Minggu, 27 Oktober 2013

2 year of love



Title       : 2 Year of Love
Author  : Cahya Khosyiah / @snowwhite679
Cast       : Justin Bieber
                 Miranda cosgrove
Sub Cast: Usher


=             +             =             +             =             +             =             +             =


Seorang gadis berambut coklat matang, menatap binar pemandangan laut nan indah didepannya. Masa lalu biarlah masa lalu, mari kita jalani yang akan terjadi saat ini, jika kita ditakdirkan bertemu maka kita akan bertemu, tak ada yang bisa menolak kehendak Tuhan.
Ini yang Miranda sukai, mengamati yang ombak yang bergerak teratur senada dengan angin, melihat burung-burung yang terbang mengikuti matahari terbenam, langit yang berwarna orange dan senja yang indah.
                Sesungguhnya ia ingin disini lebih lama namun matahari tlah terbenam, artinya malam tlah tiba. Selamat tinggal senja. Miranda melangkahkan kakinya ke tempat yang memberinya kenangan indah, tempat dimana pertama kali Justin mengajaknya berkencan. Miranda percaya jika suatu saat nanti Justin akan kembali mengajaknya kesini.
                “Kenapa kau tidak mencoba untuk kerumahnya.” Seorang waitress menghampiri Miranda. Ia adalah Elle teman Miranda. Mereka menjadi dekat sejak Miranda sering datang ke caffe ini, lebih tepatnya 2 tahun yang lalu. Hari-hari dimana Miranda hidup tanpa Justin.
                “Jika aku tau dimana ia tinggal.” Jawab Miranda.
                “Pecundang.”
                “Kau bicara padaku?” Miranda menaikkan satu alisnya.
                “Tentu saja. Bagaimana kau nisa menunggu seorang yang belum begitu kau kenal lebih dari 2 tahun.” Elle menjelaskan maksudnya.
                “Dia tak ingin aku mengetahui siapa dia.” Miranda tertunduk, inilah yang menjadi kesedihan Miranda. Dia tak tau apapun tentang lelaki yang ia cintai. Justin tak pernah bercerita apapun tentang hidupnya, harinya, keluarga bahkan rumahnya.
                “Nah! Itu dia. Apa yang terjadi jika dia pengedar narkoba tingkat internasional, penyelundup, atau yang lebih parah dia adalah teroris Amerika.”
                “Tidak seburuk itu Ell.” Miranda menepis pikiran buruk tentang Justin.
                “Hey! Kau sendiri yang bilang dia dikejar polisi lalu pergi bersama mereka dan belum kembali sampai sekarang. Mungkin saja mereka sudah memenggal kepala Justin.”
                “Mungkin dia adalah pencuri, perampok, atau pembunuh tapi ku mohon jangan penyelundup. Karna jika dia pembunuh dia bisa dibebaskan namun jika dia penyelundup Justin takkan pernah kembali.”
                “Kepalaku sakit. Aku pikir dunia sudah gila, ada wanita sepertimu.” Tanggapan Elle atas keresahan Miranda.

Justin Bieber, sosok ini tak pernah lepas dari diri Miranda walau hanya sedetik. Justin slalu ada disetiap saat Miranda membuka mata juga saat gadis ini menutup mata, siang dan malam, setiap angin yang berhembus nama Justin, setiap detak jantung yang mendetakkan nama Justin. Miranda menikmati ini meski sesungguhnya dia tersiksa. Seperti ada makhluk yang secara sengaja menggerogoti dadanya. Tapi Miranda tak bisa melepas itu karna ia sadar, saat Miranda melepas rasa sakit itu maka Justin juga akan ikut pergi.

-Flashback-
                “Berhenti kau!” Sekelompok polisi terlihat sedang mengejar seorang. “Pada tembakan ke 3 kau harus berhenti.”
DOR,DOR,DOR!
Tembakan bebas tlah dilepaskan, namun itu tak membuat Justin gentar. Dia masih semangat untuk berlari.
                “Apa kau tak bisa berhitung? Itu adalah tembakan ke 9.”  Justin justru merespon ancaman polisi-polisi tadi dengan  candaan.
               
                “Sebagian ikuti aku, yang lain pakai jalan pintas didepan.” Perintah seorang yang sepertinya adalah komandan dari mereka.
Polisi-polisi tadi berpencar, kali ini mereka tak boleh gagal lagi menangkap Justin. Sudah cukup mereka ditertawakan rekan yang lain, bahkan kabar ini sudah sampai pada tingkat  keamanan khusus.
Justin berlari ke arah gang kecil diantara perumahan,  “Dasar polisi-polisi bodoh, aku tak kan menyerah.” Dalam kasus melepaskan diri dari kejaran polisi, Justin memang amat ahli. 2 kali hampir tertangkap dan 15 kali slalu lolos, bukankah itu hebat?
Namun kali ini sepertinya dia takkan lolos, mereka mengirim lebih dari 20 aparat dalam sekali kejaran. Justin mencoba naik ketembok untuk menghindari mereka, mungkin dia harus masuk kesalah satu rumah yang ada disana, sayangnya polisi-polisi itu ada dimana-mana. Mereka menggeledahi setiap sudut perumahan.
Dilihatnya seorang gadis yang sedang melukis. Tak ada pilihan lain, Justin masuk ke kamar gadis tersebut dengan licah, diluar dukaan Justin gadis tersebut justru tak berekspresesi sedikitpun padahal Justin sudah menyiapkan senjata jika gadis tersebut mulai tak terkendali.
                “Kau tidak berteriak?” Tanya Justin ragu.
                “Ku dengar ada seorang lelaki yang dikejar polisi.” Jawab gadis tersebut dengan santai.
                “Jadi kau bersedia membantuku?”
Gadis tersebut diam tak menjawab.
Justin membuka almari mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan dan Ya, Justin menemukannya. Mantel hitam panjang milik sang gadis, Justin mengenakan itu ke tubuhnya.
Tok,Tok,Tok.
                “Bantuan yang sesungguhnya baru dimulai.” Ucap Justin tersenyum.
Srek,,
Seseorang dari luar membuka pintu kamar, dilihat dari cara membuka pintu Justin bisa tahu bahwa polisi-polisi itu ada disini.
Dengan gerakan cepat Justin berdiri membelakangi pintu kemudian meletakkan tangan kanannya ke leher sang gadis lalu menarik kepalanya mendekat kearah Justin.
CUP,,
Sebuah kecupan dari Justin dilakukan dengan singgkat karna sang gadis buru-buru menghindar, belum 2 centi gadis tersebut menjauhkan bibirnya Justin kembali menarik kepalanya.
“Maaf,,” Polisi tadi kembali menutup pintu kamar.
Justin mencium bibir sang gadis dengan hangat, sebuah kecupan mungkin dilakukan untuk menyelamatkan diri namun ciuman ini dilakukan dengan sengaja. Justin belum pernah merasakan perasaan setenang dan selembut ini sebelumnya. Sang gadis membalas ciuman Justin dan itu membuatnya semakin menikmati  ciuman ini. Justin menjelajahi setiap sudut bibir gadis tersebut dengan bibirnya secara lembut.
                “Ku rasa mereka sudah pergi.” Gadis tersebut melepas ciuman.
Justin mundur beberapa langkah, “Baiklah. Aku harus pergi.” Justin tersenyum kikuk, ini membuatnya salah tingkah. Buru-buru dia melompat keluar jendela dan berlari.
                “Aku Miranda.” Teriak sang gadis sebelum Justin bener-benar berlari menjauh.
                “Last Night Caffe jam 7.” Teriak Justin pada Miranda.

