Senin, 12 Mei 2014

Jangan Takut Pada Hujan


Author   : Cahya Khosyiah / @snowwhite679
Title        : Don’t be Afraid of Rain
Cast         : - Niji Erika (OC. Boleh kamu, boleh temen kamu, boleh tentangga kamu)
                  - Justin Bieber  AS Justin
Sub-Cast:  -Usher AS Your Uncle
                     -Nial Horan AS Your Bestfriend
Genger   : romance (kayanya), sad (gagal), hurt (ga yakin).
PG           : 19+




=              =              =              =              =
-Aku tak akan pernah takut pada hujan karna hujan menyatukan kita, karna akan ada pelangi setelah hujan, akan ada warna setelah mendung, ada senyum setelah tangis. Aku menunggu senyummu yang akan cerahkan hariku, Justin.-
=              =              =              =              =


-Niji Erika (You) POV-
Niji Erika, itu lah namaku. Aku seorang yatim piatu yang diasuh paman terbaik di dunia. Bohong jika aku berkata hidupku sempurana, aku benci adik dari ayahku tersebut. Dia amat sangat  protektif. Setiap hari Aku slalu berteriak padanya tapi sejujurnya itulah caraku berterimakasih.
 “Aku benci kau paman” artinya “Aku mencintaimu paman.”
“Berhenti mengangguku” artinya “Jangan berhenti mencintaiku.”
Kegiatan belajar di sekolah tlah usai, aku berjalan santai menuju gerbang,   seketika langkahku terhenti karna melihat pemandangan yang tak asing lagi. Ya, inilah yang aku benci dari pamanku, HE’S OVERPROTEKTIF.
“Mereka lagi?” Aku mengendus kesal. Ku mengeluarkan benda pipih dari saku mantel hitamku. Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini bahwa aku tidak suka dia menaruh orang-orang didepan sekolahku, sebenarnya ini lebih baik dari pada saat aku masih kelas satu, saat dia menaruh mereka di depan kelasku, tapi tetap saja aku tidak suka. Aku bukan anak Presiden.
“Aku sudah bilang untuk menghentikan ini. Kapan paman mengerti?” Ucapku setengah berteriak pada orang disebrang sana.
“Kau sudah sampai rumah? Aku sedang diluar.”
Aku tidak percaya ini, bersikap seolah dia tak bersalah.
“Kau tau kenapa tidak ada yang mengajakku pulang bersama? Kenapa tidak ada yang mengajakku kencan?”
“Karna mereka merasa tidak pantas bersamamu dan itu benar mereka harus merasa seperti itu.” jawab seseorang dari sana dengan santai.
“Paman salah!” Aku benar-benar muak dengannya. “Mereka takut karna ada 6 orang yang mungkin bisa mencabut nyawa mengikuti kemana pun aku pergi.”
Baiklah. Aku sibuk. Aku tau maumu. Kau boleh pergi sendiri asal bisa melewati mereka.”
Tut..Tut..Tut.
Ingin rasanya aku berteriak diatas gunung Himalaya “KAU PAMAN TERBURUK!” Ini serius aku sudah bosan dengannya. Aku ingin sekali saja bersenang-senang.
 “Jika itu yang anda inginkan bapak Menteri Perhubungan  yang terhormat.” Ku masukkan kembali ponselku ke dalam saku.
“Mari kita lihat.” Aku mengikat kuda rambut coklat yang biasa terurai ini.
Aku berjalan cepat menuju kantin belakang sekolah, sesampainya ditempat  tujuan aku mengeluarkan tali dari tas punggungku. Ya, itulah isi tas dari seorang murid bernama Niji Erika, tali, klereng, kaleng minuman dan masih banyak lagi barang tidak penting yang masuk dalam tas sekolahku. Hay, jangan berfikir buruk tentangku, ini adalah hobi serta untuk berjaga-jaga. Berjaga-jaga untuk ide gilaku ini, maksudnya.

