Senin, 12 Mei 2014

Jangan Takut Pada Hujan


Author   : Cahya Khosyiah / @snowwhite679
Title        : Don’t be Afraid of Rain
Cast         : - Niji Erika (OC. Boleh kamu, boleh temen kamu, boleh tentangga kamu)
                  - Justin Bieber  AS Justin
Sub-Cast:  -Usher AS Your Uncle
                     -Nial Horan AS Your Bestfriend
Genger   : romance (kayanya), sad (gagal), hurt (ga yakin).
PG           : 19+




=              =              =              =              =
-Aku tak akan pernah takut pada hujan karna hujan menyatukan kita, karna akan ada pelangi setelah hujan, akan ada warna setelah mendung, ada senyum setelah tangis. Aku menunggu senyummu yang akan cerahkan hariku, Justin.-
=              =              =              =              =


-Niji Erika (You) POV-
Niji Erika, itu lah namaku. Aku seorang yatim piatu yang diasuh paman terbaik di dunia. Bohong jika aku berkata hidupku sempurana, aku benci adik dari ayahku tersebut. Dia amat sangat  protektif. Setiap hari Aku slalu berteriak padanya tapi sejujurnya itulah caraku berterimakasih.
 “Aku benci kau paman” artinya “Aku mencintaimu paman.”
“Berhenti mengangguku” artinya “Jangan berhenti mencintaiku.”
Kegiatan belajar di sekolah tlah usai, aku berjalan santai menuju gerbang,   seketika langkahku terhenti karna melihat pemandangan yang tak asing lagi. Ya, inilah yang aku benci dari pamanku, HE’S OVERPROTEKTIF.
“Mereka lagi?” Aku mengendus kesal. Ku mengeluarkan benda pipih dari saku mantel hitamku. Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini bahwa aku tidak suka dia menaruh orang-orang didepan sekolahku, sebenarnya ini lebih baik dari pada saat aku masih kelas satu, saat dia menaruh mereka di depan kelasku, tapi tetap saja aku tidak suka. Aku bukan anak Presiden.
“Aku sudah bilang untuk menghentikan ini. Kapan paman mengerti?” Ucapku setengah berteriak pada orang disebrang sana.
“Kau sudah sampai rumah? Aku sedang diluar.”
Aku tidak percaya ini, bersikap seolah dia tak bersalah.
“Kau tau kenapa tidak ada yang mengajakku pulang bersama? Kenapa tidak ada yang mengajakku kencan?”
“Karna mereka merasa tidak pantas bersamamu dan itu benar mereka harus merasa seperti itu.” jawab seseorang dari sana dengan santai.
“Paman salah!” Aku benar-benar muak dengannya. “Mereka takut karna ada 6 orang yang mungkin bisa mencabut nyawa mengikuti kemana pun aku pergi.”
Baiklah. Aku sibuk. Aku tau maumu. Kau boleh pergi sendiri asal bisa melewati mereka.”
Tut..Tut..Tut.
Ingin rasanya aku berteriak diatas gunung Himalaya “KAU PAMAN TERBURUK!” Ini serius aku sudah bosan dengannya. Aku ingin sekali saja bersenang-senang.
 “Jika itu yang anda inginkan bapak Menteri Perhubungan  yang terhormat.” Ku masukkan kembali ponselku ke dalam saku.
“Mari kita lihat.” Aku mengikat kuda rambut coklat yang biasa terurai ini.
Aku berjalan cepat menuju kantin belakang sekolah, sesampainya ditempat  tujuan aku mengeluarkan tali dari tas punggungku. Ya, itulah isi tas dari seorang murid bernama Niji Erika, tali, klereng, kaleng minuman dan masih banyak lagi barang tidak penting yang masuk dalam tas sekolahku. Hay, jangan berfikir buruk tentangku, ini adalah hobi serta untuk berjaga-jaga. Berjaga-jaga untuk ide gilaku ini, maksudnya.

