Title : 2
Year of Love
Author : Cahya
Khosyiah / @snowwhite679
Cast :
Justin Bieber
Miranda cosgrove
Sub Cast: Usher
= + = + = + = + =
Seorang gadis
berambut coklat matang, menatap binar pemandangan laut nan indah didepannya.
Masa lalu biarlah masa lalu, mari kita jalani yang akan terjadi saat ini, jika
kita ditakdirkan bertemu maka kita akan bertemu, tak ada yang bisa menolak
kehendak Tuhan.
Ini yang Miranda
sukai, mengamati yang ombak yang bergerak teratur senada dengan angin, melihat
burung-burung yang terbang mengikuti matahari terbenam, langit yang berwarna
orange dan senja yang indah.
Sesungguhnya ia ingin disini
lebih lama namun matahari tlah terbenam, artinya malam tlah tiba. Selamat
tinggal senja. Miranda melangkahkan kakinya ke tempat yang memberinya kenangan
indah, tempat dimana pertama kali Justin mengajaknya berkencan. Miranda percaya
jika suatu saat nanti Justin akan kembali mengajaknya kesini.
“Kenapa kau tidak mencoba untuk
kerumahnya.” Seorang waitress menghampiri Miranda. Ia adalah Elle teman
Miranda. Mereka menjadi dekat sejak Miranda sering datang ke caffe ini, lebih
tepatnya 2 tahun yang lalu. Hari-hari dimana Miranda hidup tanpa Justin.
“Jika aku tau dimana ia
tinggal.” Jawab Miranda.
“Pecundang.”
“Kau bicara padaku?” Miranda
menaikkan satu alisnya.
“Tentu saja. Bagaimana kau nisa
menunggu seorang yang belum begitu kau kenal lebih dari 2 tahun.” Elle
menjelaskan maksudnya.
“Dia tak ingin aku mengetahui
siapa dia.” Miranda tertunduk, inilah yang menjadi kesedihan Miranda. Dia tak
tau apapun tentang lelaki yang ia cintai. Justin tak pernah bercerita apapun
tentang hidupnya, harinya, keluarga bahkan rumahnya.
“Nah! Itu dia. Apa yang terjadi
jika dia pengedar narkoba tingkat internasional, penyelundup, atau yang lebih
parah dia adalah teroris Amerika.”
“Tidak seburuk itu Ell.” Miranda
menepis pikiran buruk tentang Justin.
“Hey! Kau sendiri yang bilang
dia dikejar polisi lalu pergi bersama mereka dan belum kembali sampai sekarang.
Mungkin saja mereka sudah memenggal kepala Justin.”
“Mungkin dia adalah pencuri,
perampok, atau pembunuh tapi ku mohon jangan penyelundup. Karna jika dia
pembunuh dia bisa dibebaskan namun jika dia penyelundup Justin takkan pernah
kembali.”
“Kepalaku sakit. Aku pikir dunia
sudah gila, ada wanita sepertimu.” Tanggapan Elle atas keresahan Miranda.
Justin Bieber, sosok ini tak pernah lepas dari diri Miranda walau
hanya sedetik. Justin slalu ada disetiap saat Miranda membuka mata juga saat
gadis ini menutup mata, siang dan malam, setiap angin yang berhembus nama
Justin, setiap detak jantung yang mendetakkan nama Justin. Miranda menikmati
ini meski sesungguhnya dia tersiksa. Seperti ada makhluk yang secara sengaja
menggerogoti dadanya. Tapi Miranda tak bisa melepas itu karna ia sadar, saat
Miranda melepas rasa sakit itu maka Justin juga akan ikut pergi.
-Flashback-
“Berhenti kau!” Sekelompok
polisi terlihat sedang mengejar seorang. “Pada tembakan ke 3 kau harus
berhenti.”
DOR,DOR,DOR!
Tembakan bebas
tlah dilepaskan, namun itu tak membuat Justin gentar. Dia masih semangat untuk
berlari.