Aku melempar salah satu ujung tali keluar pagar tembok, dengan bantuan tali tersebut gadis cantik ini mencoba naik keatas tembok.
“Ya Tuhan! Aku tak bisa percaya ini.” Sungguh diluar dugaanku, paman tlah menempatkan beberapa pengawal disana, lebih banyak dari yang didepan sekolah dan lebih banyak dari tempo hari. Aku tak yakin dia bisa lolos kali ini. Aku harus cari cara lain, yang lebih cerdik tentunya.
“Perlu bantuan tuan putri?” Sebuah suara berat masuk ke gendang telingaku, Aku senang mendengar suara ini. Tapi aku terlalu sering membuatnya masuk dalam masalah yang ku perbuat.
“Tak perlu, Nial. Kau bisa terlibat masalah lagi.” Ucapku dengan berat hati, sebenarnya hanya dia kesempatan terakhirku.
Nial adalah sahabatku sejak masuk Sekolah Tingkat  Dasar. Nial yang slama ini membantuku untuk terlepas dari pengawal yang diberikan paman meski hanya ada beberapa yang berhasil tapi Nial tak pernah lelah membantuku. He is my superboy. J
“Aku bantu.” Nial mengulurkan kedua tangnnya, mungkin dia berniat membantuku turun dari atas pagar.
 “Ini berbeda. Kita akan lakukan yang ebih baik dari  sebelumnya.” Nial menarik tanganku untuk mengikutinya.
Kenapa aku merasa tangan Nial sangat lembut, lebih lembut dari tanganku. Ini sangat manis, Nial menggandeng tanganku untuk mengikutinya.
Apa yang sedang aku pikirkan? TIDAK! Aku hanya menyukai Justin. Ku rasa aku terlalu sering bersama Nial jadi aku berfikir Nial itu manis. Menjijikkan.
Nial membawaku menuju atap sekolah.
“Bantu aku.” Nial terlihat menarik setengah lingkaran sebuah besi yang menempel pada tembok.
“Apa sampai seperti ini?” Sejujurnya, aku ragu dengan apa yang kan dilakukan Nial untukku. Jika ini buruk sebaiknya aku tidak mengikutinya. Aku tidak mau berakhir di kantor polisi seperti tempo hari karna disangka sebagai teroris.
“Pamanmu tlah mengetahui setiap sudut sekolah ini, terowongan menuju pemberhentian busway adalah  satu-satunya tempat yang MUNGKIN tak diketahui olehnya.” Nial menekan kata ‘MUNGKIN’.
Bagaimana Aku bisa yakin padanya jika dia sendiri tidak yakin.
“Masuklah!” Perintah Nial pada ku setelah tutup terowongan terbuka.
“APA?! AKU?!” Nial pasti sudah gila. Aku tidak mau menjadi tikus  yang pada akhirnya akan mati dalam terowongan. “Aku dibelakangmu. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang akan ku alami. Kau didepan.”
                “Sampai kapan aku harus mengorbankan nyawaku untukmu?”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Nial. Apakah sebanyak itu yang dilakukannya untukku?
“Sampai ada seorang laki-laki yang rela mati untukku.” Jawabku ringan.
“Bersabarlah lebih lama, Nial.” Nial berucap pada dirinya sendiri. Aku tau Hidupnya terjebak dalam rasa simpati padaku, Nial tak bisa meninggalkan aku walau sudah mempunyai pujaan hati, bahkan berulang kali Nial putus dengan kekasihnya karena sang pacar merasa cemburu terhadapku. Dan aku sendiri, masih sama. Aku tak pernah punya lelaki selain paman dan Nial.
Aku pun tersenyum penuh kemenangan karna Nial bersedia mengikuti permintaanku. 15 menit lebih Aku dan Nial berjalan menyuri lorong, namun kami tak kunjung menemukan jalan keluar.
“Berapa lama lagi kita berjalan?” Nafasku tak beraturan, aku mulai merasa kelelahan.
“Sebentar lagi gadis manja.”
“Hai! Nial Horan! Aku bukan gadis manja!” Aku menendang kaki Nial, namun itu tak berpengaruh apapun pada kaki kekar Nial. Aku tak punya cukup kekuatan untuk membuat Nial merintih. Takkan pernah.
“Nah, kita sudah sampai.”
Benar. Aku bisa melihat ujung trowongan yang bercahaya. Akhirnya , setelah perjanan yang melelahkan.
Aku keluar dari semak belungkar di sebuah taman. “Aku merasa seperti narapidana yang mencoba kabur dari penjara.
“Aku ada kencan dengan Zoe jadi kau disini, aku pergi.” Ucap Nial.
Aku tidak suka ini, aku tidak suka saat dia meninggalkanku untuk wanita lain. Nial pun tersenyum melihat ekspresiku yang dalam mood buruk. Kadang aku juga merasa jahat pada Nial, seharusnya dia dapatkan kebebasannya. Tapi aku juga tak bisa merelakannya begitu saja. Aku harus dapatkan pengganti, dan Justin adalah jawabannya.
“Kau harus mencari seseorang yang rela mati untukmu karna mereka tak akan datang hanya dengan ucapan.” Nial mengusap rambutku, aku merasa punya seorang kakak sekarang. Ya, itulah superboy-ku. Nial bisa jadi segalanya.
“Aku melihatnya.”
“Siapa?” Tanya Nial sepontan dengan berseri. Dia seperti baru saja mendapat kabar baik.
“Yang pertama adalah paman dan yang kedua adalah kau.”
Nial diam tak merespon, melihat ekspresinya sekarang membuatku ingin tertawa geli. Lucu sekali. :D
~
~
~
Aku menusuri setiap tapak jalan kecil dipinggir taman, tak ada sedikitpun niatnya untuk segera pulang. Aku akan menikmati ini, kesempatan yang jarang ia dapat. Aku akan baru pulang pukul 10, pukul 12, atau sekali-kali tak pulang sepertinya tak masalah. Memberikan sedikit pelajaran pada paman, Aku sudah muak diperlakukan seperti anak kecil. Aku bisa jaga dirinya sendiri.
               