Aku melempar salah satu ujung tali keluar pagar tembok, dengan bantuan tali tersebut gadis cantik ini mencoba naik keatas tembok.
“Ya Tuhan! Aku tak bisa percaya ini.” Sungguh diluar dugaanku, paman tlah menempatkan beberapa pengawal disana, lebih banyak dari yang didepan sekolah dan lebih banyak dari tempo hari. Aku tak yakin dia bisa lolos kali ini. Aku harus cari cara lain, yang lebih cerdik tentunya.
“Perlu bantuan tuan putri?” Sebuah suara berat masuk ke gendang telingaku, Aku senang mendengar suara ini. Tapi aku terlalu sering membuatnya masuk dalam masalah yang ku perbuat.
“Tak perlu, Nial. Kau bisa terlibat masalah lagi.” Ucapku dengan berat hati, sebenarnya hanya dia kesempatan terakhirku.
Nial adalah sahabatku sejak masuk Sekolah Tingkat  Dasar. Nial yang slama ini membantuku untuk terlepas dari pengawal yang diberikan paman meski hanya ada beberapa yang berhasil tapi Nial tak pernah lelah membantuku. He is my superboy. J
“Aku bantu.” Nial mengulurkan kedua tangnnya, mungkin dia berniat membantuku turun dari atas pagar.
 “Ini berbeda. Kita akan lakukan yang ebih baik dari  sebelumnya.” Nial menarik tanganku untuk mengikutinya.
Kenapa aku merasa tangan Nial sangat lembut, lebih lembut dari tanganku. Ini sangat manis, Nial menggandeng tanganku untuk mengikutinya.
Apa yang sedang aku pikirkan? TIDAK! Aku hanya menyukai Justin. Ku rasa aku terlalu sering bersama Nial jadi aku berfikir Nial itu manis. Menjijikkan.
Nial membawaku menuju atap sekolah.
“Bantu aku.” Nial terlihat menarik setengah lingkaran sebuah besi yang menempel pada tembok.
“Apa sampai seperti ini?” Sejujurnya, aku ragu dengan apa yang kan dilakukan Nial untukku. Jika ini buruk sebaiknya aku tidak mengikutinya. Aku tidak mau berakhir di kantor polisi seperti tempo hari karna disangka sebagai teroris.
“Pamanmu tlah mengetahui setiap sudut sekolah ini, terowongan menuju pemberhentian busway adalah  satu-satunya tempat yang MUNGKIN tak diketahui olehnya.” Nial menekan kata ‘MUNGKIN’.
Bagaimana Aku bisa yakin padanya jika dia sendiri tidak yakin.
“Masuklah!” Perintah Nial pada ku setelah tutup terowongan terbuka.
“APA?! AKU?!” Nial pasti sudah gila. Aku tidak mau menjadi tikus  yang pada akhirnya akan mati dalam terowongan. “Aku dibelakangmu. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang akan ku alami. Kau didepan.”
                “Sampai kapan aku harus mengorbankan nyawaku untukmu?”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Nial. Apakah sebanyak itu yang dilakukannya untukku?
“Sampai ada seorang laki-laki yang rela mati untukku.” Jawabku ringan.
“Bersabarlah lebih lama, Nial.” Nial berucap pada dirinya sendiri. Aku tau Hidupnya terjebak dalam rasa simpati padaku, Nial tak bisa meninggalkan aku walau sudah mempunyai pujaan hati, bahkan berulang kali Nial putus dengan kekasihnya karena sang pacar merasa cemburu terhadapku. Dan aku sendiri, masih sama. Aku tak pernah punya lelaki selain paman dan Nial.
Aku pun tersenyum penuh kemenangan karna Nial bersedia mengikuti permintaanku. 15 menit lebih Aku dan Nial berjalan menyuri lorong, namun kami tak kunjung menemukan jalan keluar.
“Berapa lama lagi kita berjalan?” Nafasku tak beraturan, aku mulai merasa kelelahan.
“Sebentar lagi gadis manja.”
“Hai! Nial Horan! Aku bukan gadis manja!” Aku menendang kaki Nial, namun itu tak berpengaruh apapun pada kaki kekar Nial. Aku tak punya cukup kekuatan untuk membuat Nial merintih. Takkan pernah.
“Nah, kita sudah sampai.”
Benar. Aku bisa melihat ujung trowongan yang bercahaya. Akhirnya , setelah perjanan yang melelahkan.
Aku keluar dari semak belungkar di sebuah taman. “Aku merasa seperti narapidana yang mencoba kabur dari penjara.
“Aku ada kencan dengan Zoe jadi kau disini, aku pergi.” Ucap Nial.
Aku tidak suka ini, aku tidak suka saat dia meninggalkanku untuk wanita lain. Nial pun tersenyum melihat ekspresiku yang dalam mood buruk. Kadang aku juga merasa jahat pada Nial, seharusnya dia dapatkan kebebasannya. Tapi aku juga tak bisa merelakannya begitu saja. Aku harus dapatkan pengganti, dan Justin adalah jawabannya.
“Kau harus mencari seseorang yang rela mati untukmu karna mereka tak akan datang hanya dengan ucapan.” Nial mengusap rambutku, aku merasa punya seorang kakak sekarang. Ya, itulah superboy-ku. Nial bisa jadi segalanya.
“Aku melihatnya.”
“Siapa?” Tanya Nial sepontan dengan berseri. Dia seperti baru saja mendapat kabar baik.
“Yang pertama adalah paman dan yang kedua adalah kau.”
Nial diam tak merespon, melihat ekspresinya sekarang membuatku ingin tertawa geli. Lucu sekali. :D
~
~
~
Aku menusuri setiap tapak jalan kecil dipinggir taman, tak ada sedikitpun niatnya untuk segera pulang. Aku akan menikmati ini, kesempatan yang jarang ia dapat. Aku akan baru pulang pukul 10, pukul 12, atau sekali-kali tak pulang sepertinya tak masalah. Memberikan sedikit pelajaran pada paman, Aku sudah muak diperlakukan seperti anak kecil. Aku bisa jaga dirinya sendiri.
               
Pukul 4 sore, ternyata ini tak seindah yang aku pikirkan, aku merasa sendiri, tak ada teman untuk saling  tertawa. Harusnya, Nial tetap bersamaku jadi sang putri ini tak akan merasa kesepian . Aku benar-benar sendiri. Beginikah rasanya jadi orang biasa? Tapi kenapa aku melihat mereka sangat menikmatinya. Lihat orang yang sedang berjalan terburu-buru disana, pasti anak dan istrinya sedang menunggu dirumah. Lihat 2 gadis kecil didepan toko mainan itu, sesampainya dirumah mereka pasti mengadu pada orang tua mereka. Dan lihat, muda-mudi yang duduk dikursi sepi itu, aku iri pada mereka, mereka sedang berciuman dan aku? Disentuh seorang laki-laki saja tak pernah. Seburuk  itukah hidupku?
“Membosankan.”  Aku menarik ikat kepala, ku biarkan rambutku terurai.  Aku ingin pulang, ini
lebih buruk daripada mendengarkan pamanku mengoceh semalaman.
Aku masuk ke bus yang bisa membawaku kembali kerumah, setidaknya itulah yang dikatakan penjual balon tadi. Dan saat aku masuk,,,
WHAT?!! Benarkah yang ku lihat ini?
Aku ingin berteriak kegirangan sekarang. Justin,,Justin,, aku satu bus dengan Justin. Aku menutup mulutku, ini adalah usaha agar aku tak berteriak. Orang-orang  bisa membunuhku jika aku berteriak didalam bus. Aku segera mencari tempat duduk yang bisa aku tempati. Ya, disana. 2 bangku dibelakang Justin. Dari sini aku bisa dengan leluasa menikmati wajah tampan Justin, tanpa diketahui jadi aku tak perlu merasa malu.
Slalu seperti ini, hatiku, jantungku, tepat didadaku. Mereka slalu berpacu cepat saat aku melihat Justin. Jatuh cinta, ini membuatku ingin mati. Aku hampir tak bisa bernafas karna Justin, aku tersiksa namun aku menikmatinya. Aku ingin berhenti namun disisi lain aku tak ingin dia pergi. Aku merasa gugup setiap melihat iris mata hanzel Justin yang indah. Aku segera duduk dibangku belakang yang terletak sedikit jauh dari tempat Justin.
 Bahkan, dilihat dari samping pun Justin tetap saja tampan.  Aku rasa Aku akan meleleh sekarang, Justin tersenyum pada salah satu penumpang dan itu terlihat sangat manis, saat Justin menaikkan ujung bibirnya. Ya Tuhan,Aku bisa gila karnanya.
~
~

