Sebelumnya mau bilang kalau cerita ini pernah aku post di FB
JD nama acountnya Bieber’s Story tapi karna aku lupa Password jadi aku gak
pernah kesana lagi.
Mohon komentarnya atas story ini.
Hay, Author abal bawa JD OneShoot yang tak kalah ancur.
Pemainnya random banget.
Pemainnya random banget.
Ada Amerika, Korea, China, Atlanta, campuran German,
Indonesia, pokoknya acak banget deeeh. Tapi namanya disamarkan ko. Semoga
tidak mengecewakan.
SAY NO TO COPAST.
DON’T BE SILENT
READER.
Happy Reading :D
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
Title ; Just
You and Only You.
Ganger ; Romance. (Ga kerasa)
Author ; Cahya Khosyiah
#*#*#*#*#*#*#*#*#
‘Suatu nanti Kau akan tau bahwa Dia segalanya untukmu’ –Cahya
Khosyiah-
Cast :
Justin Bieber
Bae Soo Ji as Oline
Maura
~
~
~
“Perhatikan jalanmu Just!” seorang wanita menegurku dengan
suara nyaring yang hampir merusak dendang telinga.
Hay. Namaku Justin Bieber, lekaki kaya, tampan, dan
mempesona. Rasanya berat mengatakan bahwa gadis yang membentakku tadi adalah,
kekasihku. Gadis galak, jutek dan serampang. Dialah beban hidupku.
Aku juga sering berfikir mengapa aku bisa berpacaran
dengannya padahal didalam hatiku tak ada sedikitpun niat mempunyai pacar
seorang, Oline Maura. Mungkin aku adalah satu-satu lelaki yang berharap
kekasihnya saat ini bukanlah jodohnya dimana depan.
Pernah beberapa kali aku mengalami putus-nyambung dengan
Oline tapi kami selalu dipertemukan dalam keadaan yang tak terduga, lalu aku
dan Oline menjalin hubungan kembali. Dan lucunya, aku yang meminta dia untuk
kembali kepadaku kemudian pada akhirnya aku pula yang menyesal. Melelahkan.
Termasuk saat itu, aku dan Oline baru saja putus , karna takut
bertemu dengannya maka aku merencanakan liburan selama seminggu ke London. Dan
sialnya, kami tidak sengaja bertemu disebuah pusat perbalanjaan di London. Tak
ada pancar kesedihan diwajah Oline padahal baru 3 hari setelah keputusan kami.
Usut-demi-usut ternyata dia sedang mengunjungi karabatnya yang tinggal disana.
Kenapa aku tak tau dia punya kerabat di London? See, melihat wajahnya yang mandiri
dan tegar membuatku merasa aku tak bisa hidup tanpanya. Dan aku melakukannya
lagi, kesalahan yang sama untuk yang kesekian kali.
“Kau melamun lagi ya Just?” Oline berdiri garang didepanku
sambil melipat kedua tangan didepan dada.
“Sedikit pusing.” Jawabku seadanya. ‘Pusing memikirkan
bagaimana kita putus dan tidak bertemu lagi denganmu.’ucapku dalam hati.
“Aku kan sudah bilang, jika kau sibuk tak perlu ikut aku ke
Cafe.”
Ohya, aku lupa memberi tahumu bahwa dia bekerja di sebuah Cafe
kecil dekat rumahku dan disanalah awal pertemuan kami.
Yang ku sukai dari Oline, dia apa adanya dan tak banyak
menuntut. Jika orang lain pusing
memikirkan kekasihnya yang meminta ditemani berbelanja, ke salon, atau tempat
membosankan lainya, aku tidak harus repot menghabiskan waktu seharian penuh untuk bersama Oline.
Aku hanya perlu mengajak dinner Oline saat malam minggu tiba
dan bila aku tak melakukannya pun sepertinya Oline tak mempermasalahkan hal
tersebut. Aku akan bilang ‘Aku sibuk’ , ‘Aku lelah’ , hanya salah satu dari dua
kata tersebut maka Oline akan menerima alasanku.
Karna terlalu cueknya dia kadang aku merasa bosan, aku ingin
tantangan pada hubungan kami. Oline tak pernah menghubungiku sebelum aku yang
menghubunginya terlebih dahulu. Dia juga tak pernah memperlihatkan gelagat
cemburu saat aku berdekatan dengan wanita lain. Oline mengerti aku adalah seorang Fotografer.