“Apa kau tak bisa berhitung? Itu
adalah tembakan ke 9.” Justin justru
merespon ancaman polisi-polisi tadi dengan
candaan.
“Sebagian ikuti aku, yang lain
pakai jalan pintas didepan.” Perintah seorang yang sepertinya adalah komandan
dari mereka.
Polisi-polisi
tadi berpencar, kali ini mereka tak boleh gagal lagi menangkap Justin. Sudah
cukup mereka ditertawakan rekan yang lain, bahkan kabar ini sudah sampai pada
tingkat keamanan khusus.
Justin berlari
ke arah gang kecil diantara perumahan,
“Dasar polisi-polisi bodoh, aku tak kan menyerah.” Dalam kasus
melepaskan diri dari kejaran polisi, Justin memang amat ahli. 2 kali hampir
tertangkap dan 15 kali slalu lolos, bukankah itu hebat?
Namun kali ini
sepertinya dia takkan lolos, mereka mengirim lebih dari 20 aparat dalam sekali
kejaran. Justin mencoba naik ketembok untuk menghindari mereka, mungkin dia
harus masuk kesalah satu rumah yang ada disana, sayangnya polisi-polisi itu ada
dimana-mana. Mereka menggeledahi setiap sudut perumahan.
Dilihatnya
seorang gadis yang sedang melukis. Tak ada pilihan lain, Justin masuk ke kamar
gadis tersebut dengan licah, diluar dukaan Justin gadis tersebut justru tak
berekspresesi sedikitpun padahal Justin sudah menyiapkan senjata jika gadis
tersebut mulai tak terkendali.
“Kau tidak berteriak?” Tanya
Justin ragu.
“Ku dengar ada seorang lelaki
yang dikejar polisi.” Jawab gadis tersebut dengan santai.
“Jadi kau bersedia membantuku?”
Gadis tersebut
diam tak menjawab.
Justin membuka
almari mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan dan Ya, Justin
menemukannya. Mantel hitam panjang milik sang gadis, Justin mengenakan itu ke
tubuhnya.
Tok,Tok,Tok.
“Bantuan yang sesungguhnya baru
dimulai.” Ucap Justin tersenyum.
Srek,,
Seseorang dari
luar membuka pintu kamar, dilihat dari cara membuka pintu Justin bisa tahu
bahwa polisi-polisi itu ada disini.
Dengan gerakan
cepat Justin berdiri membelakangi pintu kemudian meletakkan tangan kanannya ke
leher sang gadis lalu menarik kepalanya mendekat kearah Justin.
CUP,,
Sebuah kecupan
dari Justin dilakukan dengan singgkat karna sang gadis buru-buru menghindar,
belum 2 centi gadis tersebut menjauhkan bibirnya Justin kembali menarik kepalanya.
“Maaf,,” Polisi tadi kembali menutup pintu kamar.
Justin mencium
bibir sang gadis dengan hangat, sebuah kecupan mungkin dilakukan untuk
menyelamatkan diri namun ciuman ini dilakukan dengan sengaja. Justin belum
pernah merasakan perasaan setenang dan selembut ini sebelumnya. Sang gadis
membalas ciuman Justin dan itu membuatnya semakin menikmati ciuman ini. Justin menjelajahi setiap sudut
bibir gadis tersebut dengan bibirnya secara lembut.
“Ku rasa mereka sudah pergi.”
Gadis tersebut melepas ciuman.
Justin mundur
beberapa langkah, “Baiklah. Aku harus pergi.” Justin tersenyum kikuk, ini
membuatnya salah tingkah. Buru-buru dia melompat keluar jendela dan berlari.
“Aku Miranda.” Teriak sang gadis
sebelum Justin bener-benar berlari menjauh.
“Last Night Caffe jam 7.” Teriak
Justin pada Miranda.