                “Kita sudah berputar 3 kali sampai kapan kalian akan tetap disana.”
Apa dia tidak tau bahwa suaranya sangat mengganggu? Kenapa sopir bus itu berteriak begitu keras?
Sebentar,,,berteriak? Padaku? Ya!  Aku sudah melewati jalan ini 3 kali. Aku pasti terlihat bodoh sekarang. Apa Justin tau aku mengawasinya? Jadi dia sengaja memancingku? Argh! Tidak mungkin.
Sulit sekali mengetahui dimana dia tinggal. “Aku turun di halte depan.” Ucapku lesu.
Aku melirik ke bangku Justin dan dia melihatku. MELIHATKU? Dan sekarang dia tersenyum padaku. AAAAA. Apa yang harus kulakukan? Dia berjalan kesini,ke arahku. Lalu,,,
“Ayo turun.” Dia berbicara padaku. Jangan katakan aku sedang bermimpi. Ku benturkan kepalaku ke kaca “Au!” sakit, jadi Aku tak bermimpi, ini nyata, dia berbicara padaku. Jatungku,,semoga Justin tak mendengar jatungku berdetak terlalu cepat dan kuat.
                “Kau tak ingin turun? Banyak hal yang aku ingin tanyakan padamu.”
Matilah! Satu pertanyaan saja aku tak tau harus jawab apa, bagaimana dengan banyak.
Aku menganggukkan kepala, bertanda menutujui ajakannya.
                Sore hari dimusim dingin, disinilah aku sekarang. Berjalan bersama Justin, hampir setiap detik sejak  2 tahun lalu aku memimpikan ini. Menikmati musin dingin bersama Justin, makan bersama, menonton, tertawa, dan membincangkan satu topic yang sama-sama kami sukai. Berlebihankah aku jika aku ingin berkencan dengan seorang Justin Bieber.
                Justin Bieber, dia adalah tangan kanan pamanku. Dulunya dia berkerja di gedung putih bagian komunikasi, mungkin jodoh yang membawanya ke paman sehingga aku  bisa bertemu dengannya. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang aku rasakan padanya. Bodoh.  Namun aku hanya bisa mengagumi  lelaki ini dari belakang. Akan berakibat buruk jika paman mengetahui perasaanku, Aku tak kan pernah bertemu dengan Justin lagi. Kemungkinan terburuk adalah Justin kehilangan pekerjaannya, di asingkan ke Negara lain, atau tak dapat pekerjaan selama hidupnya. Itulah yang dilakukan kebanyakan orang besar, aku sendiri tidak yakin paman akan melakukan hal tersebut namun kekhawatiranku tak bisa ku tepiskan. Hanya melihatnya dari balkon saat pagi hari dan dari kamar saat malam hari, melihatnya membukakan pintu untuk paman, melihatnya menyapa pengawalku, itu sudah cukup bagiku.
“Jadi kau juga suka berkeliling kota dengan menggunakan Bus?” Justin membuka pembicaraan. Jadi, dia kira aku sedang berkeliling?
“Tidak juga, sebenarnya ini baru pertama kali.” Jawabku jujur. “ Apa itu hobimu?”
“Ya. Aku senang melihat orang  banyak orang dengan banyak profesi.”
“Kau punya banyak kekasih, dan mudah bosan.” Dari jawaban Justin aku bisa menyipulkan bahwa Justin bukan tipe lelaki yang setia tapi siapa perduli, Aku akan tetap mencintainya meskipun dia punya 1 istri dan sepuluh simpanan aku bersedia menjadi simpanan ke 11 bahkan ke 21, tak masalah bagiku. Bukankah cinta tak berlogika?
“Sebenarnya aku belum pernah berkencan sebelumnya.”
“Kenapa?!” Aku sungguh terkejut. Dengan wajah dan kemampuan serta bakatnya, benarkah dia tak pernah berkencan?
“Ini pertama kalinya aku mengucapkan lebih dari 5 kata pada seorang gadis.”
Aku percaya itu, mana mungkin dia bisa mengobrol dengan seorang gadis jika dia hanya berada di sekeliling Usher dan pengawalku.
                “Niji.” Aku mengulurkan tangan kananku.
                “Apa?” Dia nampak terkejut.
“Kenapa?”
“Tidak, hanya seperti pernah mendengar nama itu.”
Bukan hanya ‘seperti’ Justin, tapi dialah aku. Gadis ini dan seorang yang kau kira anak dari atasanmu adalah orang yang sama.
“Kau?”
“Justin.” Justin menjabat tanganku sambil tersenyum.“Perlu ku antar pulang?”
Apakah begini rasanya berkencan, sangat tenang karna akan ada orang yang mengantarmu pulang. Tapi,,,
                “Tidak.” Jawabku, padahal sebenarnya aku sangat ingin dia mengucapkan selamat malam didepan rumahku, seharusnya kita tidak dipertemukan seperti ini, jika aku bukan Niji Erika , akankah kita bisa bersama?
                “Biarku tebak, ada seorang gadis SMA yang mencoba kabur dari rumah disini.”
Pikiran liar, bagaimana seorang yang berkerja untuk Negara bisa berpikir begitu dangkal.

Tik,,,Tik,,
                “Aku tidak suka ini.” Aku mengadahkan tangan, aku tidak suka hujan. Hujan membuatku dingin dan basah. Gelap dan mendung, slalu datang saat yang tidak tepat.
                “Pelangi seharusnya suka hujan.” Justin menolehkan kepalanya.
                “Kau bisa bahasa jepang?” Ada yang tidak bisa Justin lakukan?  Ku dengar dia juga mengusai 5 bahasa lain.
                “Aku pernah bekerja di gedung putih.” Jawabnya.
                “Lalu apa pekerjaanmu sekarang?” Tanyaku basa-basi.
                “Aku sedang menikmatinya.”
                “Aku tanya apa pekerjaanmu bukan bagaimana pekerjaanmu.” Sejujurnya aku senang mendengar bahwa dia menikmati pekerjaannya, jadi tidak salah jika aku tetap menyembunyikan perasaanku.