Pekerjaaanku menuntutku dekat dengan
semua orang, termasuk model-model cantik. Aku seorang Fotografer tetap di salah
satu perusahaan iklan ternama.
Cemburu? Sepertinya satu kata yang mengandung banyak makna.
Entahlah, mengapa aku merasa ‘cemburu’ adalah kata yang ampuh agar aku bisa
putus dengan Oline dan tidak akan pernah kembali lagi dengannya karna sekuat
apapun aku mememohon Oline tak akan menerimaku kembali jadi aku tak takkan
menyesal pada akhirnya.
;
;
;
“Hallo.”
“Hay Just, ini Alex. Apa aku mengganggu malammu?.” Alex? Aku
menyerit, mencoba mengingat wanita yang bernama Alex. Alex, tetanggaku yang
berumur 5 tahun atau Alex, teman Oline berkerja? Tapi, bukankah dia sudah
meninggal satu bulan yang lalu akibat sebuah kecelakaan? Tanganku mulai
bergetar, berlahan menjauhkan ponsel dari telingaku.
“Kau lupa ya? Aku, Alex model majalah ‘Happen’. Ingat ?” Suara
halus dari sebrang sana. Aku berfikir keras mengingat nama Alex. Seorang model?
“ Ya, aku ingat. Bagaimana kabarmu?” Jawabku mendekatkan
lagi ponsel ke telinga kananku setelah ku yakin dia bukan hantu. Dia, Alex Devonar,
Model cantik nan ramah.
Aku pernah jadi Fotografer sementara Majalah ‘Heppen’ dan
Alex jadi modelnya. Dia memang pernah meminta nomorku, aku yang punya julukan
pria terramah tahun 2030 tentu saja langsung memberi yang Alex minta secara
percuma.
“Kau sibuk?” Tanya Alex tanpa menjawab pertanyaanku.
“Tidak, ada apa?”
“Aku,,aku,,” Alex dengan suara bergetar, dia seperti sedang
menangis.
“Kau kenapa?” Tanyaku
panic. Siapa yang tidak panic ? Tak ada hujan, tak ada angin tiba-tiba
seorang wanita menelfonmu dan menangis kepadamu. Alex tidak mungkin meminta
pertangungjawaban, memaksaku menikah
dengannya karna aku tak pernah lakukan apapun terhadapnya.
“Aku sedang berada di Light’s Cafe. Setahuku ini dekat dengan
rumahmu. Bisakah kau kesini sebentar? Aku butuh kau.”
Sambungan terputus.
Aku menelan ludah dengan berat. Y a Tuhan, cobaan apa lagi
ini?
Secepat kilat aku mengambil kunci mobil yang berada diatas
meja kamarku. Melajukan mobil ke tempat yang dimaksud Alex dengan segera.
Diperjalanan aku sempat berfikir, Light’s Cafe adalah tempat bekerja Oline.
Mungkin Tuhan mengirimkan Alex untuk membantuku terbebas dari Oline, tak ada
salahnya dicoba.
Tidak lama aku sudah sampai di Light’s Café. Aku melihat diujung sana ada
seorang wanita nampak menagis kesenggukan. Aku menghampirinya ragu, takut kalau
aku salah orang. Namun, jika dilihat dari segi penampilannya tentu wanita ini
adalah seorang model.
“Alex.” Suara beratku menyapanya.
“Justin.” Dia mendongak dan langsung memelukku erat. “Terima
kasih kau sudah datang.” Ucapnya masih dalam pelukan.
“Ada ada denganmu?” Tanyaku seraya melepas pelukan. Aku
merasa risih diperlakukan seperti ini, banyak orang yang memusatkan perhatian
pada aku dan Alex.
“Maaf.” Ucapnya lirih sambil kembali duduk.
Lalu aku pun mengukuti untuk duduk dikursi sebrang, sebuah
meja menjadi pemisah.
“Aku putus dengan Daniel, Just.” Tangis Alex semakin keras.
Aku menengok kiri-kanan , orang-orang sedang menatapku
tajam. Sungguh aku tak lakukan apapun kepadanya.
Aku menggaruk tengkuk. Daniel? Siapa dia? Bisakah katakan
lebih jelas ?
Seolah bisa membaca raut kebingunanku, Alex berkata, “Dia
pacarku, kami sudah menjalin hubungan selama setahun lebih dan dia memutuskanku
dengan alasan aku terlalu sibuk menjadi model.” Tangis Alex menjadi-jadi.