Pukul 4 sore, ternyata ini tak seindah yang aku pikirkan, aku merasa sendiri, tak ada teman untuk saling  tertawa. Harusnya, Nial tetap bersamaku jadi sang putri ini tak akan merasa kesepian . Aku benar-benar sendiri. Beginikah rasanya jadi orang biasa? Tapi kenapa aku melihat mereka sangat menikmatinya. Lihat orang yang sedang berjalan terburu-buru disana, pasti anak dan istrinya sedang menunggu dirumah. Lihat 2 gadis kecil didepan toko mainan itu, sesampainya dirumah mereka pasti mengadu pada orang tua mereka. Dan lihat, muda-mudi yang duduk dikursi sepi itu, aku iri pada mereka, mereka sedang berciuman dan aku? Disentuh seorang laki-laki saja tak pernah. Seburuk  itukah hidupku?
“Membosankan.”  Aku menarik ikat kepala, ku biarkan rambutku terurai.  Aku ingin pulang, ini
lebih buruk daripada mendengarkan pamanku mengoceh semalaman.
Aku masuk ke bus yang bisa membawaku kembali kerumah, setidaknya itulah yang dikatakan penjual balon tadi. Dan saat aku masuk,,,
WHAT?!! Benarkah yang ku lihat ini?
Aku ingin berteriak kegirangan sekarang. Justin,,Justin,, aku satu bus dengan Justin. Aku menutup mulutku, ini adalah usaha agar aku tak berteriak. Orang-orang  bisa membunuhku jika aku berteriak didalam bus. Aku segera mencari tempat duduk yang bisa aku tempati. Ya, disana. 2 bangku dibelakang Justin. Dari sini aku bisa dengan leluasa menikmati wajah tampan Justin, tanpa diketahui jadi aku tak perlu merasa malu.
Slalu seperti ini, hatiku, jantungku, tepat didadaku. Mereka slalu berpacu cepat saat aku melihat Justin. Jatuh cinta, ini membuatku ingin mati. Aku hampir tak bisa bernafas karna Justin, aku tersiksa namun aku menikmatinya. Aku ingin berhenti namun disisi lain aku tak ingin dia pergi. Aku merasa gugup setiap melihat iris mata hanzel Justin yang indah. Aku segera duduk dibangku belakang yang terletak sedikit jauh dari tempat Justin.
 Bahkan, dilihat dari samping pun Justin tetap saja tampan.  Aku rasa Aku akan meleleh sekarang, Justin tersenyum pada salah satu penumpang dan itu terlihat sangat manis, saat Justin menaikkan ujung bibirnya. Ya Tuhan,Aku bisa gila karnanya.
~
~