Keesokan harinya, Miranda datang ke Last Night Caffe secepat mungkin untuk menemui Justin bahkan ini baru jam 6.30. Dan sepertinya bukan hanya Miranda yang datang lebih awal namun Justin juga sudah berada disana.
                “Hay,” sapa Miranda. “Menunggu lama?”
                “Tidak juga, aku baru datang.” Nah,, yang ini Justin berbohong, sebenarnya dia berada disini pada pukul 6 tadi.
                “Ku pikir aku terlalu bersemangat.” Miranda duduk dibangku bersebrangan.
                “Mungkin lebih tepatnya kita.” Timpal Justin. “Kau percaya pada cinta pada ciuman pertama?”
                “Cinta pada pandangan pertama, maksudmu?” Miranda memiringkan sedikit kepalanya tanda tak mengerti.
                “Cinta ciuman pertama. Jujur sejak ciuman kemarin aku merasa ada yang berbeda didalam diriku. Apa kau merasakannya juga?” Justin memperjelas ucapannya.
                “Bagaimana aku bisa percaya pada orang yang belum ku ketahui namanya.” Ucap Miranda sambil mengaduk latte yang ada didepannya.
                “Aku Justin.” Justin memberikan sebucket bunga mawar putih.
                “Sebenarnya itu adalah ciuman pertamaku.” Miranda tersipu.
                “Sebelum kita berjalan terlalu jauh ada yang harus ku katakan padamu.” Justin mengenggam tangan Miranda. “Jangan tanya apaun tentang diriku karna jika kau bertanya maka kita berakhir. Aku akan katakan jika aku menginginkannya.”
                “Anda sombong sekali.” Miranda menarik tangannya dari tangan Justin.
                “Aku serius. Apa aku terlalu terburub-buru?”
                “Atau aku harus mengatakkan kau sangat keren.” Miranda tersenyum manis.
                “Menurutmu aku keren?”
                “Aku tak kan mau dicium orang sembarangan jika kau tidak keren.”

                Sejak hari itu hubungan Justin dan Miranda semakin dekat, Justin slalu datang pada malam hari ke kamar Miranda secara diam-diam. Meskipun begitu entah darimana Justin bisa tau kegiatan Miranda pada siang hari. Dan Miranda menanggapi hal itu dengan sebiasa mungkin. Bukankah awalnya Justin sudah memperingatkan Miranda?
                Hari ini secara khusus Miranda mengajak Justin bertemu di Last Night Caffe, dia tak sendiri sebuah lukisan menemani langkahnya menemui sang kekasih. Miranda tau memang sulit menemui Justin pada siang hari namun dia juga tak bisa menunggu sampai malam, jadi dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan Justin tak datang.
                “Ada apa?” Miranda menolehkan kepalanya kearah suara tersebut berasal.
                “Aku seperti berpacaran dengan seorang vampire.” dilihatnya Justin sedang berdiri dibelakangnya. Miranda memang sempat berfikir bahwa Justin adalah seorang vampire yang tidak bisa terkena cahaya matahari, Miranda pasti sudah gila berfikir seperti itu. Ini adalah dunia nyata, bukan fiksi maupun film.
                “Mungkin aku harus kembali.” Justin membalikkan tubuhnya, dengan segera Miranda menarik tangan Justin.
                “Aku tau kau hanya bercanda. Duduklah.” Perintah Miranda. “Aku ingin kau memiliki ini.” Miranda menyerahkan karya lukisnya pada Justin. Sebuah coretan tangan bergambar punggung, bisa ditebak bahwa itu adalah punngung Justin dia mengenakan mantel hitam, sama dengan mantel Miranda yang dipakai Justin tempo hari.
                “Apa wajahku kurang tampan? Kenapa kau melukis punggungku? Aku merasa terhina.” Justin mengomentari lukisan Miranda. Justin yang tidak menpunyai jiwa seni tentu saja menyebut itu aneh. Seharusnya Miranda melukis ketampanan wajah Justin yang mempesona jika seketsa punggung siapa yang tau bahwa ini adalah punggung Justin.
                “Karna slama ini aku hanya melihat punggungmu, kau slalu berada didepanku,kau slalu berusaha untuk pergi dan menghindariku.” Ucap Miranda santai, kekecewaan tak ditampakkan didepan Justin tapi ucapan itu cukup membuat Justin bersalah.
                “Percayalah, ini akan segera berakhir.” Justin menggenggam tangan halus Miranda lalu mengusap rambut sang gadis dengan tangan yang lain.