Keesokan
harinya, Miranda datang ke Last Night Caffe secepat mungkin untuk menemui
Justin bahkan ini baru jam 6.30. Dan sepertinya bukan hanya Miranda yang datang
lebih awal namun Justin juga sudah berada disana.
“Hay,” sapa Miranda. “Menunggu
lama?”
“Tidak juga, aku baru datang.”
Nah,, yang ini Justin berbohong, sebenarnya dia berada disini pada pukul 6
tadi.
“Ku pikir aku terlalu
bersemangat.” Miranda duduk dibangku bersebrangan.
“Mungkin lebih tepatnya kita.”
Timpal Justin. “Kau percaya pada cinta pada ciuman pertama?”
“Cinta pada pandangan pertama,
maksudmu?” Miranda memiringkan sedikit kepalanya tanda tak mengerti.
“Cinta ciuman pertama. Jujur
sejak ciuman kemarin aku merasa ada yang berbeda didalam diriku. Apa kau
merasakannya juga?” Justin memperjelas ucapannya.
“Bagaimana aku bisa percaya pada
orang yang belum ku ketahui namanya.” Ucap Miranda sambil mengaduk latte yang
ada didepannya.
“Aku Justin.” Justin memberikan
sebucket bunga mawar putih.
“Sebenarnya itu adalah ciuman
pertamaku.” Miranda tersipu.
“Sebelum kita berjalan terlalu
jauh ada yang harus ku katakan padamu.” Justin mengenggam tangan Miranda.
“Jangan tanya apaun tentang diriku karna jika kau bertanya maka kita berakhir.
Aku akan katakan jika aku menginginkannya.”
“Anda sombong sekali.” Miranda
menarik tangannya dari tangan Justin.
“Aku serius. Apa aku terlalu
terburub-buru?”
“Atau aku harus mengatakkan kau
sangat keren.” Miranda tersenyum manis.
“Menurutmu aku keren?”
“Aku tak kan mau dicium orang
sembarangan jika kau tidak keren.”
Sejak hari itu hubungan Justin
dan Miranda semakin dekat, Justin slalu datang pada malam hari ke kamar Miranda
secara diam-diam. Meskipun begitu entah darimana Justin bisa tau kegiatan
Miranda pada siang hari. Dan Miranda menanggapi hal itu dengan sebiasa mungkin.
Bukankah awalnya Justin sudah memperingatkan Miranda?
Hari ini secara khusus Miranda
mengajak Justin bertemu di Last Night Caffe, dia tak sendiri sebuah lukisan
menemani langkahnya menemui sang kekasih. Miranda tau memang sulit menemui
Justin pada siang hari namun dia juga tak bisa menunggu sampai malam, jadi dia
sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan Justin tak datang.
“Ada apa?” Miranda menolehkan
kepalanya kearah suara tersebut berasal.
“Aku seperti berpacaran dengan
seorang vampire.” dilihatnya Justin sedang berdiri dibelakangnya. Miranda
memang sempat berfikir bahwa Justin adalah seorang vampire yang tidak bisa
terkena cahaya matahari, Miranda pasti sudah gila berfikir seperti itu. Ini adalah
dunia nyata, bukan fiksi maupun film.
“Mungkin aku harus kembali.”
Justin membalikkan tubuhnya, dengan segera Miranda menarik tangan Justin.
“Aku tau kau hanya bercanda.
Duduklah.” Perintah Miranda. “Aku ingin kau memiliki ini.” Miranda menyerahkan karya
lukisnya pada Justin. Sebuah coretan tangan bergambar punggung, bisa ditebak
bahwa itu adalah punngung Justin dia mengenakan mantel hitam, sama dengan
mantel Miranda yang dipakai Justin tempo hari.
“Apa wajahku kurang tampan?
Kenapa kau melukis punggungku? Aku merasa terhina.” Justin mengomentari lukisan
Miranda. Justin yang tidak menpunyai jiwa seni tentu saja menyebut itu aneh.