Why would I, when you are here
there a moment I’ve been chasin
and I finally caught it out on this floor
baby, theres no hesitation

Ringtone ponselku berbunyi, Paman pasti mengkhawatirkanku. Ku tekan tombol berwana hijau
                “Hallo.” Tidak ada tanggapan dari sana. “Hallo.” Tetap hening.
                “Ini untukku.” Justin mengangkat ponselnya, bahkan Ringtone kami pun sama. Berharap ini tanda-tanda kami berjodoh.
                “Ya,,”
                “Baik,,”
Paman pasti menelfon Justin untuk mencariku.
                “Ada apa?” Tanyaku.
                “Pekarjaanku. Putri dari menteri perhubungan belum pulang dari sekolah.”
                “Bagaimana kau mencarinya? Kau tidak tau wajahnya.”
                “Bagaimana kau tau aku belum melihat wajahnya?”
Kya! Hati-hatilah dalam berbicara Niji.
                “Kau bilang kau tidak pernah berbicara pada gadis lain sebelumnya.” Huft,, sekarang aku tau apa manfaat makan banyak sayuran, dia membantumu berfikir cepat.
                “Kau benar, tapi aku harus tetap pergi.”
                “Aku mengerti.” Ku persilahkan dia untuk melaksanakan tugasnya. Dia pun berbalik dan berjalan menjauh, ku tatap punggungnya yang lebar. Semakin lama langkahnya semakin cepat dan pada akhirnya Justin berlari, dia pasti kelelahan karna tingkahku yang seenakku sendiri.

Ku telfon salah satu pengawal paman, “Jemput aku.”
                “Dimana anda?” Dasar orang bodoh, dia bisa melacak keberadaanku dengan singal handphone seperti biasanya.
                “Apa perlu aku menjawab? Jika kalian tak datang dalam waktu 5 menit aku akan mantikan ponselku jadi kalian tidak akan menemukanku selama 2 hari.”

Ku lihat Justin yang berlari ke arahku.Damn! kenapa dia kembali?
                “Jangan kesini jika kalian kesini ku pastikan kalian dipecat.”
Tut,,tut,,tut.
                “Ini?” Justin menyodorkan sebuah payung. “Aku berlari untuk membelikan ini, masih tidak mau menerima?”
Aku pikir dia terburu-buru untuk mencari putri atasannya. Aku pun menerima payung yang dia berikan.
                “Bagaimana dengan tugasmu?”
                “Aku sudah menelfol 24 orang untuk mencarinya dan kau hanya punya satu orang untuk memberikanmu payung, yaitu aku.”
Aku tersipu mendengar ucapan Justin. Itu adalah kalimat terromantis yang pernah ku dengar, jangan buat aku semakin mencintaimu Justin.
~
~
Hujan turun menetesi bumi, membawa hawa dingin. Berbeda dengan hujan biasanya, kali ini aku sangat menyukai hujan. Setiap tetes yang turun ada 10 rasa syukurku karna kau ada disini untukku. Terimakasih Tuhan, sekarang aku tau kenapa aku harus bersyukur atas apa yang Kau berikan, karna dia datang tanpa sia-sia.
                “Apa ini rumahmu?” Ini 100 kali lebih buruk dari rumahku, tapi sebuah tempat yang tidak buruk untuk dijadikan tempat tinggal jika kau bersama orang yang kau cintai didalamnya. Catnya terlihat sudah kusam, pekarangan yang tidak pernah di bersihkan dan tidak punya tetangga. Bagaimana kau bisa hidup seperti ini?
                “Bukan.” Jawab Justin singkat. Bukan? Lalu kenapa dia membawaku kesini? “Tapi aku akan disini untuk malam ini.” lanjutnya lagi.
                “Baiklah.” Ku terseyum, mengikuti langkahnya untuk masuk.
                “Masuk dan bersihkan dirimu.” Justin membuka pintu salah satu ruangan dirumah ini.
                “Aku merasa seperti bayi.”
Hening,,, apa leluconku sulit diterima? Sepertinya tidak juga karna 5 detik kemudian Justin tertawa renyah.
Ya, aku bisa melihat sederet giginya sekarang, lalu apa lagi? Ku rasa cukup atau aku akan mati malam ini karna tak bisa bernafas.
~
Setelah selesai membersihkan diri ku cari Justin namun aku tak mendapatkannya, ku jelajahi setip sudut ruangan yang ada dirumah ini. Dan ternyata dia sedang memasak. Sungguh luar biasa, apa yang tak bisa dia lakukan. Oh Tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk yag sempurna seperti dia, itu membuatku tak percaya diri untuk berharap lebih dari mengaguminya. Aku menyenderkan kepalaku ke tepi pintu, menikmati pemandangan indah yang dipersembahkan Tuhan. Justin.
“Kau sudah selesai.” Ucap Justin yang menyadari keberadaanku.
“Hem.” Aku menganguk, berjalan mendekatinya. Yang memnuatku heran adalah dia berkata bahwa ini bukan tempat tinggalnya namun dia punya cukup banyak baju ganti disini, salah satunya yang sedang ku pakai.
Setelah selasai memasak Justin menghidangkan ke 2 piring yang sudah ia persiapkan kemudian membawanya ke meja makan.
 Makan malam berjalan dengan sepi, mungkin tak terbiasa makan sambil mengobrol padahal aku sangat ingin berbicara banyak dengannya. Biarlah. Aku menghela nafas berat.
“Ada apa?” Tanya Justin, mungkin dia mendengar helaanku.
“Nothing.” Jawabku seadanya.
~
“Setelah ini lekaslah tidur, pagi-pagi sekali aku akan mengantarmu ke sekolah.” Ucapnya mengantarku ke ruangan yang seperti tempat tidur, memang terlihat berantakan namun tak apa.
Ku tahan tangan justin ketika hendak berbalik pergi.
“Aku akan diluar” jawabnya sebelum aku mengeluarkan pertanyaan.
Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku.
Dia tersenyum manis sambil menyisipkan anak rambutku ke belakang telinga. Ya Tuhan. Sungguh ini bukan mau ku, aku hanya ingin dia menemaniku, bukan menggodanya namun senyumnya benar-benar membuatku meleleh.
Tanpa diperitah, aku pun memejamkan mataku ketika Justin mendekatkan wajahnya. Dingin. Itulah yang kurasakan ketika bibirnya menyentuh bibirku dengan tenang. Entah dorongan dari mana aku melangkahkan kakiku, membimbing dia mendekati ranjang. Hanya beberapa langkah kurasakan kakiku menyentuh sisi ranjang, kakiku yang sudah lemas karna ciuman kami yang semakin dalam pun membuatku terduduk. Justin melepas ciuman kami, sementara mataku masih terpejam mengatur detak jantung dan deru nafas yang tak beraturan.
Aku ingin membuka mata, tiba-tiba justin menarik tengkukku mencium bibirku lagi dan kali ini lebih dalam, dalam, lidahnya dengan mudah masuk ke mulutku mengunci lidahku. Aku tak ingin kalah, dengan sekuat tenaga ku tekan tekan bibirnya hingga kami berbaring denga posisi aku berada di atasnya. Ku tarik  kerah bajunya. Dia menyerah, di lepaskan lidahku. Namun entah kenapa aku tak ingin ini berakhir. “niji” ucapnya. Tolong jangan sebut namaku, itu membuatku benar-benar tak bisa berhenti. Justin memutar tubuhku hingga aku berada dibawahnya. Ku berikan keputusan pada Justin. Entah kenapa tiba-tiba udara di sekitar terasa panas, padahal di luar masih ku dengar gemericik hujan turun. Ku tarik bajuku sedikit ke atas untuk mengurasi rasa panas, tapi justru itu memberi akses justin untuk menjelajahi area perutku dengan dengan tangannya. Ku remas kuat pundak justin saat ciumannya turun ke leherku. “engghh..” erangku tertahan, aku ingin menyebut namanya tapi suaraku tercekat ditenggorokan. “Berhenti.” Ucapku akhirnya. Justin menarik pelan kepalanya dari leherku, ku kalungkan tanganku dileher justin, mencegah dia agar tidak menjauh. Aku tersenyum saat justin merapikan rambut dari wajahku. “Selamat malam” ucapnya lalu beranjak pergi menutup pintu dari luar.
~
~
Sinar lembut mentari mengusik tidurku, memaksaku untuk membuka kelopak mata. Aku merasakan punggungku  yang terasa sakit, dan kepalaku terasa berat. Ada apa ini? kenapa aku,,, aku terikat? Mataku sepenuhnya terbuka. Dimana justin? Apa yang terjadi? Samar-samar ku dengar suara beberapa lelaki dari balik pintu, 2 atau 3 mungkin. Itu bukan justin. Ku lihat sekeliling, Aku masih ditempat yang sama seperti tadi malam saat justin meninggalkanku. Lalu dimana justin?
“Biarkan aku masuk.” Itu justin. Ingin aku berteriak memanggil namanya namun usahaku sia-sia karna perekat yang terpsang dimulutku.
“Dia milik kami. Kau sendir yang membawanya.” Sahut seoarang dengan suara besar.
“Biarkan aku masuk.” Ucap justin lagi dengan nada yang sama.
“Kau tau peraturannya bukan?” tanya yang lain. Peraturan apa? Perasaanku semakin tak menentu. Ketakutan menguasai diriku, sekarang. Mungkinkah,,,,,
“Biarkan dia.” Lelaki denga suara berat.
Ganggang pintu bergerak. Justin. Aku memincingkan mata saat justin berjalan mendekatiku, aku masih ingat betul siapa justin, sikap justin, tadi malam, dan semua tentang justin namun itu tak mengurangi sedikitpun rasa takutku.
Ku lihat mata sayunya. “maafkan aku” ucapnya lemah.
Maaf untuk apa?
“untuk semua yang terjadi sejak kemarin sore.” Jawab justin seolah tau apa arti mimik wajahku.