                “Akhirnya kita bertemu.” Seorang polisi datang menghampiri mereka secara tiba-tiba, membuat suasana menengang
Justin mengeratkan genggaman, Miranda tau itu bertanda buruk.
                “Mari selesaikan ini dengan halus.” Polisi tersebut mengetukkan tongkat ke atas meja.
Justin mengendorkan otot ketegangan yang terlihat jelas diwajahnya, berlahan ia melepaskan jarinya dari tangan Miranda satu persatu.
‘1,,,,
2,,,,
3,,,,’
Justin menarik tangan Miranda untuk berlari keluar Caffe secepat mungkin, dan polisi itupun mengejar Justin dan Miranda. Mereka melewati terongan kecil antara pergedungan. Tujuan mereka adalah pelabuhan, kapal terakhir akan berangkat dalam sepuluh menit jadi Justin serta Miranda harus bergegas. Kapal tersebut satu-satunya cara untuk menghindar dan melenyapkan jejak.
                “Lukisannya,,,” Miranda berhenti ditengan jalan.
                “Kita akan kembali.” Balas Justin.
                “Tidak, Aku sengaja menulis alamat oranatuaku agar kau bisa berkunjung. Mereka bisa melacaknya.”
                “Kau ke kapal dengan jalur lain. Aku akan mengambilnya.” Tanpa berkata lebih banyak Justin segera pergi meninggalkan Miranda.
Justin dan Miranda berjalan terpisah, Justin kembali ke caffe untuk mengambil lukisannya sedang Miranda berlari menuju pelabuhan melalui jalan raya. Tidak disanggka polisi tadi tak hanya sendiri beberapa orang mengejar Miranda sedang komandannya sendiri mengikuti Justin. Sayangnya usaha Justin terbuang dengan percuma, setelah sampai caffe tadi lukisan dari Miranda sudah tak ada.
                “Permisi,,” Justin menghampiri conter caffe. “Lukisan di meja 9, apakah kalian melihatnya?”
                “Tenang saja kami menyimpannya,,” jawabnya dengan senyum, conter tadi berbalik untuk mengambil lukisan itu namun tak ada waktu polisi semakin mendakat.
                “Simpan itu untukku, jangan berikan pada orang lain selain aku atau kekasihku sampai ajal menjemputmu.” Pesan Justin lalu dia pergi mengunakan pintu belakang, Justin mendobrak paksa pintu kayu yang terkunci.

Ditempat lain,,,
Miranda berlari sekuat yang dia bisa, cerobong kapal tanda keberangkatan tlah berbunyi namun Justin belum juga bersamanya. Miranda merasa sedih akan itu. Sakit rasanya, sesak didada, sulit untuk bernafas. Apakah Justin menghianatinya? Melupakan Miranda? Namun pikiran buruk segera ditepis oleh Mirabda, apapun itu Miranda harus lepas dari polisi-polisi ini terlebih dahulu.
Miranda masuk kedalam kapal untuk melabui polisi, naik ke atas mengunakan tangga, berlari menghindar dengan jalur yang sama, dikira sudah cukup, Miranda melompat dari kapal ke daratan yang jaraknya 5 meter lebih, kakinya bertumpu pada pagar. Dan berhasil, polisi-polisi tadi mengumpatkan kekesalan.
                “Dia bukan gadis biasa.” Ucap salah satu dari mereka.
Miranda melompat gembira, menjulurkan lidah, juga melambaikan tangan pada mereka, sungguh ekspresi yang berlebihan atau tidak juga karna ini adalah untuk yang pertama kalinya Miranda melakukan perbuatan ekstrim, ia harus dapatkan penghargaan untuk ini. Dan penghargaannya tlah datang, Justin menghampirinya dengan senyum.
                “Aku ingin bilang jangan khawatir tapi sepertinya tak perlu, kau nampak menikmatinya.” Ucap Justin.
                “Justin!” Miranda menyerang Justin dengan pelukan.
Justin pun tak hanya diam, dia membalas pelukan sang kekasih. Namun seketika mereka tersadar kembali bahwa ini bukan waktunya untuk bersantai.
                “Ayo.” Justin segera mengandeng Miranda untuk berlari dan sialnya poisi-polisi yang mengejar mereka belum juga menyerah.
DUAR!
Satu tembakan bebas dikeluarkan oleh mereka. “Berhenti! Kami bilang!”
                “Jangan perdulikan, mereka takkan berani menembak kita.” Justin dengan entengnya mengucapkan itu diselingi dengan senyuman.
Justin serta Miranda terus berlari membabi buta sampai pada akhirnya Miranda terjatuh karna sepatu hag yang dia pakai patah. Keduanya menjadi panic.
                “Justin,,” Ucap Miranda lirih.
Polisi yang mengejar mereka semakin mendekat.
                “Aku tak apa, kau harus tetap lari.” Ucap Miranda lagi.
Justin memutuskan untuk menolong Miranda. Tapi dia kalah cepat dengan polisi-polisi itu 2 orang dari mereka sigap  menangkap Miranda.
                “LARI JUSTIN!” Miranda berteriak.
                “Jika kau pergi, kalian berdua dalam posisi tidak aman.” Ucap sang komandan.
                “Jangan perdulikan mereka!” Miranda lagi.
                “Aku menebak dia tak tahu apapun tentangmu. Jika kau menyerahkan diri Aku akan melepaskan dia dengan mudah tanpa beban.” Komandan mendekati Justin.
                Ingin rasanya Justin menghampiri Miranda dan menolongnya namun keadaan akan semakin memburu jik a dia menyerahkan diri sedang jika dia tak kembali Miranda akan dalam masalah dan Justin tak mau itu terjadi.
                “Apapun itu aku percaya padamu jadi pergilah.” Ucap Miranda tenang.
                Justin berfikir dengan matang, ini bukan tentang dirinya lagi. Ini tentang Miranda dan hidup smua orang. Dia hanya ingin menyelesaikan ini sampai tuntas setelah itu dia akan pergi namun,,,,
                “Lepaskan dia.” Ucap Justin lemah.
                “Justin. Ku mohon.” Miranda tak tahan untuk tidak menitihkan air matanya.
                “Borgol.” Sang komandan menadahkan tangannya keatas. “Aku yang akan membawanya sendiri secara eksklusif.” Lalu salah satu dari bawahannya memberi benda yang dia minta.
Sang komandan berjalan mendekati Justin dan memborgol tangannya dengan tersenyum meremeh.
“Tidak!” Tangis Miranda semakin pecah saat   polisi-polisi tadi membawa sang kekasih. Sedang Justin sendiri hanya bisa menunduk pasrah.
               
