Minggu, 27 Oktober 2013

2 year of love



Title       : 2 Year of Love
Author  : Cahya Khosyiah / @snowwhite679
Cast       : Justin Bieber
                 Miranda cosgrove
Sub Cast: Usher


=             +             =             +             =             +             =             +             =


Seorang gadis berambut coklat matang, menatap binar pemandangan laut nan indah didepannya. Masa lalu biarlah masa lalu, mari kita jalani yang akan terjadi saat ini, jika kita ditakdirkan bertemu maka kita akan bertemu, tak ada yang bisa menolak kehendak Tuhan.
Ini yang Miranda sukai, mengamati yang ombak yang bergerak teratur senada dengan angin, melihat burung-burung yang terbang mengikuti matahari terbenam, langit yang berwarna orange dan senja yang indah.
                Sesungguhnya ia ingin disini lebih lama namun matahari tlah terbenam, artinya malam tlah tiba. Selamat tinggal senja. Miranda melangkahkan kakinya ke tempat yang memberinya kenangan indah, tempat dimana pertama kali Justin mengajaknya berkencan. Miranda percaya jika suatu saat nanti Justin akan kembali mengajaknya kesini.
                “Kenapa kau tidak mencoba untuk kerumahnya.” Seorang waitress menghampiri Miranda. Ia adalah Elle teman Miranda. Mereka menjadi dekat sejak Miranda sering datang ke caffe ini, lebih tepatnya 2 tahun yang lalu. Hari-hari dimana Miranda hidup tanpa Justin.
                “Jika aku tau dimana ia tinggal.” Jawab Miranda.
                “Pecundang.”
                “Kau bicara padaku?” Miranda menaikkan satu alisnya.
                “Tentu saja. Bagaimana kau nisa menunggu seorang yang belum begitu kau kenal lebih dari 2 tahun.” Elle menjelaskan maksudnya.
                “Dia tak ingin aku mengetahui siapa dia.” Miranda tertunduk, inilah yang menjadi kesedihan Miranda. Dia tak tau apapun tentang lelaki yang ia cintai. Justin tak pernah bercerita apapun tentang hidupnya, harinya, keluarga bahkan rumahnya.
                “Nah! Itu dia. Apa yang terjadi jika dia pengedar narkoba tingkat internasional, penyelundup, atau yang lebih parah dia adalah teroris Amerika.”
                “Tidak seburuk itu Ell.” Miranda menepis pikiran buruk tentang Justin.
                “Hey! Kau sendiri yang bilang dia dikejar polisi lalu pergi bersama mereka dan belum kembali sampai sekarang. Mungkin saja mereka sudah memenggal kepala Justin.”
                “Mungkin dia adalah pencuri, perampok, atau pembunuh tapi ku mohon jangan penyelundup. Karna jika dia pembunuh dia bisa dibebaskan namun jika dia penyelundup Justin takkan pernah kembali.”
                “Kepalaku sakit. Aku pikir dunia sudah gila, ada wanita sepertimu.” Tanggapan Elle atas keresahan Miranda.

Justin Bieber, sosok ini tak pernah lepas dari diri Miranda walau hanya sedetik. Justin slalu ada disetiap saat Miranda membuka mata juga saat gadis ini menutup mata, siang dan malam, setiap angin yang berhembus nama Justin, setiap detak jantung yang mendetakkan nama Justin. Miranda menikmati ini meski sesungguhnya dia tersiksa. Seperti ada makhluk yang secara sengaja menggerogoti dadanya. Tapi Miranda tak bisa melepas itu karna ia sadar, saat Miranda melepas rasa sakit itu maka Justin juga akan ikut pergi.

-Flashback-
                “Berhenti kau!” Sekelompok polisi terlihat sedang mengejar seorang. “Pada tembakan ke 3 kau harus berhenti.”
DOR,DOR,DOR!
Tembakan bebas tlah dilepaskan, namun itu tak membuat Justin gentar. Dia masih semangat untuk berlari.
                “Apa kau tak bisa berhitung? Itu adalah tembakan ke 9.”  Justin justru merespon ancaman polisi-polisi tadi dengan  candaan.
               