========================


Sampai tengah cerita tiba-tiba stuck, di lanjut kapan-kapan.
jangan lupa tinggalkan komentar :)

Minggu, 27 Oktober 2013

2 year of love



Title       : 2 Year of Love
Author  : Cahya Khosyiah / @snowwhite679
Cast       : Justin Bieber
                 Miranda cosgrove
Sub Cast: Usher


=             +             =             +             =             +             =             +             =


Seorang gadis berambut coklat matang, menatap binar pemandangan laut nan indah didepannya. Masa lalu biarlah masa lalu, mari kita jalani yang akan terjadi saat ini, jika kita ditakdirkan bertemu maka kita akan bertemu, tak ada yang bisa menolak kehendak Tuhan.
Ini yang Miranda sukai, mengamati yang ombak yang bergerak teratur senada dengan angin, melihat burung-burung yang terbang mengikuti matahari terbenam, langit yang berwarna orange dan senja yang indah.
                Sesungguhnya ia ingin disini lebih lama namun matahari tlah terbenam, artinya malam tlah tiba. Selamat tinggal senja. Miranda melangkahkan kakinya ke tempat yang memberinya kenangan indah, tempat dimana pertama kali Justin mengajaknya berkencan. Miranda percaya jika suatu saat nanti Justin akan kembali mengajaknya kesini.
                “Kenapa kau tidak mencoba untuk kerumahnya.” Seorang waitress menghampiri Miranda. Ia adalah Elle teman Miranda. Mereka menjadi dekat sejak Miranda sering datang ke caffe ini, lebih tepatnya 2 tahun yang lalu. Hari-hari dimana Miranda hidup tanpa Justin.
                “Jika aku tau dimana ia tinggal.” Jawab Miranda.
                “Pecundang.”
                “Kau bicara padaku?” Miranda menaikkan satu alisnya.
                “Tentu saja. Bagaimana kau nisa menunggu seorang yang belum begitu kau kenal lebih dari 2 tahun.” Elle menjelaskan maksudnya.
                “Dia tak ingin aku mengetahui siapa dia.” Miranda tertunduk, inilah yang menjadi kesedihan Miranda. Dia tak tau apapun tentang lelaki yang ia cintai. Justin tak pernah bercerita apapun tentang hidupnya, harinya, keluarga bahkan rumahnya.
                “Nah! Itu dia. Apa yang terjadi jika dia pengedar narkoba tingkat internasional, penyelundup, atau yang lebih parah dia adalah teroris Amerika.”
                “Tidak seburuk itu Ell.” Miranda menepis pikiran buruk tentang Justin.
                “Hey! Kau sendiri yang bilang dia dikejar polisi lalu pergi bersama mereka dan belum kembali sampai sekarang. Mungkin saja mereka sudah memenggal kepala Justin.”
                “Mungkin dia adalah pencuri, perampok, atau pembunuh tapi ku mohon jangan penyelundup. Karna jika dia pembunuh dia bisa dibebaskan namun jika dia penyelundup Justin takkan pernah kembali.”
                “Kepalaku sakit. Aku pikir dunia sudah gila, ada wanita sepertimu.” Tanggapan Elle atas keresahan Miranda.

Justin Bieber, sosok ini tak pernah lepas dari diri Miranda walau hanya sedetik. Justin slalu ada disetiap saat Miranda membuka mata juga saat gadis ini menutup mata, siang dan malam, setiap angin yang berhembus nama Justin, setiap detak jantung yang mendetakkan nama Justin. Miranda menikmati ini meski sesungguhnya dia tersiksa. Seperti ada makhluk yang secara sengaja menggerogoti dadanya. Tapi Miranda tak bisa melepas itu karna ia sadar, saat Miranda melepas rasa sakit itu maka Justin juga akan ikut pergi.