-Flashback Off-

Begitulah perpisahan terjadi pada Justin dan Miranda. 2 tahun berlalu dan tak ada secuil kenangan antara mereka yang Miranda lupakan, tak kan pernah.
Miranda  melangkahkan kakinya tapak demi setapak menjauhi keramaian kota Los Angles, wajahnya selalu lesu tak bersemangat. Justin aku merindukanmu, sangat. Batin Miranda menjerit. Langkahnya terhenti didepan toko kaset yang asing baginya namun lagu ini, lagu yang sedang diputar, dia tau betul ini, lagu yang dulu pernah dinyanyikan Justin untuknya.
G                    BM                  A
yaaah, ohhh no, ooohhh no
G
BM
They say that hate has been sent
                                A
So let loose the talk of love
G                                             BM
Before they outlaw the kiss

Sedikit ragu Miranda masuk ke toko tersebut.
DEG! Jantung Miranda tiba-tiba berdetak kencang.
Miranda mendekati suara music berasal melewati rak-rak yang terpasang kaset bedasarkan genger yang tertata rapi. Suara music semakin jelas terdengar senada dengan jantung Miranda yang semakin berdetak tak terkendali. Disana suara music berasal, pandangan Miranda terhalang oleh sebuah rak kaset bergenger pop-rock, beberapa langkah lagi. Miranda memegangi dadanya, bersiap menerima semua kemungkinan yang terjadi nanti bahkan jika Justin tak ingin kembali padanya lagi, sungguh tak masalah bagi Miranda, yang terpenting adalah dia biasa tau keadaan Justin sekarang.
3 langkah lagi,,
2 langkah lagi,,
Miranda menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara berlahan.
Dan,,,, smua tak seperti yang dibayangkan. Itu hanya sebuah kaset, kaset yang diputar oleh operator toko.
Miranda keluar toko dengan raut kecewa. Mungkin Ella benar, Miranda harus melepaskan Justin, bukan hanya untuknya tapi juga untuk orang-orang disekitar Miranda. Ayahnya, Ibu, juga Ella, selama ini Miranda hanya memikirkan dirinya sendiri, berfikir bertemu Justin kembali hingga tak memperhatikan Ibu serta Ayahnya yang tersiksa dengan sikap dingin Miranda.
Ya,, inilah waktunya berhenti. Miranda harus kembali hidup tanpa Justin. Pasti ada cinta setelah cinta, dia tak bisa berakhir seperti ini. Tuhan itu slalu ada.
Miranda kembali ke toko kaser tadi,,
“Permisi.” Sapanya pada operator toko.
“Sudah memilih lagu yang tepat?” Tangap sang operator toko.
“Tidak. Aku hanya ingin,,,” Miranda mengeluarkan lukisan yang baru saja dia ambil dari Caffe. “Bisakah kau memasang ini ditokomu?”  Miranda menyerahkan lukisan tersebut, sebuah lukisan bercoret pungung seorang lelaki, lukisan yang dulunya hendak diberikan pada Justin.
“Apa?”
“Bantu aku.” Miranda meyakinkan.
“Lukisan yang bagus.” Seorang lelaki setengah baya menghampiri mereka. “Aku Usher, pemilik toko ini.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Berapa harus aku bayar?” tanyanya.
Miranda yang mendengar persetujuan dari sang pemilik toko pun langsung gembira. “Aku hanya ingin ini dipajang didinding kalian. Aku tidak ingin menjualnya.”
“Benarkah?” Usher heran. “Kenapa tidak memasangnya digaleri saja, kau bisa dapat uang.”
 Tanpa berkata lagi Miranda keluar dari toko kaset tersebut.
Ini adalah awal pelepasan untuk Justin. Smua akan tetap berjalan dengan semestinya, tetap tersenyum, tetap mencintai, maka kebahagian akan datang. Dunia terus berjalan tanpa memperdulikan rasamu jadi jangan berhenti karna kamu tak ingin kehilangan. Sesuatu memang akan datang dan pergi dengan sendirinya.

Jumat, 11 Oktober 2013

Just You and Only You


Sebelumnya mau bilang kalau cerita ini pernah aku post di FB JD nama acountnya Bieber’s Story tapi karna aku lupa Password jadi aku gak pernah kesana lagi.
Mohon komentarnya atas story ini.

Hay, Author abal bawa JD OneShoot yang tak kalah ancur.
Pemainnya random banget.

Ada Amerika, Korea, China, Atlanta, campuran German, Indonesia,  pokoknya acak banget  deeeh. Tapi namanya disamarkan ko. Semoga tidak mengecewakan.


SAY NO  TO COPAST.
DON’T BE SILENT READER.

Happy Reading :D


#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

Title       ;              Just You and Only You.
Ganger ;               Romance. (Ga kerasa)
Author ;               Cahya Khosyiah

#*#*#*#*#*#*#*#*#
‘Suatu nanti Kau akan tau bahwa Dia segalanya untukmu’ –Cahya Khosyiah-
Cast :
Justin Bieber
Bae Soo Ji  as Oline Maura




~
~
~


“Perhatikan jalanmu Just!” seorang wanita menegurku dengan suara nyaring yang hampir merusak dendang telinga.

Hay. Namaku Justin Bieber, lekaki kaya, tampan, dan mempesona. Rasanya berat mengatakan bahwa gadis yang membentakku tadi adalah, kekasihku. Gadis galak, jutek dan serampang. Dialah beban hidupku.
Aku juga sering berfikir mengapa aku bisa berpacaran dengannya padahal didalam hatiku tak ada sedikitpun niat mempunyai pacar seorang, Oline Maura. Mungkin aku adalah satu-satu lelaki yang berharap kekasihnya saat ini bukanlah jodohnya dimana depan.
Pernah beberapa kali aku mengalami putus-nyambung dengan Oline tapi kami selalu dipertemukan dalam keadaan yang tak terduga, lalu aku dan Oline menjalin hubungan kembali. Dan lucunya, aku yang meminta dia untuk kembali kepadaku kemudian pada akhirnya aku pula yang menyesal. Melelahkan.
Termasuk saat itu, aku dan Oline baru saja putus , karna takut bertemu dengannya maka aku merencanakan liburan selama seminggu ke London. Dan sialnya, kami tidak sengaja bertemu disebuah pusat perbalanjaan di London. Tak ada pancar kesedihan diwajah Oline padahal baru 3 hari setelah keputusan kami. Usut-demi-usut ternyata dia sedang mengunjungi karabatnya yang tinggal disana. Kenapa aku tak tau dia punya kerabat di London? See, melihat wajahnya yang mandiri dan tegar membuatku merasa aku tak bisa hidup tanpanya. Dan aku melakukannya lagi, kesalahan yang sama untuk yang kesekian kali.
“Kau melamun lagi ya Just?” Oline berdiri garang didepanku sambil melipat kedua tangan didepan dada.
“Sedikit pusing.” Jawabku seadanya. ‘Pusing memikirkan bagaimana kita putus dan tidak bertemu lagi denganmu.’ucapku dalam hati.
“Aku kan sudah bilang, jika kau sibuk tak perlu ikut aku ke Cafe.”
Ohya, aku lupa memberi tahumu bahwa dia bekerja di sebuah Cafe kecil dekat rumahku dan disanalah awal pertemuan kami.
Yang ku sukai dari Oline, dia apa adanya dan tak banyak menuntut.  Jika orang lain pusing memikirkan kekasihnya yang meminta ditemani berbelanja, ke salon, atau tempat membosankan lainya, aku tidak harus repot menghabiskan waktu seharian penuh  untuk bersama Oline.
Aku hanya perlu mengajak dinner Oline saat malam minggu tiba dan bila aku tak melakukannya pun sepertinya Oline tak mempermasalahkan hal tersebut. Aku akan bilang ‘Aku sibuk’ , ‘Aku lelah’ , hanya salah satu dari dua kata tersebut maka Oline akan menerima alasanku.
Karna terlalu cueknya dia kadang aku merasa bosan, aku ingin tantangan pada hubungan kami. Oline tak pernah menghubungiku sebelum aku yang menghubunginya terlebih dahulu. Dia juga tak pernah memperlihatkan gelagat cemburu saat aku berdekatan dengan wanita lain. Oline  mengerti aku adalah seorang Fotografer. Pekerjaaanku  menuntutku dekat dengan semua orang, termasuk model-model cantik. Aku seorang Fotografer tetap di salah satu perusahaan iklan ternama.