                “Sebagian ikuti aku, yang lain pakai jalan pintas didepan.” Perintah seorang yang sepertinya adalah komandan dari mereka.
Polisi-polisi tadi berpencar, kali ini mereka tak boleh gagal lagi menangkap Justin. Sudah cukup mereka ditertawakan rekan yang lain, bahkan kabar ini sudah sampai pada tingkat  keamanan khusus.
Justin berlari ke arah gang kecil diantara perumahan,  “Dasar polisi-polisi bodoh, aku tak kan menyerah.” Dalam kasus melepaskan diri dari kejaran polisi, Justin memang amat ahli. 2 kali hampir tertangkap dan 15 kali slalu lolos, bukankah itu hebat?
Namun kali ini sepertinya dia takkan lolos, mereka mengirim lebih dari 20 aparat dalam sekali kejaran. Justin mencoba naik ketembok untuk menghindari mereka, mungkin dia harus masuk kesalah satu rumah yang ada disana, sayangnya polisi-polisi itu ada dimana-mana. Mereka menggeledahi setiap sudut perumahan.
Dilihatnya seorang gadis yang sedang melukis. Tak ada pilihan lain, Justin masuk ke kamar gadis tersebut dengan licah, diluar dukaan Justin gadis tersebut justru tak berekspresesi sedikitpun padahal Justin sudah menyiapkan senjata jika gadis tersebut mulai tak terkendali.
                “Kau tidak berteriak?” Tanya Justin ragu.
                “Ku dengar ada seorang lelaki yang dikejar polisi.” Jawab gadis tersebut dengan santai.
                “Jadi kau bersedia membantuku?”
Gadis tersebut diam tak menjawab.
Justin membuka almari mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan dan Ya, Justin menemukannya. Mantel hitam panjang milik sang gadis, Justin mengenakan itu ke tubuhnya.
Tok,Tok,Tok.
                “Bantuan yang sesungguhnya baru dimulai.” Ucap Justin tersenyum.
Srek,,
Seseorang dari luar membuka pintu kamar, dilihat dari cara membuka pintu Justin bisa tahu bahwa polisi-polisi itu ada disini.
Dengan gerakan cepat Justin berdiri membelakangi pintu kemudian meletakkan tangan kanannya ke leher sang gadis lalu menarik kepalanya mendekat kearah Justin.
CUP,,
Sebuah kecupan dari Justin dilakukan dengan singgkat karna sang gadis buru-buru menghindar, belum 2 centi gadis tersebut menjauhkan bibirnya Justin kembali menarik kepalanya.
“Maaf,,” Polisi tadi kembali menutup pintu kamar.
Justin mencium bibir sang gadis dengan hangat, sebuah kecupan mungkin dilakukan untuk menyelamatkan diri namun ciuman ini dilakukan dengan sengaja. Justin belum pernah merasakan perasaan setenang dan selembut ini sebelumnya. Sang gadis membalas ciuman Justin dan itu membuatnya semakin menikmati  ciuman ini. Justin menjelajahi setiap sudut bibir gadis tersebut dengan bibirnya secara lembut.
                “Ku rasa mereka sudah pergi.” Gadis tersebut melepas ciuman.
Justin mundur beberapa langkah, “Baiklah. Aku harus pergi.” Justin tersenyum kikuk, ini membuatnya salah tingkah. Buru-buru dia melompat keluar jendela dan berlari.
                “Aku Miranda.” Teriak sang gadis sebelum Justin bener-benar berlari menjauh.
                “Last Night Caffe jam 7.” Teriak Justin pada Miranda.

Keesokan harinya, Miranda datang ke Last Night Caffe secepat mungkin untuk menemui Justin bahkan ini baru jam 6.30. Dan sepertinya bukan hanya Miranda yang datang lebih awal namun Justin juga sudah berada disana.
                “Hay,” sapa Miranda. “Menunggu lama?”
                “Tidak juga, aku baru datang.” Nah,, yang ini Justin berbohong, sebenarnya dia berada disini pada pukul 6 tadi.
                “Ku pikir aku terlalu bersemangat.” Miranda duduk dibangku bersebrangan.
                “Mungkin lebih tepatnya kita.” Timpal Justin. “Kau percaya pada cinta pada ciuman pertama?”
                “Cinta pada pandangan pertama, maksudmu?” Miranda memiringkan sedikit kepalanya tanda tak mengerti.
                “Cinta ciuman pertama. Jujur sejak ciuman kemarin aku merasa ada yang berbeda didalam diriku. Apa kau merasakannya juga?” Justin memperjelas ucapannya.
                “Bagaimana aku bisa percaya pada orang yang belum ku ketahui namanya.” Ucap Miranda sambil mengaduk latte yang ada didepannya.
                “Aku Justin.” Justin memberikan sebucket bunga mawar putih.
                “Sebenarnya itu adalah ciuman pertamaku.” Miranda tersipu.
                “Sebelum kita berjalan terlalu jauh ada yang harus ku katakan padamu.” Justin mengenggam tangan Miranda. “Jangan tanya apaun tentang diriku karna jika kau bertanya maka kita berakhir. Aku akan katakan jika aku menginginkannya.”
                “Anda sombong sekali.” Miranda menarik tangannya dari tangan Justin.
                “Aku serius. Apa aku terlalu terburub-buru?”
                “Atau aku harus mengatakkan kau sangat keren.” Miranda tersenyum manis.
                “Menurutmu aku keren?”
                “Aku tak kan mau dicium orang sembarangan jika kau tidak keren.”