-Flashback-
                “Berhenti kau!” Sekelompok polisi terlihat sedang mengejar seorang. “Pada tembakan ke 3 kau harus berhenti.”
DOR,DOR,DOR!
Tembakan bebas tlah dilepaskan, namun itu tak membuat Justin gentar. Dia masih semangat untuk berlari.
                “Apa kau tak bisa berhitung? Itu adalah tembakan ke 9.”  Justin justru merespon ancaman polisi-polisi tadi dengan  candaan.
               
                “Sebagian ikuti aku, yang lain pakai jalan pintas didepan.” Perintah seorang yang sepertinya adalah komandan dari mereka.
Polisi-polisi tadi berpencar, kali ini mereka tak boleh gagal lagi menangkap Justin. Sudah cukup mereka ditertawakan rekan yang lain, bahkan kabar ini sudah sampai pada tingkat  keamanan khusus.
Justin berlari ke arah gang kecil diantara perumahan,  “Dasar polisi-polisi bodoh, aku tak kan menyerah.” Dalam kasus melepaskan diri dari kejaran polisi, Justin memang amat ahli. 2 kali hampir tertangkap dan 15 kali slalu lolos, bukankah itu hebat?
Namun kali ini sepertinya dia takkan lolos, mereka mengirim lebih dari 20 aparat dalam sekali kejaran. Justin mencoba naik ketembok untuk menghindari mereka, mungkin dia harus masuk kesalah satu rumah yang ada disana, sayangnya polisi-polisi itu ada dimana-mana. Mereka menggeledahi setiap sudut perumahan.
Dilihatnya seorang gadis yang sedang melukis. Tak ada pilihan lain, Justin masuk ke kamar gadis tersebut dengan licah, diluar dukaan Justin gadis tersebut justru tak berekspresesi sedikitpun padahal Justin sudah menyiapkan senjata jika gadis tersebut mulai tak terkendali.
                “Kau tidak berteriak?” Tanya Justin ragu.
                “Ku dengar ada seorang lelaki yang dikejar polisi.” Jawab gadis tersebut dengan santai.
                “Jadi kau bersedia membantuku?”
Gadis tersebut diam tak menjawab.
Justin membuka almari mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan dan Ya, Justin menemukannya. Mantel hitam panjang milik sang gadis, Justin mengenakan itu ke tubuhnya.
Tok,Tok,Tok.
                “Bantuan yang sesungguhnya baru dimulai.” Ucap Justin tersenyum.
Srek,,
Seseorang dari luar membuka pintu kamar, dilihat dari cara membuka pintu Justin bisa tahu bahwa polisi-polisi itu ada disini.
Dengan gerakan cepat Justin berdiri membelakangi pintu kemudian meletakkan tangan kanannya ke leher sang gadis lalu menarik kepalanya mendekat kearah Justin.
CUP,,
Sebuah kecupan dari Justin dilakukan dengan singgkat karna sang gadis buru-buru menghindar, belum 2 centi gadis tersebut menjauhkan bibirnya Justin kembali menarik kepalanya.
“Maaf,,” Polisi tadi kembali menutup pintu kamar.
Justin mencium bibir sang gadis dengan hangat, sebuah kecupan mungkin dilakukan untuk menyelamatkan diri namun ciuman ini dilakukan dengan sengaja. Justin belum pernah merasakan perasaan setenang dan selembut ini sebelumnya. Sang gadis membalas ciuman Justin dan itu membuatnya semakin menikmati  ciuman ini. Justin menjelajahi setiap sudut bibir gadis tersebut dengan bibirnya secara lembut.
                “Ku rasa mereka sudah pergi.” Gadis tersebut melepas ciuman.
Justin mundur beberapa langkah, “Baiklah. Aku harus pergi.” Justin tersenyum kikuk, ini membuatnya salah tingkah. Buru-buru dia melompat keluar jendela dan berlari.
                “Aku Miranda.” Teriak sang gadis sebelum Justin bener-benar berlari menjauh.
                “Last Night Caffe jam 7.” Teriak Justin pada Miranda.

Keesokan harinya, Miranda datang ke Last Night Caffe secepat mungkin untuk menemui Justin bahkan ini baru jam 6.30. Dan sepertinya bukan hanya Miranda yang datang lebih awal namun Justin juga sudah berada disana.
                “Hay,” sapa Miranda. “Menunggu lama?”
                “Tidak juga, aku baru datang.” Nah,, yang ini Justin berbohong, sebenarnya dia berada disini pada pukul 6 tadi.
                “Ku pikir aku terlalu bersemangat.” Miranda duduk dibangku bersebrangan.
                “Mungkin lebih tepatnya kita.” Timpal Justin. “Kau percaya pada cinta pada ciuman pertama?”
                “Cinta pada pandangan pertama, maksudmu?” Miranda memiringkan sedikit kepalanya tanda tak mengerti.
                “Cinta ciuman pertama. Jujur sejak ciuman kemarin aku merasa ada yang berbeda didalam diriku. Apa kau merasakannya juga?” Justin memperjelas ucapannya.
                “Bagaimana aku bisa percaya pada orang yang belum ku ketahui namanya.” Ucap Miranda sambil mengaduk latte yang ada didepannya.
                “Aku Justin.” Justin memberikan sebucket bunga mawar putih.
                “Sebenarnya itu adalah ciuman pertamaku.” Miranda tersipu.
                “Sebelum kita berjalan terlalu jauh ada yang harus ku katakan padamu.” Justin mengenggam tangan Miranda. “Jangan tanya apaun tentang diriku karna jika kau bertanya maka kita berakhir. Aku akan katakan jika aku menginginkannya.”
                “Anda sombong sekali.” Miranda menarik tangannya dari tangan Justin.
                “Aku serius. Apa aku terlalu terburub-buru?”
                “Atau aku harus mengatakkan kau sangat keren.” Miranda tersenyum manis.
                “Menurutmu aku keren?”
                “Aku tak kan mau dicium orang sembarangan jika kau tidak keren.”