Cemburu? Sepertinya satu kata yang mengandung banyak makna. Entahlah, mengapa aku merasa ‘cemburu’ adalah kata yang ampuh agar aku bisa putus dengan Oline dan tidak akan pernah kembali lagi dengannya karna sekuat apapun aku mememohon Oline tak akan menerimaku kembali jadi aku tak takkan menyesal pada akhirnya.
;
;
;
“Hallo.”
“Hay Just, ini Alex. Apa aku mengganggu malammu?.” Alex? Aku menyerit, mencoba mengingat wanita yang bernama Alex. Alex, tetanggaku yang berumur 5 tahun atau Alex, teman Oline berkerja? Tapi, bukankah dia sudah meninggal satu bulan yang lalu akibat sebuah kecelakaan? Tanganku mulai bergetar, berlahan menjauhkan ponsel dari telingaku.
“Kau lupa ya? Aku, Alex model majalah ‘Happen’. Ingat ?” Suara halus dari sebrang sana. Aku berfikir keras mengingat  nama Alex. Seorang model?
“ Ya, aku ingat. Bagaimana kabarmu?” Jawabku mendekatkan lagi ponsel ke telinga kananku setelah ku yakin dia bukan hantu. Dia, Alex Devonar, Model cantik nan ramah.
Aku pernah jadi Fotografer sementara Majalah ‘Heppen’ dan Alex jadi modelnya. Dia memang pernah meminta nomorku, aku yang punya julukan pria terramah tahun 2030 tentu saja langsung memberi yang Alex minta secara percuma.
“Kau sibuk?” Tanya Alex tanpa menjawab pertanyaanku.
“Tidak, ada apa?”
“Aku,,aku,,” Alex dengan suara bergetar, dia seperti sedang menangis.
“Kau kenapa?” Tanyaku  panic. Siapa yang tidak panic ? Tak ada hujan, tak ada angin tiba-tiba seorang wanita menelfonmu dan menangis kepadamu. Alex tidak mungkin meminta pertangungjawaban, memaksaku  menikah dengannya karna aku tak pernah lakukan apapun terhadapnya.
“Aku sedang berada di Light’s Cafe. Setahuku ini dekat dengan rumahmu. Bisakah kau kesini sebentar? Aku butuh kau.”
Sambungan terputus.
Aku menelan ludah dengan berat. Y a Tuhan, cobaan apa lagi ini?
Secepat kilat aku mengambil kunci mobil yang berada diatas meja kamarku. Melajukan mobil ke tempat yang dimaksud Alex dengan segera. Diperjalanan aku sempat berfikir, Light’s Cafe adalah tempat bekerja Oline. Mungkin Tuhan mengirimkan Alex untuk membantuku terbebas dari Oline, tak ada salahnya dicoba.
Tidak lama aku sudah sampai di  Light’s Café. Aku melihat diujung sana ada seorang wanita nampak menagis kesenggukan. Aku menghampirinya ragu, takut kalau aku salah orang. Namun, jika dilihat dari segi penampilannya tentu wanita ini adalah seorang model.
“Alex.” Suara beratku menyapanya.
“Justin.” Dia mendongak dan langsung memelukku erat. “Terima kasih kau sudah datang.” Ucapnya masih dalam pelukan.
“Ada ada denganmu?” Tanyaku seraya melepas pelukan. Aku merasa risih diperlakukan seperti ini, banyak orang yang memusatkan perhatian pada aku dan Alex.
“Maaf.” Ucapnya lirih sambil kembali duduk.
Lalu aku pun mengukuti untuk duduk dikursi sebrang, sebuah meja menjadi pemisah.
“Aku putus dengan Daniel, Just.” Tangis Alex semakin keras.
Aku menengok kiri-kanan , orang-orang sedang menatapku tajam. Sungguh aku tak lakukan apapun kepadanya.
Aku menggaruk tengkuk. Daniel? Siapa dia? Bisakah katakan lebih jelas ?
Seolah bisa membaca raut kebingunanku, Alex berkata, “Dia pacarku, kami sudah menjalin hubungan selama setahun lebih dan dia memutuskanku dengan alasan aku terlalu sibuk menjadi model.” Tangis Alex menjadi-jadi.
Aku menepuk punggungnya pelan. Hanya itu yang bisa ku lakukan.
“Justin.” Suara pelan wanita yang sangat ku kenal.
 Aku dan Alex menaikkan kepala bersamaan.
“Siapa dia, Just?” Tanya Alex padaku.
“Alex, ini pacarku Oline.” Aku memperkenalkan Oline pada Alex bukan memperkenalkan Alex pada Oline. Orang lain mungkin akan mengutukku saat itu juga. Tapi, aku masih santai, bukankah Oline wanita yang pengertian?
“Maaf, aku kira Justin belum punya pacar.” Alex menghapus sisa air mata yang masih tertinggal dipipi.
“Akan ku talfon kau nanti malam jika aku tak sibuk, sekarang aku mau mengantarnya pulang.” Ucapku pada Oline, aku membantu Alex berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan Oline yang masih berdiri dengan posisi yang tak berubah. Kami saling beradu punggung.
;

“Maaf Just. Aku tak tau kau sudah punya kekasih.” Ucap Alex diperjalanan menuju rumahnya.
“Tak masalah, dia cukup pengertian.” Jelasku.
“Benarkah? Apa dia juga akan pengertian jika kau selingkuh?”
Aku diam. Aku tak tau harus jawab apa. Sebuah pertanyaan yang memang tak pantas dijawab.
“Ku rasa kau tak mencintainya Just.”
Aku dan Alex tidak terlalu saling mengenal, bahkan dia baru bertemu Oline pertama kali. Mengapa bisa bersuasi seperti itu?