Seharusnya Miranda melukis ketampanan wajah Justin yang mempesona jika seketsa
punggung siapa yang tau bahwa ini adalah punggung Justin.
“Karna slama ini aku hanya
melihat punggungmu, kau slalu berada didepanku,kau slalu berusaha untuk pergi
dan menghindariku.” Ucap Miranda santai, kekecewaan tak ditampakkan didepan
Justin tapi ucapan itu cukup membuat Justin bersalah.
“Percayalah, ini akan segera
berakhir.” Justin menggenggam tangan halus Miranda lalu mengusap rambut sang
gadis dengan tangan yang lain.
“Akhirnya kita bertemu.” Seorang
polisi datang menghampiri mereka secara tiba-tiba, membuat suasana menengang
Justin mengeratkan
genggaman, Miranda tau itu bertanda buruk.
“Mari selesaikan ini dengan
halus.” Polisi tersebut mengetukkan tongkat ke atas meja.
Justin
mengendorkan otot ketegangan yang terlihat jelas diwajahnya, berlahan ia
melepaskan jarinya dari tangan Miranda satu persatu.
‘1,,,,
2,,,,
3,,,,’
Justin menarik
tangan Miranda untuk berlari keluar Caffe secepat mungkin, dan polisi itupun
mengejar Justin dan Miranda. Mereka melewati terongan kecil antara pergedungan.
Tujuan mereka adalah pelabuhan, kapal terakhir akan berangkat dalam sepuluh
menit jadi Justin serta Miranda harus bergegas. Kapal tersebut satu-satunya
cara untuk menghindar dan melenyapkan jejak.
“Lukisannya,,,” Miranda berhenti
ditengan jalan.
“Kita akan kembali.” Balas
Justin.
“Tidak, Aku sengaja menulis
alamat oranatuaku agar kau bisa berkunjung. Mereka bisa melacaknya.”
“Kau ke kapal dengan jalur lain.
Aku akan mengambilnya.” Tanpa berkata lebih banyak Justin segera pergi
meninggalkan Miranda.
Justin dan
Miranda berjalan terpisah, Justin kembali ke caffe untuk mengambil lukisannya
sedang Miranda berlari menuju pelabuhan melalui jalan raya. Tidak disanggka
polisi tadi tak hanya sendiri beberapa orang mengejar Miranda sedang
komandannya sendiri mengikuti Justin. Sayangnya usaha Justin terbuang dengan
percuma, setelah sampai caffe tadi lukisan dari Miranda sudah tak ada.
“Permisi,,” Justin menghampiri
conter caffe. “Lukisan di meja 9, apakah kalian melihatnya?”
“Tenang saja kami
menyimpannya,,” jawabnya dengan senyum, conter tadi berbalik untuk mengambil
lukisan itu namun tak ada waktu polisi semakin mendakat.
“Simpan itu untukku, jangan
berikan pada orang lain selain aku atau kekasihku sampai ajal menjemputmu.”
Pesan Justin lalu dia pergi mengunakan pintu belakang, Justin mendobrak paksa
pintu kayu yang terkunci.
Ditempat lain,,,
Miranda berlari
sekuat yang dia bisa, cerobong kapal tanda keberangkatan tlah berbunyi namun
Justin belum juga bersamanya. Miranda merasa sedih akan itu. Sakit rasanya,
sesak didada, sulit untuk bernafas. Apakah Justin menghianatinya? Melupakan
Miranda? Namun pikiran buruk segera ditepis oleh Mirabda, apapun itu Miranda
harus lepas dari polisi-polisi ini terlebih dahulu.
Miranda masuk
kedalam kapal untuk melabui polisi, naik ke atas mengunakan tangga, berlari
menghindar dengan jalur yang sama, dikira sudah cukup, Miranda melompat dari
kapal ke daratan yang jaraknya 5 meter lebih, kakinya bertumpu pada pagar. Dan
berhasil, polisi-polisi tadi mengumpatkan kekesalan.