                Sejak hari itu hubungan Justin dan Miranda semakin dekat, Justin slalu datang pada malam hari ke kamar Miranda secara diam-diam. Meskipun begitu entah darimana Justin bisa tau kegiatan Miranda pada siang hari. Dan Miranda menanggapi hal itu dengan sebiasa mungkin. Bukankah awalnya Justin sudah memperingatkan Miranda?
                Hari ini secara khusus Miranda mengajak Justin bertemu di Last Night Caffe, dia tak sendiri sebuah lukisan menemani langkahnya menemui sang kekasih. Miranda tau memang sulit menemui Justin pada siang hari namun dia juga tak bisa menunggu sampai malam, jadi dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan Justin tak datang.
                “Ada apa?” Miranda menolehkan kepalanya kearah suara tersebut berasal.
                “Aku seperti berpacaran dengan seorang vampire.” dilihatnya Justin sedang berdiri dibelakangnya. Miranda memang sempat berfikir bahwa Justin adalah seorang vampire yang tidak bisa terkena cahaya matahari, Miranda pasti sudah gila berfikir seperti itu. Ini adalah dunia nyata, bukan fiksi maupun film.
                “Mungkin aku harus kembali.” Justin membalikkan tubuhnya, dengan segera Miranda menarik tangan Justin.
                “Aku tau kau hanya bercanda. Duduklah.” Perintah Miranda. “Aku ingin kau memiliki ini.” Miranda menyerahkan karya lukisnya pada Justin. Sebuah coretan tangan bergambar punggung, bisa ditebak bahwa itu adalah punngung Justin dia mengenakan mantel hitam, sama dengan mantel Miranda yang dipakai Justin tempo hari.
                “Apa wajahku kurang tampan? Kenapa kau melukis punggungku? Aku merasa terhina.” Justin mengomentari lukisan Miranda. Justin yang tidak menpunyai jiwa seni tentu saja menyebut itu aneh. Seharusnya Miranda melukis ketampanan wajah Justin yang mempesona jika seketsa punggung siapa yang tau bahwa ini adalah punggung Justin.
                “Karna slama ini aku hanya melihat punggungmu, kau slalu berada didepanku,kau slalu berusaha untuk pergi dan menghindariku.” Ucap Miranda santai, kekecewaan tak ditampakkan didepan Justin tapi ucapan itu cukup membuat Justin bersalah.
                “Percayalah, ini akan segera berakhir.” Justin menggenggam tangan halus Miranda lalu mengusap rambut sang gadis dengan tangan yang lain.

                “Akhirnya kita bertemu.” Seorang polisi datang menghampiri mereka secara tiba-tiba, membuat suasana menengang
Justin mengeratkan genggaman, Miranda tau itu bertanda buruk.
                “Mari selesaikan ini dengan halus.” Polisi tersebut mengetukkan tongkat ke atas meja.
Justin mengendorkan otot ketegangan yang terlihat jelas diwajahnya, berlahan ia melepaskan jarinya dari tangan Miranda satu persatu.
‘1,,,,
2,,,,
3,,,,’
Justin menarik tangan Miranda untuk berlari keluar Caffe secepat mungkin, dan polisi itupun mengejar Justin dan Miranda. Mereka melewati terongan kecil antara pergedungan. Tujuan mereka adalah pelabuhan, kapal terakhir akan berangkat dalam sepuluh menit jadi Justin serta Miranda harus bergegas. Kapal tersebut satu-satunya cara untuk menghindar dan melenyapkan jejak.
                “Lukisannya,,,” Miranda berhenti ditengan jalan.
                “Kita akan kembali.” Balas Justin.
                “Tidak, Aku sengaja menulis alamat oranatuaku agar kau bisa berkunjung. Mereka bisa melacaknya.”
                “Kau ke kapal dengan jalur lain. Aku akan mengambilnya.” Tanpa berkata lebih banyak Justin segera pergi meninggalkan Miranda.
Justin dan Miranda berjalan terpisah, Justin kembali ke caffe untuk mengambil lukisannya sedang Miranda berlari menuju pelabuhan melalui jalan raya. Tidak disanggka polisi tadi tak hanya sendiri beberapa orang mengejar Miranda sedang komandannya sendiri mengikuti Justin. Sayangnya usaha Justin terbuang dengan percuma, setelah sampai caffe tadi lukisan dari Miranda sudah tak ada.
                “Permisi,,” Justin menghampiri conter caffe. “Lukisan di meja 9, apakah kalian melihatnya?”
                “Tenang saja kami menyimpannya,,” jawabnya dengan senyum, conter tadi berbalik untuk mengambil lukisan itu namun tak ada waktu polisi semakin mendakat.
                “Simpan itu untukku, jangan berikan pada orang lain selain aku atau kekasihku sampai ajal menjemputmu.” Pesan Justin lalu dia pergi mengunakan pintu belakang, Justin mendobrak paksa pintu kayu yang terkunci.