;
;
Malam tiba. Aku mengendus, ku lihat layar ponsel dan benar! Oline tidak menghubungiku sama-sekali. Wanita lain mungkin akan meminta penjelasan,meneror dengan kata-kata tak terima atau apalah. Tapi Oline?
Biarkan saja. Memangnya aku akan menghubunginya?  Tidak akan. Dia juga tak perduli denganku.
;
;
“Kenapa tak menghubungiku tadi malam?” Oline meletakkan secangkir Capucino  diatas meja. Untuk yang pertama kalinya dia meminta penjelasan atas tindakanku.
“Aku lelah.” Jawabku singkat.
Lalu dia pergi. Sifat aslinya muncul kembali, Cuek dan jutek. Aku tak tau dia cemburu atau tak perduli, dia selalu bersikap seperti itu.
“Hay Just.” Alex menelfonku lagi. “Bisa kita bertemu? Tapi jangan di Café kemarin, aku tak enak dengan kekasihmu.”
“Baiklah. Dimana?” Ada perasaan senang ketika Alex mengajakku bertemu. Dia bukan gadis yang buruk untuk diajak berkencan.
Eh? Kenapa aku berfikir seperti ini? Aku juga tak tau. Hubunganku dengan Oline seolah hilang begitu saja dalam pikiranku saat mendengar  suara merdu Alex.
;
;
;
Aku dan Alex sering bertukar cerita. Dia menceritakan banyak tentang mantan kekasihya , begitu juga dengan aku, aku menceritakan banyak hal tentang hidupku termasuk rahasia dibalik hubunganku dengan Oline. Hingga suatu ketika, Setan apa yang masuk kedalam otakku, saat Alex bilang dia mencintaiku dan aku pun mengatakan bahwa aku juga mencintainya sedang statusku masih berpacaran dengan Oline.
 2 bulan sudah aku menjalin hubungan gelap dengan Alex. Alex mengisi ruang hatiku yang kosong. Ruang yang Oline tak ada disana. Oline berada diruang lain, ruangan yang semakin lama seolah semakin menghilang.
“Kapan kau akan memutuskanOline?” Tanya Alex terkesan memerintah.
“Belum tau.” Aku menaikkan bahu.
“Jika kau tak segera memutuskannya, maka aku akan mengatakan hubungan kita.” Ancam Alex.
Oline tak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Oline selalu menerima apa yang  ku lakukan, selama itu masih didalam norma.
;
;
Hari ini, pagi-pagi sekali aku mendatangi Light’s Café. Aku harus akhiri hubunganku dengan Oline, tak seharusnya aku menghukum Oline dalam hubungan tak berarti ini.
Saat aku masuk ke dapur, teman-teman Oline menatapku dengan garang seolah aku adalah umpan yang siap dimangsa.
“Dimana Oline?” Tanyaku pada mereka, karna sedari tadi mataku menelusuri tak ada Oline disana.
“Belum puaskah kau menyakiti Oline? Sebaiknya kau cepat angkat kaki dari sini sebelum kepalamu menjadi hidangan pembuka.” Leo, salah satu pekerja disini mengebrak meja.
“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Hay, Tuan Biaber yang terhormat.” Liana, pekerja paling tua di Light’s Café, menghampiriku.
“Selingkuhan anda, Model cantik, entah siapa itu namanya. Kemarin datang kemari. Mencaci Oline dengan kasarnya. Mengatakan bahwa Oline tak pantas berpacaran dengan anda. Dan dia juga bilang kalian sudah menjalin hubungan dengan diam-diam selama 2 bulan.”
Alex? Anak itu. Tanganku mengepal. Dia menghancurkan segalanya.

DUG!
Tiba-tiba Rey, teman dekat Oline menendang daguku hingga aku jatuh.
“Kurang baik apa Oline untukmu? Bahkan aku tak menyangka ada gadis sebaik dia. Dia rela mengorbankan perasaanya untuk kebahagianmu. Jika aku jadi Oline, sudah ku bakar kau hidup-hidup.”
;
;
;
Dengan emosi yang meluap aku datang ke Apartemen Alex. Aku memutuskannya saat itu juga. Dia sempat tak terima dengan keputusanku tapi aku tak perduli. Dia sudah menyakiti Oline. Aku tak rela jika ada yang berbicara kasar pada Oline.
;
Satu minggu tlah berlalu sejak kejadian di Light’s Café  dan aku belum punya keberanian untuk datang kerumah Oline atau sekedar menelfonnya. Aku merasa, aku adalah manusia paling tercela.
Aku berada di ruang meeting sekarang. Untuk membicarakan iklan cosmetic yang sedang dipegang perusahaan dan aku jadi Fotografernya.
“Kau putus lagi dengan Oline?” Tanya Bella padaku. Membuat  aku semakin merindukan Oline. Aku ingin bertemu dengannya.
Bella adalah atasanku tapi umurnya setara denganku jadi dia menyuruh akuuntuk memanggilnya Bella saja. Bella selalu tau jika aku punya masalah, jadi tanpa dipaksa pun aku bercerita sendiri kepada Bella tentang masalahku. Dia tau semua tentang hidupku, termasuk Oline.
“Lupakan Oline, Just.” Bella menarik pergelangan tanganku. “Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sejak lama.” Dia terhenti.
“Katakan saja.” Ucapku memberi keyakinan.
“Justin,aku mencintaimu. Tapi, Kau masih berstatus pacar Oline dan kini kalian tak bersama lagi jadi biarkan aku masuk. Aku bisa berikan lebih dari yang kau dapat dari Oline.”
Melihat wajah Bella yang memelas, aku jadi tidak tega. Tapi Aku harus berkata jujur sebelum lebih banyak orang yang ku sakiti.
“Aku menganggapmu sebagai sahabat terbaikku,Bell. Maaf, aku tau mau kehilangan lebih banyak orang lagi.” Aku menolak Bella dengan halus.
;
“Just, sudah bertemu dengan Oline?” Tanya Ben sebelum meeting dimulai.
Aku diam. Sedang tidak mood membicarakan Oline.
“Tadi aku bertemu dia didepan ruangan ini. Saat ku tanya, dia malah lari sambil menangis. Kau ada masalah denganya?”
Oline? Kesini? Menangis? Hatiku semakin sakit saat mendengar ia menangis. Apakah dia menangis untukku? Sungguh Oln, jangan lakukan itu. Jangan buang air matamu dengan percuma untuk lelaki seperti aku.
Aku bergegas keluar ruangan Meeting, tak perduli orang-orang didalamnya. Ben bilang, dia bertemu dengan Oline 5 menit yang lalu jadi kira-kira dia masih di lobi. Aku akan terima jika dipecat, masih banyak pekerjaan lain. Tapi Oline hanya satu di dunia ini.
Aku mencoba membuka pintu lift, tapi tak bisa. Lift masih berjalan. Aku tak sabar, membutuhkan waktu lama jika menunggu. Akhirnya ku putuskan untuk mengunakan tangga menuju lantai satu, aku berada dilantai dua jadi aku masih kuat jika langsung bertemu Oline.

Baru ditengah perlajanan nafasku mulai sesak. Ayo, sedikit lagi Justin, atau kau tak akan bertemu Oline sampai maut menjemputmu.
Aku berusaha keras untuk berlari sekencang mungkin, tapi saat aku di lobi Oline tak ada disana.
Dia sudah keluar gedung? Cepat sekali.
Aku keluar melihat ke penjuru. Mataku terhenti disebuah Halte Bus. Oline  sedang menangis, kepalanya bersender pada tiang seolah beban yang ada ditubuhnya sangat berat.
“Oline, dengarkan aku.” Aku berjongkok didepannya, tapi Oline diam, mengabaikanku.
Dia menangis, tak pernah ku lihat Oline sesedih ini. Matanya menerawang  jauh seolah aku tak ada di depannya.
“Kenapa kau lakukan ini padaku,Just?” Akhirnya Oline berucap, meski bukan kata yang indah tapi aku cukup senang karna dia masih menganggapku ada.
“Aku tak tau, Oln. Aku minta maaf. Aku hanya kesepian. Tapi aku sudah menagkhiri hubunganku dengan Alex.” Jelasku.
“Bukan,,,bukan,,,” Oline menggelengkan kepala sambil  menangis.
Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Tolong jangan menangis, itu terlalu berlebihan jika kau melakunnya karnaku. Aku tertunduk tak kuasa melihat wajahnya yang terus basah.
“Kenapa kau tak bilang hidupmu tersiksa selama 3 tahun bersamaku?”
DERR! Ucapan Oline bagai petir menyambar ulu hatiku. Dari mana dia tau?
“Alex mengatakannya padaku. Awalnya Aku hanya ingin minta maaf, tapi setelah melihatmu dengan Bella, apapun yang ku lakukan sepertinya tak ada gunanya.” Oline kesenggukan.
“Aku rela jika kau bahagia dengan Alex, atau dengan Bella, atau siapapun yang lebih baik dari pada aku. Aku hanya sakit karna kau tak berkata jujur padaku, Just. Tau bagaimana rasanya menyiksa orang yang kau cintai tanpa kau sadari? Sakit, Just. Disini.” Cassie menunjukkan hatinya. Aku sudah merasakanya Oline. Aku mencintaimu dan sungguh menyakitkan melihatmu kecewa karnaku.
“Apa kau berniat membalasku dengan berselingkuh? Selamat Kau berhasil.” Sesekali Oline mencoba mentralkan suaranya agar terdengar jelas.
“Oh, mungkin tidak. Kau bahkan tak pernah menganggapku ada, kau tak mencintaiku, kau hanya kasian karna aku tak pernah punya kekasih selain dirimu. Pernah kah kau berfikir? Kau yang membuat aku tak bisa lepas darimu, aku tak bisa Cintai laki-laki lain, Just. Mengertilah.”
Aku tak sanggup. Mendengar curahan hatinya. Hentikan Oline! Jangan buatku semakin sakit.
“Justin Drew Bieber, Kita berakhir. Selamanya! Seperti yang kau inginkan, aku tak kan pernah kembali padamu meski sekuat apapun kau meminta. Maaf menjadi beban hidupmu.” Oline pergi dariku, meninggalkan banyak kata untukku cerna.
“OLINE!” Aku berteriak memanggil namanya . Bus membawanya menjauh, jauh, dan jauh.
Saat itulah aku tersadar, aku bukan siapa-siapa tanpa Oline. Dia memang tidak seperti gadis lainnya, Oline istimewa, dia mencintaiku dengan caranya, cara yang istimewa.
Aku mengejar Bus tadi hingga sekitar 20 meter dari Halte Bus. Ini konyol, aku tak kan bisa meraihnya. Tak kan pernah bisa.
Nafasku terengah-engah, dadaku semakin sesak. Aku menghentikan sebuah Taxi untuk membawaku ke rumah Oline bukan Rumah Sakit. Aku memegangi dadaku yang semakin sakit.

‘Tuhan, tolong jangan sekarang’. Sungguh, aku ingin menangis.

30 menit. Aku sudah berada didepan rumah Oline. Dari luar gerbang aku bisa tau Oline mengetahui kedatangan, ku lihat dia menutup korden kembali saat pandanganku bertemu dengan sosoknya yang mengintipku dari balik jendela.
“Maafkan aku.” suaraku mulai melemah.
Kurasakan tubuhku berat,kapala pusing, dan aku tersungkur.
Ku dengar suara langkah kaki datang menghampiriku.
“Justin bangun.” Dia mengoyang-goyangkan tubuhku sambil menangis histeris. Aku kenal dia, sangat.
Aku tak berharap lebih. Dimaafkan? Itu terlalu muluk untuku. Aku hanya ingin mengatakan satu hal bahwa ‘Aku sangat mencintainya’ tapi aku tak punya daya. Mengerakan bibir saja aku tak bisa.
“Kak Zayn, tolong Justin.” Oline menjerit meminta pertolongan pada seseorang yang dianggap kakak.
Lalu semua terasa gelap, aku berada dialam bawah sadarku.
Berlahan aku merasakan ada cahaya yang masuk lewat kelopak mataku memaksanya untuk terbuka sedikit-demi-sedikit.
Aku merasakan ada sebuah tangan yang mengengam jemariku dengan hangat. Oline, aku masih ingat betul sentuhan tangannya. Dia sedang  tidur membungkuk di kursi sisiku, menyebunyikan wajahnya.
“Kau sudah bangun?” Zayn, kakak Oline berdiri didepan pintu sambil tersenyum simpul.
Aku mengangguk kecil, masih belum sanggup melakukan lebih.