                Sejak hari itu hubungan Justin dan Miranda semakin dekat, Justin slalu datang pada malam hari ke kamar Miranda secara diam-diam. Meskipun begitu entah darimana Justin bisa tau kegiatan Miranda pada siang hari. Dan Miranda menanggapi hal itu dengan sebiasa mungkin. Bukankah awalnya Justin sudah memperingatkan Miranda?
                Hari ini secara khusus Miranda mengajak Justin bertemu di Last Night Caffe, dia tak sendiri sebuah lukisan menemani langkahnya menemui sang kekasih. Miranda tau memang sulit menemui Justin pada siang hari namun dia juga tak bisa menunggu sampai malam, jadi dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan Justin tak datang.
                “Ada apa?” Miranda menolehkan kepalanya kearah suara tersebut berasal.
                “Aku seperti berpacaran dengan seorang vampire.” dilihatnya Justin sedang berdiri dibelakangnya. Miranda memang sempat berfikir bahwa Justin adalah seorang vampire yang tidak bisa terkena cahaya matahari, Miranda pasti sudah gila berfikir seperti itu. Ini adalah dunia nyata, bukan fiksi maupun film.
                “Mungkin aku harus kembali.” Justin membalikkan tubuhnya, dengan segera Miranda menarik tangan Justin.
                “Aku tau kau hanya bercanda. Duduklah.” Perintah Miranda. “Aku ingin kau memiliki ini.” Miranda menyerahkan karya lukisnya pada Justin. Sebuah coretan tangan bergambar punggung, bisa ditebak bahwa itu adalah punngung Justin dia mengenakan mantel hitam, sama dengan mantel Miranda yang dipakai Justin tempo hari.
                “Apa wajahku kurang tampan? Kenapa kau melukis punggungku? Aku merasa terhina.” Justin mengomentari lukisan Miranda. Justin yang tidak menpunyai jiwa seni tentu saja menyebut itu aneh. Seharusnya Miranda melukis ketampanan wajah Justin yang mempesona jika seketsa punggung siapa yang tau bahwa ini adalah punggung Justin.
                “Karna slama ini aku hanya melihat punggungmu, kau slalu berada didepanku,kau slalu berusaha untuk pergi dan menghindariku.” Ucap Miranda santai, kekecewaan tak ditampakkan didepan Justin tapi ucapan itu cukup membuat Justin bersalah.
                “Percayalah, ini akan segera berakhir.” Justin menggenggam tangan halus Miranda lalu mengusap rambut sang gadis dengan tangan yang lain.

                “Akhirnya kita bertemu.” Seorang polisi datang menghampiri mereka secara tiba-tiba, membuat suasana menengang
Justin mengeratkan genggaman, Miranda tau itu bertanda buruk.
                “Mari selesaikan ini dengan halus.” Polisi tersebut mengetukkan tongkat ke atas meja.
Justin mengendorkan otot ketegangan yang terlihat jelas diwajahnya, berlahan ia melepaskan jarinya dari tangan Miranda satu persatu.
‘1,,,,
2,,,,
3,,,,’
Justin menarik tangan Miranda untuk berlari keluar Caffe secepat mungkin, dan polisi itupun mengejar Justin dan Miranda. Mereka melewati terongan kecil antara pergedungan. Tujuan mereka adalah pelabuhan, kapal terakhir akan berangkat dalam sepuluh menit jadi Justin serta Miranda harus bergegas. Kapal tersebut satu-satunya cara untuk menghindar dan melenyapkan jejak.
                “Lukisannya,,,” Miranda berhenti ditengan jalan.
                “Kita akan kembali.” Balas Justin.
                “Tidak, Aku sengaja menulis alamat oranatuaku agar kau bisa berkunjung. Mereka bisa melacaknya.”
                “Kau ke kapal dengan jalur lain. Aku akan mengambilnya.” Tanpa berkata lebih banyak Justin segera pergi meninggalkan Miranda.
Justin dan Miranda berjalan terpisah, Justin kembali ke caffe untuk mengambil lukisannya sedang Miranda berlari menuju pelabuhan melalui jalan raya. Tidak disanggka polisi tadi tak hanya sendiri beberapa orang mengejar Miranda sedang komandannya sendiri mengikuti Justin. Sayangnya usaha Justin terbuang dengan percuma, setelah sampai caffe tadi lukisan dari Miranda sudah tak ada.
                “Permisi,,” Justin menghampiri conter caffe. “Lukisan di meja 9, apakah kalian melihatnya?”
                “Tenang saja kami menyimpannya,,” jawabnya dengan senyum, conter tadi berbalik untuk mengambil lukisan itu namun tak ada waktu polisi semakin mendakat.
                “Simpan itu untukku, jangan berikan pada orang lain selain aku atau kekasihku sampai ajal menjemputmu.” Pesan Justin lalu dia pergi mengunakan pintu belakang, Justin mendobrak paksa pintu kayu yang terkunci.