Ditempat lain,,,
Miranda berlari sekuat yang dia bisa, cerobong kapal tanda keberangkatan tlah berbunyi namun Justin belum juga bersamanya. Miranda merasa sedih akan itu. Sakit rasanya, sesak didada, sulit untuk bernafas. Apakah Justin menghianatinya? Melupakan Miranda? Namun pikiran buruk segera ditepis oleh Mirabda, apapun itu Miranda harus lepas dari polisi-polisi ini terlebih dahulu.
Miranda masuk kedalam kapal untuk melabui polisi, naik ke atas mengunakan tangga, berlari menghindar dengan jalur yang sama, dikira sudah cukup, Miranda melompat dari kapal ke daratan yang jaraknya 5 meter lebih, kakinya bertumpu pada pagar. Dan berhasil, polisi-polisi tadi mengumpatkan kekesalan.
                “Dia bukan gadis biasa.” Ucap salah satu dari mereka.
Miranda melompat gembira, menjulurkan lidah, juga melambaikan tangan pada mereka, sungguh ekspresi yang berlebihan atau tidak juga karna ini adalah untuk yang pertama kalinya Miranda melakukan perbuatan ekstrim, ia harus dapatkan penghargaan untuk ini. Dan penghargaannya tlah datang, Justin menghampirinya dengan senyum.
                “Aku ingin bilang jangan khawatir tapi sepertinya tak perlu, kau nampak menikmatinya.” Ucap Justin.
                “Justin!” Miranda menyerang Justin dengan pelukan.
Justin pun tak hanya diam, dia membalas pelukan sang kekasih. Namun seketika mereka tersadar kembali bahwa ini bukan waktunya untuk bersantai.
                “Ayo.” Justin segera mengandeng Miranda untuk berlari dan sialnya poisi-polisi yang mengejar mereka belum juga menyerah.
DUAR!
Satu tembakan bebas dikeluarkan oleh mereka. “Berhenti! Kami bilang!”
                “Jangan perdulikan, mereka takkan berani menembak kita.” Justin dengan entengnya mengucapkan itu diselingi dengan senyuman.
Justin serta Miranda terus berlari membabi buta sampai pada akhirnya Miranda terjatuh karna sepatu hag yang dia pakai patah. Keduanya menjadi panic.
                “Justin,,” Ucap Miranda lirih.
Polisi yang mengejar mereka semakin mendekat.
                “Aku tak apa, kau harus tetap lari.” Ucap Miranda lagi.
Justin memutuskan untuk menolong Miranda. Tapi dia kalah cepat dengan polisi-polisi itu 2 orang dari mereka sigap  menangkap Miranda.
                “LARI JUSTIN!” Miranda berteriak.
                “Jika kau pergi, kalian berdua dalam posisi tidak aman.” Ucap sang komandan.
                “Jangan perdulikan mereka!” Miranda lagi.
                “Aku menebak dia tak tahu apapun tentangmu. Jika kau menyerahkan diri Aku akan melepaskan dia dengan mudah tanpa beban.” Komandan mendekati Justin.
                Ingin rasanya Justin menghampiri Miranda dan menolongnya namun keadaan akan semakin memburu jik a dia menyerahkan diri sedang jika dia tak kembali Miranda akan dalam masalah dan Justin tak mau itu terjadi.
                “Apapun itu aku percaya padamu jadi pergilah.” Ucap Miranda tenang.
                Justin berfikir dengan matang, ini bukan tentang dirinya lagi. Ini tentang Miranda dan hidup smua orang. Dia hanya ingin menyelesaikan ini sampai tuntas setelah itu dia akan pergi namun,,,,
                “Lepaskan dia.” Ucap Justin lemah.
                “Justin. Ku mohon.” Miranda tak tahan untuk tidak menitihkan air matanya.
                “Borgol.” Sang komandan menadahkan tangannya keatas. “Aku yang akan membawanya sendiri secara eksklusif.” Lalu salah satu dari bawahannya memberi benda yang dia minta.
Sang komandan berjalan mendekati Justin dan memborgol tangannya dengan tersenyum meremeh.
“Tidak!” Tangis Miranda semakin pecah saat   polisi-polisi tadi membawa sang kekasih. Sedang Justin sendiri hanya bisa menunduk pasrah.
               
-Flashback Off-

Begitulah perpisahan terjadi pada Justin dan Miranda. 2 tahun berlalu dan tak ada secuil kenangan antara mereka yang Miranda lupakan, tak kan pernah.
Miranda  melangkahkan kakinya tapak demi setapak menjauhi keramaian kota Los Angles, wajahnya selalu lesu tak bersemangat. Justin aku merindukanmu, sangat. Batin Miranda menjerit. Langkahnya terhenti didepan toko kaset yang asing baginya namun lagu ini, lagu yang sedang diputar, dia tau betul ini, lagu yang dulu pernah dinyanyikan Justin untuknya.
G                    BM                  A
yaaah, ohhh no, ooohhh no
G
BM
They say that hate has been sent
                                A
So let loose the talk of love
G                                             BM
Before they outlaw the kiss

Sedikit ragu Miranda masuk ke toko tersebut.
DEG! Jantung Miranda tiba-tiba berdetak kencang.
Miranda mendekati suara music berasal melewati rak-rak yang terpasang kaset bedasarkan genger yang tertata rapi. Suara music semakin jelas terdengar senada dengan jantung Miranda yang semakin berdetak tak terkendali. Disana suara music berasal, pandangan Miranda terhalang oleh sebuah rak kaset bergenger pop-rock, beberapa langkah lagi. Miranda memegangi dadanya, bersiap menerima semua kemungkinan yang terjadi nanti bahkan jika Justin tak ingin kembali padanya lagi, sungguh tak masalah bagi Miranda, yang terpenting adalah dia biasa tau keadaan Justin sekarang.
3 langkah lagi,,
2 langkah lagi,,
Miranda menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara berlahan.
Dan,,,, smua tak seperti yang dibayangkan. Itu hanya sebuah kaset, kaset yang diputar oleh operator toko.
Miranda keluar toko dengan raut kecewa. Mungkin Ella benar, Miranda harus melepaskan Justin, bukan hanya untuknya tapi juga untuk orang-orang disekitar Miranda. Ayahnya, Ibu, juga Ella, selama ini Miranda hanya memikirkan dirinya sendiri, berfikir bertemu Justin kembali hingga tak memperhatikan Ibu serta Ayahnya yang tersiksa dengan sikap dingin Miranda.
Ya,, inilah waktunya berhenti. Miranda harus kembali hidup tanpa Justin. Pasti ada cinta setelah cinta, dia tak bisa berakhir seperti ini. Tuhan itu slalu ada.
Miranda kembali ke toko kaser tadi,,
“Permisi.” Sapanya pada operator toko.
“Sudah memilih lagu yang tepat?” Tangap sang operator toko.
“Tidak. Aku hanya ingin,,,” Miranda mengeluarkan lukisan yang baru saja dia ambil dari Caffe. “Bisakah kau memasang ini ditokomu?”  Miranda menyerahkan lukisan tersebut, sebuah lukisan bercoret pungung seorang lelaki, lukisan yang dulunya hendak diberikan pada Justin.
“Apa?”
“Bantu aku.” Miranda meyakinkan.
“Lukisan yang bagus.” Seorang lelaki setengah baya menghampiri mereka. “Aku Usher, pemilik toko ini.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Berapa harus aku bayar?” tanyanya.
Miranda yang mendengar persetujuan dari sang pemilik toko pun langsung gembira. “Aku hanya ingin ini dipajang didinding kalian. Aku tidak ingin menjualnya.”
“Benarkah?” Usher heran. “Kenapa tidak memasangnya digaleri saja, kau bisa dapat uang.”
 Tanpa berkata lagi Miranda keluar dari toko kaset tersebut.
Ini adalah awal pelepasan untuk Justin. Smua akan tetap berjalan dengan semestinya, tetap tersenyum, tetap mencintai, maka kebahagian akan datang. Dunia terus berjalan tanpa memperdulikan rasamu jadi jangan berhenti karna kamu tak ingin kehilangan. Sesuatu memang akan datang dan pergi dengan sendirinya.