Aku menepuk punggungnya pelan. Hanya itu yang bisa ku
lakukan.
“Justin.” Suara pelan wanita yang sangat ku kenal.
Aku dan Alex
menaikkan kepala bersamaan.
“Siapa dia, Just?” Tanya Alex padaku.
“Alex, ini pacarku Oline.” Aku memperkenalkan Oline pada
Alex bukan memperkenalkan Alex pada Oline. Orang lain mungkin akan mengutukku
saat itu juga. Tapi, aku masih santai, bukankah Oline wanita yang pengertian?
“Maaf, aku kira Justin belum punya pacar.” Alex menghapus
sisa air mata yang masih tertinggal dipipi.
“Akan ku talfon kau nanti malam jika aku tak sibuk, sekarang
aku mau mengantarnya pulang.” Ucapku pada Oline, aku membantu Alex berdiri dari
duduknya berjalan meninggalkan Oline yang masih berdiri dengan posisi yang tak
berubah. Kami saling beradu punggung.
;
“Maaf Just. Aku tak tau kau sudah punya kekasih.” Ucap Alex
diperjalanan menuju rumahnya.
“Tak masalah, dia cukup pengertian.” Jelasku.
“Benarkah? Apa dia juga akan pengertian jika kau selingkuh?”
Aku diam. Aku tak tau harus jawab apa. Sebuah pertanyaan
yang memang tak pantas dijawab.
“Ku rasa kau tak mencintainya Just.”
Aku dan Alex tidak terlalu saling mengenal, bahkan dia baru
bertemu Oline pertama kali. Mengapa bisa bersuasi seperti itu?
;
;
Malam tiba. Aku mengendus, ku lihat layar ponsel dan benar! Oline
tidak menghubungiku sama-sekali. Wanita lain mungkin akan meminta
penjelasan,meneror dengan kata-kata tak terima atau apalah. Tapi Oline?
Biarkan saja. Memangnya aku akan menghubunginya? Tidak akan. Dia juga tak perduli denganku.
;
;
“Kenapa tak menghubungiku tadi malam?” Oline meletakkan
secangkir Capucino diatas meja. Untuk
yang pertama kalinya dia meminta penjelasan atas tindakanku.
“Aku lelah.” Jawabku singkat.
Lalu dia pergi. Sifat aslinya muncul kembali, Cuek dan
jutek. Aku tak tau dia cemburu atau tak perduli, dia selalu bersikap seperti
itu.
“Hay Just.” Alex menelfonku lagi. “Bisa kita bertemu? Tapi
jangan di Café kemarin, aku tak enak dengan kekasihmu.”
“Baiklah. Dimana?” Ada perasaan senang ketika Alex
mengajakku bertemu. Dia bukan gadis yang buruk untuk diajak berkencan.
Eh? Kenapa aku berfikir seperti ini? Aku juga tak tau.
Hubunganku dengan Oline seolah hilang begitu saja dalam pikiranku saat
mendengar suara merdu Alex.
;
;
;
Aku dan Alex sering bertukar cerita. Dia menceritakan banyak
tentang mantan kekasihya , begitu juga dengan aku, aku menceritakan banyak hal
tentang hidupku termasuk rahasia dibalik hubunganku dengan Oline. Hingga suatu
ketika, Setan apa yang masuk kedalam otakku, saat Alex bilang dia mencintaiku
dan aku pun mengatakan bahwa aku juga mencintainya sedang statusku masih
berpacaran dengan Oline.
2 bulan sudah aku
menjalin hubungan gelap dengan Alex. Alex mengisi ruang hatiku yang kosong.
Ruang yang Oline tak ada disana. Oline berada diruang lain, ruangan yang
semakin lama seolah semakin menghilang.
“Kapan kau akan memutuskanOline?” Tanya Alex terkesan memerintah.
“Belum tau.” Aku menaikkan bahu.
“Jika kau tak segera memutuskannya, maka aku akan mengatakan
hubungan kita.” Ancam Alex.
Oline tak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Oline selalu
menerima apa yang ku lakukan, selama itu
masih didalam norma.
;
;
Hari ini, pagi-pagi sekali aku mendatangi Light’s Café. Aku
harus akhiri hubunganku dengan Oline, tak seharusnya aku menghukum Oline dalam
hubungan tak berarti ini.