“Dia bukan gadis biasa.” Ucap
salah satu dari mereka.
Miranda melompat
gembira, menjulurkan lidah, juga melambaikan tangan pada mereka, sungguh
ekspresi yang berlebihan atau tidak juga karna ini adalah untuk yang pertama
kalinya Miranda melakukan perbuatan ekstrim, ia harus dapatkan penghargaan untuk
ini. Dan penghargaannya tlah datang, Justin menghampirinya dengan senyum.
“Aku ingin bilang jangan
khawatir tapi sepertinya tak perlu, kau nampak menikmatinya.” Ucap Justin.
“Justin!” Miranda menyerang
Justin dengan pelukan.
Justin pun tak hanya
diam, dia membalas pelukan sang kekasih. Namun seketika mereka tersadar kembali
bahwa ini bukan waktunya untuk bersantai.
“Ayo.” Justin segera mengandeng
Miranda untuk berlari dan sialnya poisi-polisi yang mengejar mereka belum juga
menyerah.
DUAR!
Satu tembakan
bebas dikeluarkan oleh mereka. “Berhenti! Kami bilang!”
“Jangan perdulikan, mereka
takkan berani menembak kita.” Justin dengan entengnya mengucapkan itu diselingi
dengan senyuman.
Justin serta
Miranda terus berlari membabi buta sampai pada akhirnya Miranda terjatuh karna
sepatu hag yang dia pakai patah. Keduanya menjadi panic.
“Justin,,” Ucap Miranda lirih.
Polisi yang
mengejar mereka semakin mendekat.
“Aku tak apa, kau harus tetap
lari.” Ucap Miranda lagi.
Justin
memutuskan untuk menolong Miranda. Tapi dia kalah cepat dengan polisi-polisi
itu 2 orang dari mereka sigap menangkap
Miranda.
“LARI JUSTIN!” Miranda
berteriak.
“Jika kau pergi, kalian berdua
dalam posisi tidak aman.” Ucap sang komandan.
“Jangan perdulikan mereka!”
Miranda lagi.
“Aku menebak dia tak tahu apapun
tentangmu. Jika kau menyerahkan diri Aku akan melepaskan dia dengan mudah tanpa
beban.” Komandan mendekati Justin.
Ingin rasanya Justin menghampiri
Miranda dan menolongnya namun keadaan akan semakin memburu jik a dia menyerahkan
diri sedang jika dia tak kembali Miranda akan dalam masalah dan Justin tak mau
itu terjadi.
“Apapun itu aku percaya padamu
jadi pergilah.” Ucap Miranda tenang.
Justin berfikir dengan matang,
ini bukan tentang dirinya lagi. Ini tentang Miranda dan hidup smua orang. Dia
hanya ingin menyelesaikan ini sampai tuntas setelah itu dia akan pergi
namun,,,,
“Lepaskan dia.” Ucap Justin
lemah.
“Justin. Ku mohon.” Miranda tak
tahan untuk tidak menitihkan air matanya.
“Borgol.” Sang komandan
menadahkan tangannya keatas. “Aku yang akan membawanya sendiri secara
eksklusif.” Lalu salah satu dari bawahannya memberi benda yang dia minta.
Sang komandan berjalan mendekati Justin dan memborgol tangannya
dengan tersenyum meremeh.
“Tidak!” Tangis Miranda semakin pecah saat polisi-polisi tadi membawa sang kekasih.
Sedang Justin sendiri hanya bisa menunduk pasrah.
-Flashback Off-
Begitulah
perpisahan terjadi pada Justin dan Miranda. 2 tahun berlalu dan tak ada secuil
kenangan antara mereka yang Miranda lupakan, tak kan pernah.
Miranda melangkahkan kakinya tapak demi setapak
menjauhi keramaian kota Los Angles, wajahnya selalu lesu tak bersemangat.
Justin aku merindukanmu, sangat. Batin Miranda menjerit. Langkahnya terhenti
didepan toko kaset yang asing baginya namun lagu ini, lagu yang sedang diputar,
dia tau betul ini, lagu yang dulu pernah dinyanyikan Justin untuknya.
G BM A
yaaah, ohhh no, ooohhh no
G
BM
They say that hate has been sent
A
So let loose the talk of love
G BM
Before they outlaw the kiss
yaaah, ohhh no, ooohhh no
G
BM
They say that hate has been sent
A
So let loose the talk of love
G BM
Before they outlaw the kiss
Sedikit ragu
Miranda masuk ke toko tersebut.
DEG! Jantung
Miranda tiba-tiba berdetak kencang.
Miranda mendekati
suara music berasal melewati rak-rak yang terpasang kaset bedasarkan genger
yang tertata rapi. Suara music semakin jelas terdengar senada dengan jantung
Miranda yang semakin berdetak tak terkendali. Disana suara music berasal,
pandangan Miranda terhalang oleh sebuah rak kaset bergenger pop-rock, beberapa
langkah lagi. Miranda memegangi dadanya, bersiap menerima semua kemungkinan
yang terjadi nanti bahkan jika Justin tak ingin kembali padanya lagi, sungguh
tak masalah bagi Miranda, yang terpenting adalah dia biasa tau keadaan Justin
sekarang.
3 langkah lagi,,
2 langkah lagi,,
Miranda menarik
nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara berlahan.
Dan,,,, smua tak
seperti yang dibayangkan. Itu hanya sebuah kaset, kaset yang diputar oleh
operator toko.
Miranda keluar
toko dengan raut kecewa. Mungkin Ella benar, Miranda harus melepaskan Justin,
bukan hanya untuknya tapi juga untuk orang-orang disekitar Miranda. Ayahnya,
Ibu, juga Ella, selama ini Miranda hanya memikirkan dirinya sendiri, berfikir
bertemu Justin kembali hingga tak memperhatikan Ibu serta Ayahnya yang tersiksa
dengan sikap dingin Miranda.
Ya,, inilah
waktunya berhenti. Miranda harus kembali hidup tanpa Justin. Pasti ada cinta
setelah cinta, dia tak bisa berakhir seperti ini. Tuhan itu slalu ada.
Miranda kembali
ke toko kaser tadi,,
“Permisi.” Sapanya pada operator toko.
“Sudah memilih lagu yang tepat?” Tangap sang operator toko.
“Tidak. Aku hanya ingin,,,” Miranda mengeluarkan lukisan yang baru
saja dia ambil dari Caffe. “Bisakah kau memasang ini ditokomu?” Miranda menyerahkan lukisan tersebut, sebuah
lukisan bercoret pungung seorang lelaki, lukisan yang dulunya hendak diberikan
pada Justin.
“Apa?”
“Bantu aku.” Miranda meyakinkan.
“Lukisan yang bagus.” Seorang lelaki setengah baya menghampiri
mereka. “Aku Usher, pemilik toko ini.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Berapa
harus aku bayar?” tanyanya.
Miranda yang mendengar persetujuan dari sang pemilik toko pun
langsung gembira. “Aku hanya ingin ini dipajang didinding kalian. Aku tidak
ingin menjualnya.”
“Benarkah?” Usher heran. “Kenapa tidak memasangnya digaleri saja,
kau bisa dapat uang.”
Tanpa berkata lagi Miranda keluar
dari toko kaset tersebut.
Ini adalah awal pelepasan untuk Justin. Smua akan tetap berjalan
dengan semestinya, tetap tersenyum, tetap mencintai, maka kebahagian akan
datang. Dunia terus berjalan tanpa memperdulikan rasamu jadi jangan berhenti
karna kamu tak ingin kehilangan. Sesuatu memang akan datang dan pergi dengan
sendirinya.