Sebenarnya Zayn bukanlah kakak kandung Oline.  Orang tua mereka bersahabat dekat, jadi orang tua Oline penduduk Korea menitipkan anaknya untuk bersekolah di Amerika. Seiring berjalannya waktu Oline merasa betah disini Ia pun memutuskan untuk menetap tinggal di Amerika bersama keluarga Zayn. Tentu saja alasan utama Oline adalah aku,dan menyesalnya aku mengecewakan Oline. Zayn juga sudah mempunyai kekasih yang amat dicintai, Selena namanya jadi aku tak pernah khawatir mereka –Oline dan Zayn akan saling jatuh cinta.

“15 jam kau tak sadarkan diri. Kau punya Asma ya?” Tanyanya lagi, berjalan mendekat.
“Hanya jika terlalu lelah dia akan kambuh.” Jawabku lirih.
“Sudah tau, kau punya penyakit berat. Masih melakukan hal beresiko.”
Aku hanya tersenyum menaggapi ucapan Zayn.
“Dia.” Zayn melempar pandangan ke Oline.
Aku dan Zayn tersenyum kecil bersama, melihat Oline yang tidur dengan pulasnya meski dalam posisi yang  tidak nyaman.
“Aku mencintainya.” Ucapku singkat.  “Tapi aku tak pantas bersamanya. Dia berhak dapat yang lebih baik, sepertinya dia pun tak begitu mencintaiku.” Lanjutku lagi.
“Dia mencintaimu, amat sangat.” Ucap Zayn jelas dan padat, membuatku sedikit tak percaya.
“Tapi Oline tak parnah cemburu bila aku berdekatan dengan gadis lain.”
“Kau salah. Setiap hari dia menceritakan padaku perkembangan hubungannya denganmu. Dia melakukannya karna tak mau menjadi beban untukmu, menjadi pacarmu saja sudah anugrah terbesar dalam hidupnya. Dia takut kehilanganmu Just.” Zayn memberi jeda ucapannya.
“Mencoba menjadi sosok sempurna untukmu, mengerti dan memahamimu sebisa mungkin. Sebenarnya hampir disetiap malam dia menangis menjerit saat Kau dekat dengan banyak Model. Ya, itulah pekerjaanmu dan dia harus menerima resiko berpacaran dengan seorang Fotografer.” Ucapan Zayn terhenti lagi, aku masih setia mendengarnya, aku menunggu lebih banyak.
“Ketika putus denganmu,,” Zayn tertawa samar. Aku tau mengapa, tentu saja karna aku dan Oline mengalami putus-nyambung beberapa kali. “Dia pergi ke London sendiri padahal saat itu dia sedang tak punya banyak uang dan dia lakukan itu hanya untuk menghindar darimu. Tak bertemu dengamu selama semingu mungkin bisa melupakan kau dengan cepat.”
Dari sekian kata Zayn, ini adalah yang paling sulit ku terima.
“Bukannya Dia sedang berkunjung ke rumah kerabat?” Tanyaku. Aku masih ingat betul bahwa Oline berkata Dia sedang berkunjung kerumah kerabatnya saat itu.
“Hahag,,” Zayn tertawa terbahak. “Dia tidak punya orang  terdekat apalagi kerabat diluar Korea, aku adalah satu-satunya.”
Ucapan Zayn membuatku terkejut bukan kepalang. Oline membohongiku. Lihat saja nanti, ku pasti dia berakhir ditanganku.
“Ehhh,,,” Oline mengeliat, sepertinya tawa Zayn membuat Adiknya terbangun.
“Kau sudah sadar, Sayang? Eh,, maksudku Justin.”
Jantungku berdebar hebat saat Oline memanggilku ‘Sayang’, ini untuk yang pertama kalinya dalam 3 tahun kami berpacaran dia memanggilku ‘Sayang’. Rasanya Aku ingin melompat kegirangan saat itu juga. Menari hula-hula atau dance ala Michael Jackson.
“Aku akan bawakan makanan untukmu.” Zayn berlalu dibalik pintu memberi kesempatan untuk  aku dan Oline.
Kulihat mata Oline yang merah dan sembab. Entah, karna tidak tidur semalaman atau menagis karna melihat keadaanku . Keduanya, mungkin lebih tepat.
Aku membelai pipi bawah mata Oline yang kusam dan berminyak. Sudah berapa hari dia tak membersihkan diri? Dasar wanita jorok.
Dia memegang tanganku,menghentikan kegiatan yang aku nikmati.
“Kita sudah saling mengenal lebih dari 3 tahun jadi kau pasti tau bagaimana baik dan buruknya aku.”
Oline masih menatap mataku menunggu kelanjutan dari ucapanku.
 “Aku juga tau ini bukan tempat yang tepat mengatakannya.”
“Katakan Just .” Oline dengan nada sedikit kasar, mungkin dia sudah geram dengan ucapanku yang berputar-putar.
“Would You marry Me, Oline Maura, please.” Nadaku lemah, memohon.
“Tidak.” Jawabnya singkat.
“Aku memang cuek, tapi aku juga mau dilamar ditempat romantic , lampu-lampu berwarna mengelilingi, bunga-bunga indah menghiasi dan,,,,”
Aku menaruh telunjukku didepan bibirnya.
“Aku akan melakukannya setelah keluar dari sini. Sekarang, kau hanya jawab YA atau TIDAK.”
“Kalau begitu aku juga akan menjawabnya saat kau keluar dari sini.”
Dia benar-benar membuatku gemas. Aku menarik tangannya membuat tubuh Oline jatuh ke tubuhku. Aku tau semburan merah tlah menyeruak ke wajah manisnya.
“Aku anggap itu jawaban untuk YA.” Ucapku terkesan memaksa.
Aku merasakan pelukan hangat dari Oline, tak akan pernah membiarkan dia lepas dari sisiku.
“Kau berat sekali. Saat kau jadi Mrs.Bieber nanti, cobalah untuk Diet. Aku tak mau punya istri jelek, jorok, dan gendut.” Ucapku bercanda.
“Kau.” Ucapnya halus sambil mencubit perutku. Suara terindah yang pernah ku dengar dari seorang wanita selain Ibuku. Aku mencintai Oline, sangat.
;
;
;
Dan sekarang aku tau mengapa Tuhan slalu mempertemukan kami disaat yang tak terduga, karna dia adalah wanita berharga. Dia, Oline Maura adalah seorang yang diciptakan Tuhan untukku.


Caitlin Beadles AS Bella
Katie lieung as Rey
Patricia Lynn Mallete AS Liana
Ryan AS Ben
Sylvia Fully AS Alex
zayn malik


~
Kritik dan saran ya. :D