Ditempat lain,,,
Miranda berlari sekuat yang dia bisa, cerobong kapal tanda keberangkatan tlah berbunyi namun Justin belum juga bersamanya. Miranda merasa sedih akan itu. Sakit rasanya, sesak didada, sulit untuk bernafas. Apakah Justin menghianatinya? Melupakan Miranda? Namun pikiran buruk segera ditepis oleh Mirabda, apapun itu Miranda harus lepas dari polisi-polisi ini terlebih dahulu.
Miranda masuk kedalam kapal untuk melabui polisi, naik ke atas mengunakan tangga, berlari menghindar dengan jalur yang sama, dikira sudah cukup, Miranda melompat dari kapal ke daratan yang jaraknya 5 meter lebih, kakinya bertumpu pada pagar. Dan berhasil, polisi-polisi tadi mengumpatkan kekesalan.
                “Dia bukan gadis biasa.” Ucap salah satu dari mereka.
Miranda melompat gembira, menjulurkan lidah, juga melambaikan tangan pada mereka, sungguh ekspresi yang berlebihan atau tidak juga karna ini adalah untuk yang pertama kalinya Miranda melakukan perbuatan ekstrim, ia harus dapatkan penghargaan untuk ini. Dan penghargaannya tlah datang, Justin menghampirinya dengan senyum.
                “Aku ingin bilang jangan khawatir tapi sepertinya tak perlu, kau nampak menikmatinya.” Ucap Justin.
                “Justin!” Miranda menyerang Justin dengan pelukan.
Justin pun tak hanya diam, dia membalas pelukan sang kekasih. Namun seketika mereka tersadar kembali bahwa ini bukan waktunya untuk bersantai.
                “Ayo.” Justin segera mengandeng Miranda untuk berlari dan sialnya poisi-polisi yang mengejar mereka belum juga menyerah.
DUAR!
Satu tembakan bebas dikeluarkan oleh mereka. “Berhenti! Kami bilang!”
                “Jangan perdulikan, mereka takkan berani menembak kita.” Justin dengan entengnya mengucapkan itu diselingi dengan senyuman.
Justin serta Miranda terus berlari membabi buta sampai pada akhirnya Miranda terjatuh karna sepatu hag yang dia pakai patah. Keduanya menjadi panic.
                “Justin,,” Ucap Miranda lirih.
Polisi yang mengejar mereka semakin mendekat.
                “Aku tak apa, kau harus tetap lari.” Ucap Miranda lagi.
Justin memutuskan untuk menolong Miranda. Tapi dia kalah cepat dengan polisi-polisi itu 2 orang dari mereka sigap  menangkap Miranda.
                “LARI JUSTIN!” Miranda berteriak.
                “Jika kau pergi, kalian berdua dalam posisi tidak aman.” Ucap sang komandan.
                “Jangan perdulikan mereka!” Miranda lagi.
                “Aku menebak dia tak tahu apapun tentangmu. Jika kau menyerahkan diri Aku akan melepaskan dia dengan mudah tanpa beban.” Komandan mendekati Justin.
                Ingin rasanya Justin menghampiri Miranda dan menolongnya namun keadaan akan semakin memburu jik a dia menyerahkan diri sedang jika dia tak kembali Miranda akan dalam masalah dan Justin tak mau itu terjadi.
                “Apapun itu aku percaya padamu jadi pergilah.” Ucap Miranda tenang.
                Justin berfikir dengan matang, ini bukan tentang dirinya lagi. Ini tentang Miranda dan hidup smua orang. Dia hanya ingin menyelesaikan ini sampai tuntas setelah itu dia akan pergi namun,,,,
                “Lepaskan dia.” Ucap Justin lemah.
                “Justin. Ku mohon.” Miranda tak tahan untuk tidak menitihkan air matanya.
                “Borgol.” Sang komandan menadahkan tangannya keatas. “Aku yang akan membawanya sendiri secara eksklusif.” Lalu salah satu dari bawahannya memberi benda yang dia minta.
Sang komandan berjalan mendekati Justin dan memborgol tangannya dengan tersenyum meremeh.
“Tidak!” Tangis Miranda semakin pecah saat   polisi-polisi tadi membawa sang kekasih. Sedang Justin sendiri hanya bisa menunduk pasrah.
               