                “Kita sudah berputar 3 kali sampai kapan kalian akan tetap disana.”
Apa dia tidak tau bahwa suaranya sangat mengganggu? Kenapa sopir bus itu berteriak begitu keras?
Sebentar,,,berteriak? Padaku? Ya!  Aku sudah melewati jalan ini 3 kali. Aku pasti terlihat bodoh sekarang. Apa Justin tau aku mengawasinya? Jadi dia sengaja memancingku? Argh! Tidak mungkin.
Sulit sekali mengetahui dimana dia tinggal. “Aku turun di halte depan.” Ucapku lesu.
Aku melirik ke bangku Justin dan dia melihatku. MELIHATKU? Dan sekarang dia tersenyum padaku. AAAAA. Apa yang harus kulakukan? Dia berjalan kesini,ke arahku. Lalu,,,
“Ayo turun.” Dia berbicara padaku. Jangan katakan aku sedang bermimpi. Ku benturkan kepalaku ke kaca “Au!” sakit, jadi Aku tak bermimpi, ini nyata, dia berbicara padaku. Jatungku,,semoga Justin tak mendengar jatungku berdetak terlalu cepat dan kuat.
                “Kau tak ingin turun? Banyak hal yang aku ingin tanyakan padamu.”
Matilah! Satu pertanyaan saja aku tak tau harus jawab apa, bagaimana dengan banyak.
Aku menganggukkan kepala, bertanda menutujui ajakannya.
                Sore hari dimusim dingin, disinilah aku sekarang. Berjalan bersama Justin, hampir setiap detik sejak  2 tahun lalu aku memimpikan ini. Menikmati musin dingin bersama Justin, makan bersama, menonton, tertawa, dan membincangkan satu topic yang sama-sama kami sukai. Berlebihankah aku jika aku ingin berkencan dengan seorang Justin Bieber.
                Justin Bieber, dia adalah tangan kanan pamanku. Dulunya dia berkerja di gedung putih bagian komunikasi, mungkin jodoh yang membawanya ke paman sehingga aku  bisa bertemu dengannya. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang aku rasakan padanya. Bodoh.  Namun aku hanya bisa mengagumi  lelaki ini dari belakang. Akan berakibat buruk jika paman mengetahui perasaanku, Aku tak kan pernah bertemu dengan Justin lagi. Kemungkinan terburuk adalah Justin kehilangan pekerjaannya, di asingkan ke Negara lain, atau tak dapat pekerjaan selama hidupnya. Itulah yang dilakukan kebanyakan orang besar, aku sendiri tidak yakin paman akan melakukan hal tersebut namun kekhawatiranku tak bisa ku tepiskan. Hanya melihatnya dari balkon saat pagi hari dan dari kamar saat malam hari, melihatnya membukakan pintu untuk paman, melihatnya menyapa pengawalku, itu sudah cukup bagiku.
“Jadi kau juga suka berkeliling kota dengan menggunakan Bus?” Justin membuka pembicaraan. Jadi, dia kira aku sedang berkeliling?
“Tidak juga, sebenarnya ini baru pertama kali.” Jawabku jujur. “ Apa itu hobimu?”
“Ya. Aku senang melihat orang  banyak orang dengan banyak profesi.”
“Kau punya banyak kekasih, dan mudah bosan.” Dari jawaban Justin aku bisa menyipulkan bahwa Justin bukan tipe lelaki yang setia tapi siapa perduli, Aku akan tetap mencintainya meskipun dia punya 1 istri dan sepuluh simpanan aku bersedia menjadi simpanan ke 11 bahkan ke 21, tak masalah bagiku. Bukankah cinta tak berlogika?
“Sebenarnya aku belum pernah berkencan sebelumnya.”
“Kenapa?!” Aku sungguh terkejut. Dengan wajah dan kemampuan serta bakatnya, benarkah dia tak pernah berkencan?
“Ini pertama kalinya aku mengucapkan lebih dari 5 kata pada seorang gadis.”
Aku percaya itu, mana mungkin dia bisa mengobrol dengan seorang gadis jika dia hanya berada di sekeliling Usher dan pengawalku.
                “Niji.” Aku mengulurkan tangan kananku.
                “Apa?” Dia nampak terkejut.
“Kenapa?”
“Tidak, hanya seperti pernah mendengar nama itu.”
Bukan hanya ‘seperti’ Justin, tapi dialah aku. Gadis ini dan seorang yang kau kira anak dari atasanmu adalah orang yang sama.
“Kau?”
“Justin.” Justin menjabat tanganku sambil tersenyum.“Perlu ku antar pulang?”
Apakah begini rasanya berkencan, sangat tenang karna akan ada orang yang mengantarmu pulang. Tapi,,,
                “Tidak.” Jawabku, padahal sebenarnya aku sangat ingin dia mengucapkan selamat malam didepan rumahku, seharusnya kita tidak dipertemukan seperti ini, jika aku bukan Niji Erika , akankah kita bisa bersama?
                “Biarku tebak, ada seorang gadis SMA yang mencoba kabur dari rumah disini.”
Pikiran liar, bagaimana seorang yang berkerja untuk Negara bisa berpikir begitu dangkal.

Tik,,,Tik,,
                “Aku tidak suka ini.” Aku mengadahkan tangan, aku tidak suka hujan. Hujan membuatku dingin dan basah. Gelap dan mendung, slalu datang saat yang tidak tepat.
                “Pelangi seharusnya suka hujan.” Justin menolehkan kepalanya.
                “Kau bisa bahasa jepang?” Ada yang tidak bisa Justin lakukan?  Ku dengar dia juga mengusai 5 bahasa lain.
                “Aku pernah bekerja di gedung putih.” Jawabnya.
                “Lalu apa pekerjaanmu sekarang?” Tanyaku basa-basi.
                “Aku sedang menikmatinya.”
                “Aku tanya apa pekerjaanmu bukan bagaimana pekerjaanmu.” Sejujurnya aku senang mendengar bahwa dia menikmati pekerjaannya, jadi tidak salah jika aku tetap menyembunyikan perasaanku.

Why would I, when you are here
there a moment I’ve been chasin
and I finally caught it out on this floor
baby, theres no hesitation

Ringtone ponselku berbunyi, Paman pasti mengkhawatirkanku. Ku tekan tombol berwana hijau
                “Hallo.” Tidak ada tanggapan dari sana. “Hallo.” Tetap hening.
                “Ini untukku.” Justin mengangkat ponselnya, bahkan Ringtone kami pun sama. Berharap ini tanda-tanda kami berjodoh.
                “Ya,,”
                “Baik,,”
Paman pasti menelfon Justin untuk mencariku.
                “Ada apa?” Tanyaku.
                “Pekarjaanku. Putri dari menteri perhubungan belum pulang dari sekolah.”
                “Bagaimana kau mencarinya? Kau tidak tau wajahnya.”
                “Bagaimana kau tau aku belum melihat wajahnya?”
Kya! Hati-hatilah dalam berbicara Niji.
                “Kau bilang kau tidak pernah berbicara pada gadis lain sebelumnya.” Huft,, sekarang aku tau apa manfaat makan banyak sayuran, dia membantumu berfikir cepat.
                “Kau benar, tapi aku harus tetap pergi.”
                “Aku mengerti.” Ku persilahkan dia untuk melaksanakan tugasnya. Dia pun berbalik dan berjalan menjauh, ku tatap punggungnya yang lebar. Semakin lama langkahnya semakin cepat dan pada akhirnya Justin berlari, dia pasti kelelahan karna tingkahku yang seenakku sendiri.

Ku telfon salah satu pengawal paman, “Jemput aku.”
                “Dimana anda?” Dasar orang bodoh, dia bisa melacak keberadaanku dengan singal handphone seperti biasanya.
                “Apa perlu aku menjawab? Jika kalian tak datang dalam waktu 5 menit aku akan mantikan ponselku jadi kalian tidak akan menemukanku selama 2 hari.”

Ku lihat Justin yang berlari ke arahku.Damn! kenapa dia kembali?
                “Jangan kesini jika kalian kesini ku pastikan kalian dipecat.”
Tut,,tut,,tut.
                “Ini?” Justin menyodorkan sebuah payung. “Aku berlari untuk membelikan ini, masih tidak mau menerima?”
Aku pikir dia terburu-buru untuk mencari putri atasannya. Aku pun menerima payung yang dia berikan.
                “Bagaimana dengan tugasmu?”
                “Aku sudah menelfol 24 orang untuk mencarinya dan kau hanya punya satu orang untuk memberikanmu payung, yaitu aku.”
Aku tersipu mendengar ucapan Justin. Itu adalah kalimat terromantis yang pernah ku dengar, jangan buat aku semakin mencintaimu Justin.
~
~
Hujan turun menetesi bumi, membawa hawa dingin. Berbeda dengan hujan biasanya, kali ini aku sangat menyukai hujan. Setiap tetes yang turun ada 10 rasa syukurku karna kau ada disini untukku. Terimakasih Tuhan, sekarang aku tau kenapa aku harus bersyukur atas apa yang Kau berikan, karna dia datang tanpa sia-sia.
                “Apa ini rumahmu?” Ini 100 kali lebih buruk dari rumahku, tapi sebuah tempat yang tidak buruk untuk dijadikan tempat tinggal jika kau bersama orang yang kau cintai didalamnya. Catnya terlihat sudah kusam, pekarangan yang tidak pernah di bersihkan dan tidak punya tetangga. Bagaimana kau bisa hidup seperti ini?
                “Bukan.” Jawab Justin singkat. Bukan? Lalu kenapa dia membawaku kesini? “Tapi aku akan disini untuk malam ini.” lanjutnya lagi.
                “Baiklah.” Ku terseyum, mengikuti langkahnya untuk masuk.
                “Masuk dan bersihkan dirimu.” Justin membuka pintu salah satu ruangan dirumah ini.
                “Aku merasa seperti bayi.”
Hening,,, apa leluconku sulit diterima? Sepertinya tidak juga karna 5 detik kemudian Justin tertawa renyah.
Ya, aku bisa melihat sederet giginya sekarang, lalu apa lagi? Ku rasa cukup atau aku akan mati malam ini karna tak bisa bernafas.
~
Setelah selesai membersihkan diri ku cari Justin namun aku tak mendapatkannya, ku jelajahi setip sudut ruangan yang ada dirumah ini. Dan ternyata dia sedang memasak. Sungguh luar biasa, apa yang tak bisa dia lakukan. Oh Tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk yag sempurna seperti dia, itu membuatku tak percaya diri untuk berharap lebih dari mengaguminya. Aku menyenderkan kepalaku ke tepi pintu, menikmati pemandangan indah yang dipersembahkan Tuhan. Justin.
“Kau sudah selesai.” Ucap Justin yang menyadari keberadaanku.
“Hem.” Aku menganguk, berjalan mendekatinya. Yang memnuatku heran adalah dia berkata bahwa ini bukan tempat tinggalnya namun dia punya cukup banyak baju ganti disini, salah satunya yang sedang ku pakai.
Setelah selasai memasak Justin menghidangkan ke 2 piring yang sudah ia persiapkan kemudian membawanya ke meja makan.
 Makan malam berjalan dengan sepi, mungkin tak terbiasa makan sambil mengobrol padahal aku sangat ingin berbicara banyak dengannya. Biarlah. Aku menghela nafas berat.
“Ada apa?” Tanya Justin, mungkin dia mendengar helaanku.
“Nothing.” Jawabku seadanya.
~
“Setelah ini lekaslah tidur, pagi-pagi sekali aku akan mengantarmu ke sekolah.” Ucapnya mengantarku ke ruangan yang seperti tempat tidur, memang terlihat berantakan namun tak apa.
Ku tahan tangan justin ketika hendak berbalik pergi.
“Aku akan diluar” jawabnya sebelum aku mengeluarkan pertanyaan.
Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku.
Dia tersenyum manis sambil menyisipkan anak rambutku ke belakang telinga. Ya Tuhan. Sungguh ini bukan mau ku, aku hanya ingin dia menemaniku, bukan menggodanya namun senyumnya benar-benar membuatku meleleh.
Tanpa diperitah, aku pun memejamkan mataku ketika Justin mendekatkan wajahnya. Dingin. Itulah yang kurasakan ketika bibirnya menyentuh bibirku dengan tenang. Entah dorongan dari mana aku melangkahkan kakiku, membimbing dia mendekati ranjang. Hanya beberapa langkah kurasakan kakiku menyentuh sisi ranjang, kakiku yang sudah lemas karna ciuman kami yang semakin dalam pun membuatku terduduk. Justin melepas ciuman kami, sementara mataku masih terpejam mengatur detak jantung dan deru nafas yang tak beraturan.
Aku ingin membuka mata, tiba-tiba justin menarik tengkukku mencium bibirku lagi dan kali ini lebih dalam, dalam, lidahnya dengan mudah masuk ke mulutku mengunci lidahku. Aku tak ingin kalah, dengan sekuat tenaga ku tekan tekan bibirnya hingga kami berbaring denga posisi aku berada di atasnya. Ku tarik  kerah bajunya. Dia menyerah, di lepaskan lidahku. Namun entah kenapa aku tak ingin ini berakhir. “niji” ucapnya. Tolong jangan sebut namaku, itu membuatku benar-benar tak bisa berhenti. Justin memutar tubuhku hingga aku berada dibawahnya. Ku berikan keputusan pada Justin. Entah kenapa tiba-tiba udara di sekitar terasa panas, padahal di luar masih ku dengar gemericik hujan turun. Ku tarik bajuku sedikit ke atas untuk mengurasi rasa panas, tapi justru itu memberi akses justin untuk menjelajahi area perutku dengan dengan tangannya. Ku remas kuat pundak justin saat ciumannya turun ke leherku. “engghh..” erangku tertahan, aku ingin menyebut namanya tapi suaraku tercekat ditenggorokan. “Berhenti.” Ucapku akhirnya. Justin menarik pelan kepalanya dari leherku, ku kalungkan tanganku dileher justin, mencegah dia agar tidak menjauh. Aku tersenyum saat justin merapikan rambut dari wajahku. “Selamat malam” ucapnya lalu beranjak pergi menutup pintu dari luar.
~
~
Sinar lembut mentari mengusik tidurku, memaksaku untuk membuka kelopak mata. Aku merasakan punggungku  yang terasa sakit, dan kepalaku terasa berat. Ada apa ini? kenapa aku,,, aku terikat? Mataku sepenuhnya terbuka. Dimana justin? Apa yang terjadi? Samar-samar ku dengar suara beberapa lelaki dari balik pintu, 2 atau 3 mungkin. Itu bukan justin. Ku lihat sekeliling, Aku masih ditempat yang sama seperti tadi malam saat justin meninggalkanku. Lalu dimana justin?
“Biarkan aku masuk.” Itu justin. Ingin aku berteriak memanggil namanya namun usahaku sia-sia karna perekat yang terpsang dimulutku.
“Dia milik kami. Kau sendir yang membawanya.” Sahut seoarang dengan suara besar.
“Biarkan aku masuk.” Ucap justin lagi dengan nada yang sama.
“Kau tau peraturannya bukan?” tanya yang lain. Peraturan apa? Perasaanku semakin tak menentu. Ketakutan menguasai diriku, sekarang. Mungkinkah,,,,,
“Biarkan dia.” Lelaki denga suara berat.
Ganggang pintu bergerak. Justin. Aku memincingkan mata saat justin berjalan mendekatiku, aku masih ingat betul siapa justin, sikap justin, tadi malam, dan semua tentang justin namun itu tak mengurangi sedikitpun rasa takutku.
Ku lihat mata sayunya. “maafkan aku” ucapnya lemah.
Maaf untuk apa?
“untuk semua yang terjadi sejak kemarin sore.” Jawab justin seolah tau apa arti mimik wajahku.

========================


Sampai tengah cerita tiba-tiba stuck, di lanjut kapan-kapan.
jangan lupa tinggalkan komentar :)