Saat aku masuk ke dapur, teman-teman Oline menatapku dengan
garang seolah aku adalah umpan yang siap dimangsa.
“Dimana Oline?” Tanyaku pada mereka, karna sedari tadi
mataku menelusuri tak ada Oline disana.
“Belum puaskah kau menyakiti Oline? Sebaiknya kau cepat
angkat kaki dari sini sebelum kepalamu menjadi hidangan pembuka.” Leo, salah
satu pekerja disini mengebrak meja.
“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Hay, Tuan Biaber yang terhormat.” Liana, pekerja paling tua
di Light’s Café, menghampiriku.
“Selingkuhan anda, Model cantik, entah siapa itu namanya.
Kemarin datang kemari. Mencaci Oline dengan kasarnya. Mengatakan bahwa Oline
tak pantas berpacaran dengan anda. Dan dia juga bilang kalian sudah menjalin
hubungan dengan diam-diam selama 2 bulan.”
Alex? Anak itu. Tanganku mengepal. Dia menghancurkan
segalanya.
DUG!
Tiba-tiba Rey, teman dekat Oline menendang daguku hingga aku
jatuh.
“Kurang baik apa Oline untukmu? Bahkan aku tak menyangka ada
gadis sebaik dia. Dia rela mengorbankan perasaanya untuk kebahagianmu. Jika aku
jadi Oline, sudah ku bakar kau hidup-hidup.”
;
;
;
Dengan emosi yang meluap aku datang ke Apartemen Alex. Aku
memutuskannya saat itu juga. Dia sempat tak terima dengan keputusanku tapi aku
tak perduli. Dia sudah menyakiti Oline. Aku tak rela jika ada yang berbicara
kasar pada Oline.
;
Satu minggu tlah berlalu sejak kejadian di Light’s Café dan aku belum punya keberanian untuk datang
kerumah Oline atau sekedar menelfonnya. Aku merasa, aku adalah manusia paling
tercela.
Aku berada di ruang meeting sekarang. Untuk membicarakan
iklan cosmetic yang sedang dipegang perusahaan dan aku jadi Fotografernya.
“Kau putus lagi dengan Oline?” Tanya Bella padaku. Membuat aku semakin merindukan Oline. Aku ingin
bertemu dengannya.
Bella adalah atasanku tapi umurnya setara denganku jadi dia menyuruh
akuuntuk memanggilnya Bella saja. Bella selalu tau jika aku punya masalah, jadi
tanpa dipaksa pun aku bercerita sendiri kepada Bella tentang masalahku. Dia tau
semua tentang hidupku, termasuk Oline.
“Lupakan Oline, Just.” Bella menarik pergelangan tanganku.
“Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sejak lama.” Dia terhenti.
“Katakan saja.” Ucapku memberi keyakinan.
“Justin,aku mencintaimu. Tapi, Kau masih berstatus pacar Oline
dan kini kalian tak bersama lagi jadi biarkan aku masuk. Aku bisa berikan lebih
dari yang kau dapat dari Oline.”
Melihat wajah Bella yang memelas, aku jadi tidak tega. Tapi
Aku harus berkata jujur sebelum lebih banyak orang yang ku sakiti.
“Aku menganggapmu sebagai sahabat terbaikku,Bell. Maaf, aku
tau mau kehilangan lebih banyak orang lagi.” Aku menolak Bella dengan halus.
;
“Just, sudah bertemu dengan Oline?” Tanya Ben sebelum
meeting dimulai.
Aku diam. Sedang tidak mood membicarakan Oline.
“Tadi aku bertemu dia didepan ruangan ini. Saat ku tanya, dia
malah lari sambil menangis. Kau ada masalah denganya?”
Oline? Kesini? Menangis? Hatiku semakin sakit saat mendengar
ia menangis. Apakah dia menangis untukku? Sungguh Oln, jangan lakukan itu.
Jangan buang air matamu dengan percuma untuk lelaki seperti aku.
Aku bergegas keluar ruangan Meeting, tak perduli orang-orang
didalamnya. Ben bilang, dia bertemu dengan Oline 5 menit yang lalu jadi
kira-kira dia masih di lobi. Aku akan terima jika dipecat, masih banyak
pekerjaan lain. Tapi Oline hanya satu di dunia ini.
Aku mencoba membuka pintu lift, tapi tak bisa. Lift masih
berjalan. Aku tak sabar, membutuhkan waktu lama jika menunggu. Akhirnya ku
putuskan untuk mengunakan tangga menuju lantai satu, aku berada dilantai dua
jadi aku masih kuat jika langsung bertemu Oline.
Baru ditengah perlajanan nafasku mulai sesak. Ayo, sedikit
lagi Justin, atau kau tak akan bertemu Oline sampai maut menjemputmu.
Aku berusaha keras untuk berlari sekencang mungkin, tapi
saat aku di lobi Oline tak ada disana.
Dia sudah keluar gedung? Cepat sekali.
Aku keluar melihat ke penjuru. Mataku terhenti disebuah
Halte Bus. Oline sedang menangis,
kepalanya bersender pada tiang seolah beban yang ada ditubuhnya sangat berat.
“Oline, dengarkan aku.” Aku berjongkok didepannya, tapi Oline
diam, mengabaikanku.
Dia menangis, tak pernah ku lihat Oline sesedih ini. Matanya
menerawang jauh seolah aku tak ada di
depannya.
“Kenapa kau lakukan ini padaku,Just?” Akhirnya Oline
berucap, meski bukan kata yang indah tapi aku cukup senang karna dia masih
menganggapku ada.
“Aku tak tau, Oln. Aku minta maaf. Aku hanya kesepian. Tapi
aku sudah menagkhiri hubunganku dengan Alex.” Jelasku.
“Bukan,,,bukan,,,” Oline menggelengkan kepala sambil menangis.
Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Tolong jangan
menangis, itu terlalu berlebihan jika kau melakunnya karnaku. Aku tertunduk tak
kuasa melihat wajahnya yang terus basah.
“Kenapa kau tak bilang hidupmu tersiksa selama 3 tahun
bersamaku?”
DERR! Ucapan Oline bagai petir menyambar ulu hatiku. Dari
mana dia tau?
“Alex mengatakannya padaku. Awalnya Aku hanya ingin minta
maaf, tapi setelah melihatmu dengan Bella, apapun yang ku lakukan sepertinya
tak ada gunanya.” Oline kesenggukan.
“Aku rela jika kau bahagia dengan Alex, atau dengan Bella,
atau siapapun yang lebih baik dari pada aku. Aku hanya sakit karna kau tak
berkata jujur padaku, Just. Tau bagaimana rasanya menyiksa orang yang kau
cintai tanpa kau sadari? Sakit, Just. Disini.” Cassie menunjukkan hatinya. Aku
sudah merasakanya Oline. Aku mencintaimu dan sungguh menyakitkan melihatmu
kecewa karnaku.
“Apa kau berniat membalasku dengan berselingkuh? Selamat Kau
berhasil.” Sesekali Oline mencoba mentralkan suaranya agar terdengar jelas.
“Oh, mungkin tidak. Kau bahkan tak pernah menganggapku ada,
kau tak mencintaiku, kau hanya kasian karna aku tak pernah punya kekasih selain
dirimu. Pernah kah kau berfikir? Kau yang membuat aku tak bisa lepas darimu, aku
tak bisa Cintai laki-laki lain, Just. Mengertilah.”
Aku tak sanggup. Mendengar curahan hatinya. Hentikan Oline! Jangan
buatku semakin sakit.
“Justin Drew Bieber, Kita berakhir. Selamanya! Seperti yang
kau inginkan, aku tak kan pernah kembali padamu meski sekuat apapun kau
meminta. Maaf menjadi beban hidupmu.” Oline pergi dariku, meninggalkan banyak
kata untukku cerna.
“OLINE!” Aku berteriak memanggil namanya . Bus membawanya
menjauh, jauh, dan jauh.
Saat itulah aku tersadar, aku bukan siapa-siapa tanpa Oline.
Dia memang tidak seperti gadis lainnya, Oline istimewa, dia mencintaiku dengan
caranya, cara yang istimewa.
Aku mengejar Bus tadi hingga sekitar 20 meter dari Halte
Bus. Ini konyol, aku tak kan bisa meraihnya. Tak kan pernah bisa.
Nafasku terengah-engah, dadaku semakin sesak. Aku
menghentikan sebuah Taxi untuk membawaku ke rumah Oline bukan Rumah Sakit. Aku
memegangi dadaku yang semakin sakit.
‘Tuhan, tolong jangan sekarang’. Sungguh, aku ingin
menangis.
30 menit. Aku sudah berada didepan rumah Oline. Dari luar
gerbang aku bisa tau Oline mengetahui kedatangan, ku lihat dia menutup korden
kembali saat pandanganku bertemu dengan sosoknya yang mengintipku dari balik
jendela.
“Maafkan aku.” suaraku mulai melemah.
Kurasakan tubuhku berat,kapala pusing, dan aku tersungkur.
Ku dengar suara langkah kaki datang menghampiriku.
“Justin bangun.” Dia mengoyang-goyangkan tubuhku sambil
menangis histeris. Aku kenal dia, sangat.
Aku tak berharap lebih. Dimaafkan? Itu terlalu muluk untuku.
Aku hanya ingin mengatakan satu hal bahwa ‘Aku sangat mencintainya’ tapi aku
tak punya daya. Mengerakan bibir saja aku tak bisa.
“Kak Zayn, tolong Justin.” Oline menjerit meminta
pertolongan pada seseorang yang dianggap kakak.
Lalu semua terasa gelap, aku berada dialam bawah sadarku.
‘
‘
‘
‘
Berlahan aku merasakan ada cahaya yang masuk lewat kelopak
mataku memaksanya untuk terbuka sedikit-demi-sedikit.
Aku merasakan ada sebuah tangan yang mengengam jemariku
dengan hangat. Oline, aku masih ingat betul sentuhan tangannya. Dia sedang tidur membungkuk di kursi sisiku,
menyebunyikan wajahnya.
“Kau sudah bangun?” Zayn, kakak Oline berdiri didepan pintu
sambil tersenyum simpul.
Aku mengangguk kecil, masih belum sanggup melakukan lebih.
Sebenarnya Zayn bukanlah kakak kandung Oline. Orang tua mereka bersahabat dekat, jadi orang
tua Oline penduduk Korea menitipkan anaknya untuk bersekolah di Amerika. Seiring
berjalannya waktu Oline merasa betah disini Ia pun memutuskan untuk menetap
tinggal di Amerika bersama keluarga Zayn. Tentu saja alasan utama Oline adalah
aku,dan menyesalnya aku mengecewakan Oline. Zayn juga sudah mempunyai kekasih
yang amat dicintai, Selena namanya jadi aku tak pernah khawatir mereka –Oline dan
Zayn akan saling jatuh cinta.
“15 jam kau tak sadarkan diri. Kau punya Asma ya?” Tanyanya
lagi, berjalan mendekat.
“Hanya jika terlalu lelah dia akan kambuh.” Jawabku lirih.
“Sudah tau, kau punya penyakit berat. Masih melakukan hal
beresiko.”
Aku hanya tersenyum menaggapi ucapan Zayn.
“Dia.” Zayn melempar pandangan ke Oline.
Aku dan Zayn tersenyum kecil bersama, melihat Oline yang
tidur dengan pulasnya meski dalam posisi yang
tidak nyaman.
“Aku mencintainya.” Ucapku singkat. “Tapi aku tak pantas bersamanya. Dia berhak
dapat yang lebih baik, sepertinya dia pun tak begitu mencintaiku.” Lanjutku
lagi.
“Dia mencintaimu, amat sangat.” Ucap Zayn jelas dan padat,
membuatku sedikit tak percaya.
“Tapi Oline tak parnah cemburu bila aku berdekatan dengan
gadis lain.”
“Kau salah. Setiap hari dia menceritakan padaku perkembangan
hubungannya denganmu. Dia melakukannya karna tak mau menjadi beban untukmu,
menjadi pacarmu saja sudah anugrah terbesar dalam hidupnya. Dia takut
kehilanganmu Just.” Zayn memberi jeda ucapannya.
“Mencoba menjadi sosok sempurna untukmu, mengerti dan
memahamimu sebisa mungkin. Sebenarnya hampir disetiap malam dia menangis
menjerit saat Kau dekat dengan banyak Model. Ya, itulah pekerjaanmu dan dia
harus menerima resiko berpacaran dengan seorang Fotografer.” Ucapan Zayn
terhenti lagi, aku masih setia mendengarnya, aku menunggu lebih banyak.
“Ketika putus denganmu,,” Zayn tertawa samar. Aku tau
mengapa, tentu saja karna aku dan Oline mengalami putus-nyambung beberapa kali.
“Dia pergi ke London sendiri padahal saat itu dia sedang tak punya banyak uang
dan dia lakukan itu hanya untuk menghindar darimu. Tak bertemu dengamu selama
semingu mungkin bisa melupakan kau dengan cepat.”
Dari sekian kata Zayn, ini adalah yang paling sulit ku
terima.
“Bukannya Dia sedang berkunjung ke rumah kerabat?” Tanyaku.
Aku masih ingat betul bahwa Oline berkata Dia sedang berkunjung kerumah
kerabatnya saat itu.
“Hahag,,” Zayn tertawa terbahak. “Dia tidak punya orang terdekat apalagi kerabat diluar Korea, aku
adalah satu-satunya.”
Ucapan Zayn membuatku terkejut bukan kepalang. Oline
membohongiku. Lihat saja nanti, ku pasti dia berakhir ditanganku.
“Ehhh,,,” Oline mengeliat, sepertinya tawa Zayn membuat Adiknya
terbangun.
“Kau sudah sadar, Sayang? Eh,, maksudku Justin.”
Jantungku berdebar hebat saat Oline memanggilku ‘Sayang’,
ini untuk yang pertama kalinya dalam 3 tahun kami berpacaran dia memanggilku ‘Sayang’.
Rasanya Aku ingin melompat kegirangan saat itu juga. Menari hula-hula atau
dance ala Michael Jackson.
“Aku akan bawakan makanan untukmu.” Zayn berlalu dibalik pintu
memberi kesempatan untuk aku dan Oline.
Kulihat mata Oline yang merah dan sembab. Entah, karna tidak
tidur semalaman atau menagis karna melihat keadaanku . Keduanya, mungkin lebih
tepat.
Aku membelai pipi bawah mata Oline yang kusam dan berminyak.
Sudah berapa hari dia tak membersihkan diri? Dasar wanita jorok.
Dia memegang tanganku,menghentikan kegiatan yang aku
nikmati.
“Kita sudah saling mengenal lebih dari 3 tahun jadi kau
pasti tau bagaimana baik dan buruknya aku.”
Oline masih menatap mataku menunggu kelanjutan dari
ucapanku.
“Aku juga tau ini
bukan tempat yang tepat mengatakannya.”
“Katakan Just .” Oline dengan nada sedikit kasar, mungkin dia
sudah geram dengan ucapanku yang berputar-putar.
“Would You marry Me, Oline Maura, please.” Nadaku lemah, memohon.
“Tidak.” Jawabnya singkat.
“Aku memang cuek, tapi aku juga mau dilamar ditempat
romantic , lampu-lampu berwarna mengelilingi, bunga-bunga indah menghiasi
dan,,,,”
Aku menaruh telunjukku didepan bibirnya.
“Aku akan melakukannya setelah keluar dari sini. Sekarang, kau
hanya jawab YA atau TIDAK.”
“Kalau begitu aku juga akan menjawabnya saat kau keluar dari
sini.”
Dia benar-benar membuatku gemas. Aku menarik tangannya
membuat tubuh Oline jatuh ke tubuhku. Aku tau semburan merah tlah menyeruak ke
wajah manisnya.
“Aku anggap itu jawaban untuk YA.” Ucapku terkesan memaksa.
Aku merasakan pelukan hangat dari Oline, tak akan pernah
membiarkan dia lepas dari sisiku.
“Kau berat sekali. Saat kau jadi Mrs.Bieber nanti, cobalah
untuk Diet. Aku tak mau punya istri jelek, jorok, dan gendut.” Ucapku bercanda.
“Kau.” Ucapnya halus sambil mencubit perutku. Suara terindah
yang pernah ku dengar dari seorang wanita selain Ibuku. Aku mencintai Oline,
sangat.
;
;
;
Dan sekarang aku tau
mengapa Tuhan slalu mempertemukan kami disaat yang tak terduga, karna dia
adalah wanita berharga. Dia, Oline Maura adalah seorang yang diciptakan Tuhan
untukku.
Caitlin Beadles AS Bella
Katie lieung as Rey
Patricia Lynn Mallete AS Liana
Ryan AS Ben
Sylvia Fully AS Alex
zayn malik
~
Kritik dan saran ya. :D


Halooooo :)
BalasHapusSalam kenal ^_^! kalau ada waktu, mampir ke blog saya ya ^_^!
Matur nuwun :)
terimakasih sudah datang :)
Hapus