-Flashback Off-

Begitulah perpisahan terjadi pada Justin dan Miranda. 2 tahun berlalu dan tak ada secuil kenangan antara mereka yang Miranda lupakan, tak kan pernah.
Miranda  melangkahkan kakinya tapak demi setapak menjauhi keramaian kota Los Angles, wajahnya selalu lesu tak bersemangat. Justin aku merindukanmu, sangat. Batin Miranda menjerit. Langkahnya terhenti didepan toko kaset yang asing baginya namun lagu ini, lagu yang sedang diputar, dia tau betul ini, lagu yang dulu pernah dinyanyikan Justin untuknya.
G                    BM                  A
yaaah, ohhh no, ooohhh no
G
BM
They say that hate has been sent
                                A
So let loose the talk of love
G                                             BM
Before they outlaw the kiss

Sedikit ragu Miranda masuk ke toko tersebut.
DEG! Jantung Miranda tiba-tiba berdetak kencang.
Miranda mendekati suara music berasal melewati rak-rak yang terpasang kaset bedasarkan genger yang tertata rapi. Suara music semakin jelas terdengar senada dengan jantung Miranda yang semakin berdetak tak terkendali. Disana suara music berasal, pandangan Miranda terhalang oleh sebuah rak kaset bergenger pop-rock, beberapa langkah lagi. Miranda memegangi dadanya, bersiap menerima semua kemungkinan yang terjadi nanti bahkan jika Justin tak ingin kembali padanya lagi, sungguh tak masalah bagi Miranda, yang terpenting adalah dia biasa tau keadaan Justin sekarang.
3 langkah lagi,,
2 langkah lagi,,
Miranda menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara berlahan.
Dan,,,, smua tak seperti yang dibayangkan. Itu hanya sebuah kaset, kaset yang diputar oleh operator toko.
Miranda keluar toko dengan raut kecewa. Mungkin Ella benar, Miranda harus melepaskan Justin, bukan hanya untuknya tapi juga untuk orang-orang disekitar Miranda. Ayahnya, Ibu, juga Ella, selama ini Miranda hanya memikirkan dirinya sendiri, berfikir bertemu Justin kembali hingga tak memperhatikan Ibu serta Ayahnya yang tersiksa dengan sikap dingin Miranda.
Ya,, inilah waktunya berhenti. Miranda harus kembali hidup tanpa Justin. Pasti ada cinta setelah cinta, dia tak bisa berakhir seperti ini. Tuhan itu slalu ada.
Miranda kembali ke toko kaser tadi,,
“Permisi.” Sapanya pada operator toko.
“Sudah memilih lagu yang tepat?” Tangap sang operator toko.
“Tidak. Aku hanya ingin,,,” Miranda mengeluarkan lukisan yang baru saja dia ambil dari Caffe. “Bisakah kau memasang ini ditokomu?”  Miranda menyerahkan lukisan tersebut, sebuah lukisan bercoret pungung seorang lelaki, lukisan yang dulunya hendak diberikan pada Justin.
“Apa?”
“Bantu aku.” Miranda meyakinkan.
“Lukisan yang bagus.” Seorang lelaki setengah baya menghampiri mereka. “Aku Usher, pemilik toko ini.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Berapa harus aku bayar?” tanyanya.
Miranda yang mendengar persetujuan dari sang pemilik toko pun langsung gembira. “Aku hanya ingin ini dipajang didinding kalian. Aku tidak ingin menjualnya.”
“Benarkah?” Usher heran. “Kenapa tidak memasangnya digaleri saja, kau bisa dapat uang.”
 Tanpa berkata lagi Miranda keluar dari toko kaset tersebut.
Ini adalah awal pelepasan untuk Justin. Smua akan tetap berjalan dengan semestinya, tetap tersenyum, tetap mencintai, maka kebahagian akan datang. Dunia terus berjalan tanpa memperdulikan rasamu jadi jangan berhenti karna kamu tak ingin kehilangan. Sesuatu memang akan datang dan pergi dengan sendirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar