakin mengeratkan pegangan tanganku.
Dia
tersenyum manis sambil menyisipkan anak rambutku ke belakang telinga. Ya Tuhan.
Sungguh ini bukan mau ku, aku hanya ingin dia menemaniku, bukan menggodanya
namun senyumnya benar-benar membuatku meleleh.
Tanpa
diperitah, aku pun memejamkan mataku ketika Justin mendekatkan wajahnya.
Dingin. Itulah yang kurasakan ketika bibirnya menyentuh bibirku dengan tenang.
Entah dorongan dari mana aku melangkahkan kakiku, membimbing dia mendekati
ranjang. Hanya beberapa langkah kurasakan kakiku menyentuh sisi ranjang, kakiku
yang sudah lemas karna ciuman kami yang semakin dalam pun membuatku terduduk.
Justin melepas ciuman kami, sementara mataku masih terpejam mengatur detak
jantung dan deru nafas yang tak beraturan.
Aku
ingin membuka mata, tiba-tiba justin menarik tengkukku mencium bibirku lagi dan
kali ini lebih dalam, dalam, lidahnya dengan mudah masuk ke mulutku mengunci
lidahku. Aku tak ingin kalah, dengan sekuat tenaga ku tekan tekan bibirnya
hingga kami berbaring denga posisi aku berada di atasnya. Ku tarik kerah bajunya. Dia menyerah, di lepaskan
lidahku. Namun entah kenapa aku tak ingin ini berakhir. “niji” ucapnya. Tolong
jangan sebut namaku, itu membuatku benar-benar tak bisa berhenti. Justin
memutar tubuhku hingga aku berada dibawahnya. Ku berikan keputusan pada Justin.
Entah kenapa tiba-tiba udara di sekitar terasa panas, padahal di luar masih ku
dengar gemericik hujan turun. Ku tarik bajuku sedikit ke atas untuk mengurasi
rasa panas, tapi justru itu memberi akses justin untuk menjelajahi area perutku
dengan dengan tangannya. Ku remas kuat pundak justin saat ciumannya turun ke
leherku. “engghh..” erangku tertahan, aku ingin menyebut namanya tapi suaraku
tercekat ditenggorokan. “Berhenti.” Ucapku akhirnya. Justin menarik pelan
kepalanya dari leherku, ku kalungkan tanganku dileher justin, mencegah dia agar
tidak menjauh. Aku tersenyum saat justin merapikan rambut dari wajahku.
“Selamat malam” ucapnya lalu beranjak pergi menutup pintu dari luar.
~
~
Sinar
lembut mentari mengusik tidurku, memaksaku untuk membuka kelopak mata. Aku
merasakan punggungku yang terasa sakit,
dan kepalaku terasa berat. Ada apa ini? kenapa aku,,, aku terikat? Mataku
sepenuhnya terbuka. Dimana justin? Apa yang terjadi? Samar-samar ku dengar
suara beberapa lelaki dari balik pintu, 2 atau 3 mungkin. Itu bukan justin. Ku
lihat sekeliling, Aku masih ditempat yang sama seperti tadi malam saat justin
meninggalkanku. Lalu dimana justin?
“Biarkan
aku masuk.” Itu justin. Ingin aku berteriak memanggil namanya namun usahaku
sia-sia karna perekat yang terpsang dimulutku.
“Dia
milik kami. Kau sendir yang membawanya.” Sahut seoarang dengan suara besar.
“Biarkan
aku masuk.” Ucap justin lagi dengan nada yang sama.
“Kau tau
peraturannya bukan?” tanya yang lain. Peraturan apa? Perasaanku semakin tak
menentu. Ketakutan menguasai diriku, sekarang. Mungkinkah,,,,,
“Biarkan
dia.” Lelaki denga suara berat.
Ganggang
pintu bergerak. Justin. Aku memincingkan mata saat justin berjalan mendekatiku,
aku masih ingat betul siapa justin, sikap justin, tadi malam, dan semua tentang
justin namun itu tak mengurangi sedikitpun rasa takutku.
Ku lihat
mata sayunya. “maafkan aku” ucapnya lemah.
Maaf
untuk apa?
“untuk
semua yang terjadi sejak kemarin sore.” Jawab justin seolah tau apa arti mimik
wajahku.
========================
Sampai tengah cerita tiba-tiba stuck, di lanjut kapan-kapan.
jangan lupa tinggalkan komentar :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar