Jumat, 11 Oktober 2013

Just You and Only You


Sebelumnya mau bilang kalau cerita ini pernah aku post di FB JD nama acountnya Bieber’s Story tapi karna aku lupa Password jadi aku gak pernah kesana lagi.
Mohon komentarnya atas story ini.

Hay, Author abal bawa JD OneShoot yang tak kalah ancur.
Pemainnya random banget.

Ada Amerika, Korea, China, Atlanta, campuran German, Indonesia,  pokoknya acak banget  deeeh. Tapi namanya disamarkan ko. Semoga tidak mengecewakan.


SAY NO  TO COPAST.
DON’T BE SILENT READER.

Happy Reading :D


#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

Title       ;              Just You and Only You.
Ganger ;               Romance. (Ga kerasa)
Author ;               Cahya Khosyiah

#*#*#*#*#*#*#*#*#
‘Suatu nanti Kau akan tau bahwa Dia segalanya untukmu’ –Cahya Khosyiah-
Cast :
Justin Bieber
Bae Soo Ji  as Oline Maura




~
~
~


“Perhatikan jalanmu Just!” seorang wanita menegurku dengan suara nyaring yang hampir merusak dendang telinga.

Hay. Namaku Justin Bieber, lekaki kaya, tampan, dan mempesona. Rasanya berat mengatakan bahwa gadis yang membentakku tadi adalah, kekasihku. Gadis galak, jutek dan serampang. Dialah beban hidupku.
Aku juga sering berfikir mengapa aku bisa berpacaran dengannya padahal didalam hatiku tak ada sedikitpun niat mempunyai pacar seorang, Oline Maura. Mungkin aku adalah satu-satu lelaki yang berharap kekasihnya saat ini bukanlah jodohnya dimana depan.
Pernah beberapa kali aku mengalami putus-nyambung dengan Oline tapi kami selalu dipertemukan dalam keadaan yang tak terduga, lalu aku dan Oline menjalin hubungan kembali. Dan lucunya, aku yang meminta dia untuk kembali kepadaku kemudian pada akhirnya aku pula yang menyesal. Melelahkan.
Termasuk saat itu, aku dan Oline baru saja putus , karna takut bertemu dengannya maka aku merencanakan liburan selama seminggu ke London. Dan sialnya, kami tidak sengaja bertemu disebuah pusat perbalanjaan di London. Tak ada pancar kesedihan diwajah Oline padahal baru 3 hari setelah keputusan kami. Usut-demi-usut ternyata dia sedang mengunjungi karabatnya yang tinggal disana. Kenapa aku tak tau dia punya kerabat di London? See, melihat wajahnya yang mandiri dan tegar membuatku merasa aku tak bisa hidup tanpanya. Dan aku melakukannya lagi, kesalahan yang sama untuk yang kesekian kali.
“Kau melamun lagi ya Just?” Oline berdiri garang didepanku sambil melipat kedua tangan didepan dada.
“Sedikit pusing.” Jawabku seadanya. ‘Pusing memikirkan bagaimana kita putus dan tidak bertemu lagi denganmu.’ucapku dalam hati.
“Aku kan sudah bilang, jika kau sibuk tak perlu ikut aku ke Cafe.”
Ohya, aku lupa memberi tahumu bahwa dia bekerja di sebuah Cafe kecil dekat rumahku dan disanalah awal pertemuan kami.
Yang ku sukai dari Oline, dia apa adanya dan tak banyak menuntut.  Jika orang lain pusing memikirkan kekasihnya yang meminta ditemani berbelanja, ke salon, atau tempat membosankan lainya, aku tidak harus repot menghabiskan waktu seharian penuh  untuk bersama Oline.
Aku hanya perlu mengajak dinner Oline saat malam minggu tiba dan bila aku tak melakukannya pun sepertinya Oline tak mempermasalahkan hal tersebut. Aku akan bilang ‘Aku sibuk’ , ‘Aku lelah’ , hanya salah satu dari dua kata tersebut maka Oline akan menerima alasanku.
Karna terlalu cueknya dia kadang aku merasa bosan, aku ingin tantangan pada hubungan kami. Oline tak pernah menghubungiku sebelum aku yang menghubunginya terlebih dahulu. Dia juga tak pernah memperlihatkan gelagat cemburu saat aku berdekatan dengan wanita lain. Oline  mengerti aku adalah seorang Fotografer. Pekerjaaanku  menuntutku dekat dengan semua orang, termasuk model-model cantik. Aku seorang Fotografer tetap di salah satu perusahaan iklan ternama.

Cemburu? Sepertinya satu kata yang mengandung banyak makna. Entahlah, mengapa aku merasa ‘cemburu’ adalah kata yang ampuh agar aku bisa putus dengan Oline dan tidak akan pernah kembali lagi dengannya karna sekuat apapun aku mememohon Oline tak akan menerimaku kembali jadi aku tak takkan menyesal pada akhirnya.
;
;
;
“Hallo.”
“Hay Just, ini Alex. Apa aku mengganggu malammu?.” Alex? Aku menyerit, mencoba mengingat wanita yang bernama Alex. Alex, tetanggaku yang berumur 5 tahun atau Alex, teman Oline berkerja? Tapi, bukankah dia sudah meninggal satu bulan yang lalu akibat sebuah kecelakaan? Tanganku mulai bergetar, berlahan menjauhkan ponsel dari telingaku.
“Kau lupa ya? Aku, Alex model majalah ‘Happen’. Ingat ?” Suara halus dari sebrang sana. Aku berfikir keras mengingat  nama Alex. Seorang model?
“ Ya, aku ingat. Bagaimana kabarmu?” Jawabku mendekatkan lagi ponsel ke telinga kananku setelah ku yakin dia bukan hantu. Dia, Alex Devonar, Model cantik nan ramah.
Aku pernah jadi Fotografer sementara Majalah ‘Heppen’ dan Alex jadi modelnya. Dia memang pernah meminta nomorku, aku yang punya julukan pria terramah tahun 2030 tentu saja langsung memberi yang Alex minta secara percuma.
“Kau sibuk?” Tanya Alex tanpa menjawab pertanyaanku.
“Tidak, ada apa?”
“Aku,,aku,,” Alex dengan suara bergetar, dia seperti sedang menangis.
“Kau kenapa?” Tanyaku  panic. Siapa yang tidak panic ? Tak ada hujan, tak ada angin tiba-tiba seorang wanita menelfonmu dan menangis kepadamu. Alex tidak mungkin meminta pertangungjawaban, memaksaku  menikah dengannya karna aku tak pernah lakukan apapun terhadapnya.
“Aku sedang berada di Light’s Cafe. Setahuku ini dekat dengan rumahmu. Bisakah kau kesini sebentar? Aku butuh kau.”
Sambungan terputus.
Aku menelan ludah dengan berat. Y a Tuhan, cobaan apa lagi ini?
Secepat kilat aku mengambil kunci mobil yang berada diatas meja kamarku. Melajukan mobil ke tempat yang dimaksud Alex dengan segera. Diperjalanan aku sempat berfikir, Light’s Cafe adalah tempat bekerja Oline. Mungkin Tuhan mengirimkan Alex untuk membantuku terbebas dari Oline, tak ada salahnya dicoba.
Tidak lama aku sudah sampai di  Light’s Café. Aku melihat diujung sana ada seorang wanita nampak menagis kesenggukan. Aku menghampirinya ragu, takut kalau aku salah orang. Namun, jika dilihat dari segi penampilannya tentu wanita ini adalah seorang model.
“Alex.” Suara beratku menyapanya.
“Justin.” Dia mendongak dan langsung memelukku erat. “Terima kasih kau sudah datang.” Ucapnya masih dalam pelukan.
“Ada ada denganmu?” Tanyaku seraya melepas pelukan. Aku merasa risih diperlakukan seperti ini, banyak orang yang memusatkan perhatian pada aku dan Alex.
“Maaf.” Ucapnya lirih sambil kembali duduk.
Lalu aku pun mengukuti untuk duduk dikursi sebrang, sebuah meja menjadi pemisah.
“Aku putus dengan Daniel, Just.” Tangis Alex semakin keras.
Aku menengok kiri-kanan , orang-orang sedang menatapku tajam. Sungguh aku tak lakukan apapun kepadanya.
Aku menggaruk tengkuk. Daniel? Siapa dia? Bisakah katakan lebih jelas ?
Seolah bisa membaca raut kebingunanku, Alex berkata, “Dia pacarku, kami sudah menjalin hubungan selama setahun lebih dan dia memutuskanku dengan alasan aku terlalu sibuk menjadi model.” Tangis Alex menjadi-jadi.
Aku menepuk punggungnya pelan. Hanya itu yang bisa ku lakukan.
“Justin.” Suara pelan wanita yang sangat ku kenal.
 Aku dan Alex menaikkan kepala bersamaan.
“Siapa dia, Just?” Tanya Alex padaku.
“Alex, ini pacarku Oline.” Aku memperkenalkan Oline pada Alex bukan memperkenalkan Alex pada Oline. Orang lain mungkin akan mengutukku saat itu juga. Tapi, aku masih santai, bukankah Oline wanita yang pengertian?
“Maaf, aku kira Justin belum punya pacar.” Alex menghapus sisa air mata yang masih tertinggal dipipi.
“Akan ku talfon kau nanti malam jika aku tak sibuk, sekarang aku mau mengantarnya pulang.” Ucapku pada Oline, aku membantu Alex berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan Oline yang masih berdiri dengan posisi yang tak berubah. Kami saling beradu punggung.
;

“Maaf Just. Aku tak tau kau sudah punya kekasih.” Ucap Alex diperjalanan menuju rumahnya.
“Tak masalah, dia cukup pengertian.” Jelasku.
“Benarkah? Apa dia juga akan pengertian jika kau selingkuh?”
Aku diam. Aku tak tau harus jawab apa. Sebuah pertanyaan yang memang tak pantas dijawab.
“Ku rasa kau tak mencintainya Just.”
Aku dan Alex tidak terlalu saling mengenal, bahkan dia baru bertemu Oline pertama kali. Mengapa bisa bersuasi seperti itu?

;
;
Malam tiba. Aku mengendus, ku lihat layar ponsel dan benar! Oline tidak menghubungiku sama-sekali. Wanita lain mungkin akan meminta penjelasan,meneror dengan kata-kata tak terima atau apalah. Tapi Oline?
Biarkan saja. Memangnya aku akan menghubunginya?  Tidak akan. Dia juga tak perduli denganku.
;
;
“Kenapa tak menghubungiku tadi malam?” Oline meletakkan secangkir Capucino  diatas meja. Untuk yang pertama kalinya dia meminta penjelasan atas tindakanku.
“Aku lelah.” Jawabku singkat.
Lalu dia pergi. Sifat aslinya muncul kembali, Cuek dan jutek. Aku tak tau dia cemburu atau tak perduli, dia selalu bersikap seperti itu.
“Hay Just.” Alex menelfonku lagi. “Bisa kita bertemu? Tapi jangan di Café kemarin, aku tak enak dengan kekasihmu.”
“Baiklah. Dimana?” Ada perasaan senang ketika Alex mengajakku bertemu. Dia bukan gadis yang buruk untuk diajak berkencan.
Eh? Kenapa aku berfikir seperti ini? Aku juga tak tau. Hubunganku dengan Oline seolah hilang begitu saja dalam pikiranku saat mendengar  suara merdu Alex.
;
;
;
Aku dan Alex sering bertukar cerita. Dia menceritakan banyak tentang mantan kekasihya , begitu juga dengan aku, aku menceritakan banyak hal tentang hidupku termasuk rahasia dibalik hubunganku dengan Oline. Hingga suatu ketika, Setan apa yang masuk kedalam otakku, saat Alex bilang dia mencintaiku dan aku pun mengatakan bahwa aku juga mencintainya sedang statusku masih berpacaran dengan Oline.
 2 bulan sudah aku menjalin hubungan gelap dengan Alex. Alex mengisi ruang hatiku yang kosong. Ruang yang Oline tak ada disana. Oline berada diruang lain, ruangan yang semakin lama seolah semakin menghilang.
“Kapan kau akan memutuskanOline?” Tanya Alex terkesan memerintah.
“Belum tau.” Aku menaikkan bahu.
“Jika kau tak segera memutuskannya, maka aku akan mengatakan hubungan kita.” Ancam Alex.
Oline tak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Oline selalu menerima apa yang  ku lakukan, selama itu masih didalam norma.
;
;
Hari ini, pagi-pagi sekali aku mendatangi Light’s Café. Aku harus akhiri hubunganku dengan Oline, tak seharusnya aku menghukum Oline dalam hubungan tak berarti ini.
Saat aku masuk ke dapur, teman-teman Oline menatapku dengan garang seolah aku adalah umpan yang siap dimangsa.
“Dimana Oline?” Tanyaku pada mereka, karna sedari tadi mataku menelusuri tak ada Oline disana.
“Belum puaskah kau menyakiti Oline? Sebaiknya kau cepat angkat kaki dari sini sebelum kepalamu menjadi hidangan pembuka.” Leo, salah satu pekerja disini mengebrak meja.
“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Hay, Tuan Biaber yang terhormat.” Liana, pekerja paling tua di Light’s Café, menghampiriku.
“Selingkuhan anda, Model cantik, entah siapa itu namanya. Kemarin datang kemari. Mencaci Oline dengan kasarnya. Mengatakan bahwa Oline tak pantas berpacaran dengan anda. Dan dia juga bilang kalian sudah menjalin hubungan dengan diam-diam selama 2 bulan.”
Alex? Anak itu. Tanganku mengepal. Dia menghancurkan segalanya.

DUG!
Tiba-tiba Rey, teman dekat Oline menendang daguku hingga aku jatuh.
“Kurang baik apa Oline untukmu? Bahkan aku tak menyangka ada gadis sebaik dia. Dia rela mengorbankan perasaanya untuk kebahagianmu. Jika aku jadi Oline, sudah ku bakar kau hidup-hidup.”
;
;
;
Dengan emosi yang meluap aku datang ke Apartemen Alex. Aku memutuskannya saat itu juga. Dia sempat tak terima dengan keputusanku tapi aku tak perduli. Dia sudah menyakiti Oline. Aku tak rela jika ada yang berbicara kasar pada Oline.
;
Satu minggu tlah berlalu sejak kejadian di Light’s Café  dan aku belum punya keberanian untuk datang kerumah Oline atau sekedar menelfonnya. Aku merasa, aku adalah manusia paling tercela.
Aku berada di ruang meeting sekarang. Untuk membicarakan iklan cosmetic yang sedang dipegang perusahaan dan aku jadi Fotografernya.
“Kau putus lagi dengan Oline?” Tanya Bella padaku. Membuat  aku semakin merindukan Oline. Aku ingin bertemu dengannya.
Bella adalah atasanku tapi umurnya setara denganku jadi dia menyuruh akuuntuk memanggilnya Bella saja. Bella selalu tau jika aku punya masalah, jadi tanpa dipaksa pun aku bercerita sendiri kepada Bella tentang masalahku. Dia tau semua tentang hidupku, termasuk Oline.
“Lupakan Oline, Just.” Bella menarik pergelangan tanganku. “Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sejak lama.” Dia terhenti.
“Katakan saja.” Ucapku memberi keyakinan.
“Justin,aku mencintaimu. Tapi, Kau masih berstatus pacar Oline dan kini kalian tak bersama lagi jadi biarkan aku masuk. Aku bisa berikan lebih dari yang kau dapat dari Oline.”
Melihat wajah Bella yang memelas, aku jadi tidak tega. Tapi Aku harus berkata jujur sebelum lebih banyak orang yang ku sakiti.
“Aku menganggapmu sebagai sahabat terbaikku,Bell. Maaf, aku tau mau kehilangan lebih banyak orang lagi.” Aku menolak Bella dengan halus.
;
“Just, sudah bertemu dengan Oline?” Tanya Ben sebelum meeting dimulai.
Aku diam. Sedang tidak mood membicarakan Oline.
“Tadi aku bertemu dia didepan ruangan ini. Saat ku tanya, dia malah lari sambil menangis. Kau ada masalah denganya?”
Oline? Kesini? Menangis? Hatiku semakin sakit saat mendengar ia menangis. Apakah dia menangis untukku? Sungguh Oln, jangan lakukan itu. Jangan buang air matamu dengan percuma untuk lelaki seperti aku.
Aku bergegas keluar ruangan Meeting, tak perduli orang-orang didalamnya. Ben bilang, dia bertemu dengan Oline 5 menit yang lalu jadi kira-kira dia masih di lobi. Aku akan terima jika dipecat, masih banyak pekerjaan lain. Tapi Oline hanya satu di dunia ini.
Aku mencoba membuka pintu lift, tapi tak bisa. Lift masih berjalan. Aku tak sabar, membutuhkan waktu lama jika menunggu. Akhirnya ku putuskan untuk mengunakan tangga menuju lantai satu, aku berada dilantai dua jadi aku masih kuat jika langsung bertemu Oline.

Baru ditengah perlajanan nafasku mulai sesak. Ayo, sedikit lagi Justin, atau kau tak akan bertemu Oline sampai maut menjemputmu.
Aku berusaha keras untuk berlari sekencang mungkin, tapi saat aku di lobi Oline tak ada disana.
Dia sudah keluar gedung? Cepat sekali.
Aku keluar melihat ke penjuru. Mataku terhenti disebuah Halte Bus. Oline  sedang menangis, kepalanya bersender pada tiang seolah beban yang ada ditubuhnya sangat berat.
“Oline, dengarkan aku.” Aku berjongkok didepannya, tapi Oline diam, mengabaikanku.
Dia menangis, tak pernah ku lihat Oline sesedih ini. Matanya menerawang  jauh seolah aku tak ada di depannya.
“Kenapa kau lakukan ini padaku,Just?” Akhirnya Oline berucap, meski bukan kata yang indah tapi aku cukup senang karna dia masih menganggapku ada.
“Aku tak tau, Oln. Aku minta maaf. Aku hanya kesepian. Tapi aku sudah menagkhiri hubunganku dengan Alex.” Jelasku.
“Bukan,,,bukan,,,” Oline menggelengkan kepala sambil  menangis.
Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Tolong jangan menangis, itu terlalu berlebihan jika kau melakunnya karnaku. Aku tertunduk tak kuasa melihat wajahnya yang terus basah.
“Kenapa kau tak bilang hidupmu tersiksa selama 3 tahun bersamaku?”
DERR! Ucapan Oline bagai petir menyambar ulu hatiku. Dari mana dia tau?
“Alex mengatakannya padaku. Awalnya Aku hanya ingin minta maaf, tapi setelah melihatmu dengan Bella, apapun yang ku lakukan sepertinya tak ada gunanya.” Oline kesenggukan.
“Aku rela jika kau bahagia dengan Alex, atau dengan Bella, atau siapapun yang lebih baik dari pada aku. Aku hanya sakit karna kau tak berkata jujur padaku, Just. Tau bagaimana rasanya menyiksa orang yang kau cintai tanpa kau sadari? Sakit, Just. Disini.” Cassie menunjukkan hatinya. Aku sudah merasakanya Oline. Aku mencintaimu dan sungguh menyakitkan melihatmu kecewa karnaku.
“Apa kau berniat membalasku dengan berselingkuh? Selamat Kau berhasil.” Sesekali Oline mencoba mentralkan suaranya agar terdengar jelas.
“Oh, mungkin tidak. Kau bahkan tak pernah menganggapku ada, kau tak mencintaiku, kau hanya kasian karna aku tak pernah punya kekasih selain dirimu. Pernah kah kau berfikir? Kau yang membuat aku tak bisa lepas darimu, aku tak bisa Cintai laki-laki lain, Just. Mengertilah.”
Aku tak sanggup. Mendengar curahan hatinya. Hentikan Oline! Jangan buatku semakin sakit.
“Justin Drew Bieber, Kita berakhir. Selamanya! Seperti yang kau inginkan, aku tak kan pernah kembali padamu meski sekuat apapun kau meminta. Maaf menjadi beban hidupmu.” Oline pergi dariku, meninggalkan banyak kata untukku cerna.
“OLINE!” Aku berteriak memanggil namanya . Bus membawanya menjauh, jauh, dan jauh.
Saat itulah aku tersadar, aku bukan siapa-siapa tanpa Oline. Dia memang tidak seperti gadis lainnya, Oline istimewa, dia mencintaiku dengan caranya, cara yang istimewa.
Aku mengejar Bus tadi hingga sekitar 20 meter dari Halte Bus. Ini konyol, aku tak kan bisa meraihnya. Tak kan pernah bisa.
Nafasku terengah-engah, dadaku semakin sesak. Aku menghentikan sebuah Taxi untuk membawaku ke rumah Oline bukan Rumah Sakit. Aku memegangi dadaku yang semakin sakit.

‘Tuhan, tolong jangan sekarang’. Sungguh, aku ingin menangis.

30 menit. Aku sudah berada didepan rumah Oline. Dari luar gerbang aku bisa tau Oline mengetahui kedatangan, ku lihat dia menutup korden kembali saat pandanganku bertemu dengan sosoknya yang mengintipku dari balik jendela.
“Maafkan aku.” suaraku mulai melemah.
Kurasakan tubuhku berat,kapala pusing, dan aku tersungkur.
Ku dengar suara langkah kaki datang menghampiriku.
“Justin bangun.” Dia mengoyang-goyangkan tubuhku sambil menangis histeris. Aku kenal dia, sangat.
Aku tak berharap lebih. Dimaafkan? Itu terlalu muluk untuku. Aku hanya ingin mengatakan satu hal bahwa ‘Aku sangat mencintainya’ tapi aku tak punya daya. Mengerakan bibir saja aku tak bisa.
“Kak Zayn, tolong Justin.” Oline menjerit meminta pertolongan pada seseorang yang dianggap kakak.
Lalu semua terasa gelap, aku berada dialam bawah sadarku.
Berlahan aku merasakan ada cahaya yang masuk lewat kelopak mataku memaksanya untuk terbuka sedikit-demi-sedikit.
Aku merasakan ada sebuah tangan yang mengengam jemariku dengan hangat. Oline, aku masih ingat betul sentuhan tangannya. Dia sedang  tidur membungkuk di kursi sisiku, menyebunyikan wajahnya.
“Kau sudah bangun?” Zayn, kakak Oline berdiri didepan pintu sambil tersenyum simpul.
Aku mengangguk kecil, masih belum sanggup melakukan lebih.

Sebenarnya Zayn bukanlah kakak kandung Oline.  Orang tua mereka bersahabat dekat, jadi orang tua Oline penduduk Korea menitipkan anaknya untuk bersekolah di Amerika. Seiring berjalannya waktu Oline merasa betah disini Ia pun memutuskan untuk menetap tinggal di Amerika bersama keluarga Zayn. Tentu saja alasan utama Oline adalah aku,dan menyesalnya aku mengecewakan Oline. Zayn juga sudah mempunyai kekasih yang amat dicintai, Selena namanya jadi aku tak pernah khawatir mereka –Oline dan Zayn akan saling jatuh cinta.

“15 jam kau tak sadarkan diri. Kau punya Asma ya?” Tanyanya lagi, berjalan mendekat.
“Hanya jika terlalu lelah dia akan kambuh.” Jawabku lirih.
“Sudah tau, kau punya penyakit berat. Masih melakukan hal beresiko.”
Aku hanya tersenyum menaggapi ucapan Zayn.
“Dia.” Zayn melempar pandangan ke Oline.
Aku dan Zayn tersenyum kecil bersama, melihat Oline yang tidur dengan pulasnya meski dalam posisi yang  tidak nyaman.
“Aku mencintainya.” Ucapku singkat.  “Tapi aku tak pantas bersamanya. Dia berhak dapat yang lebih baik, sepertinya dia pun tak begitu mencintaiku.” Lanjutku lagi.
“Dia mencintaimu, amat sangat.” Ucap Zayn jelas dan padat, membuatku sedikit tak percaya.
“Tapi Oline tak parnah cemburu bila aku berdekatan dengan gadis lain.”
“Kau salah. Setiap hari dia menceritakan padaku perkembangan hubungannya denganmu. Dia melakukannya karna tak mau menjadi beban untukmu, menjadi pacarmu saja sudah anugrah terbesar dalam hidupnya. Dia takut kehilanganmu Just.” Zayn memberi jeda ucapannya.
“Mencoba menjadi sosok sempurna untukmu, mengerti dan memahamimu sebisa mungkin. Sebenarnya hampir disetiap malam dia menangis menjerit saat Kau dekat dengan banyak Model. Ya, itulah pekerjaanmu dan dia harus menerima resiko berpacaran dengan seorang Fotografer.” Ucapan Zayn terhenti lagi, aku masih setia mendengarnya, aku menunggu lebih banyak.
“Ketika putus denganmu,,” Zayn tertawa samar. Aku tau mengapa, tentu saja karna aku dan Oline mengalami putus-nyambung beberapa kali. “Dia pergi ke London sendiri padahal saat itu dia sedang tak punya banyak uang dan dia lakukan itu hanya untuk menghindar darimu. Tak bertemu dengamu selama semingu mungkin bisa melupakan kau dengan cepat.”
Dari sekian kata Zayn, ini adalah yang paling sulit ku terima.
“Bukannya Dia sedang berkunjung ke rumah kerabat?” Tanyaku. Aku masih ingat betul bahwa Oline berkata Dia sedang berkunjung kerumah kerabatnya saat itu.
“Hahag,,” Zayn tertawa terbahak. “Dia tidak punya orang  terdekat apalagi kerabat diluar Korea, aku adalah satu-satunya.”
Ucapan Zayn membuatku terkejut bukan kepalang. Oline membohongiku. Lihat saja nanti, ku pasti dia berakhir ditanganku.
“Ehhh,,,” Oline mengeliat, sepertinya tawa Zayn membuat Adiknya terbangun.
“Kau sudah sadar, Sayang? Eh,, maksudku Justin.”
Jantungku berdebar hebat saat Oline memanggilku ‘Sayang’, ini untuk yang pertama kalinya dalam 3 tahun kami berpacaran dia memanggilku ‘Sayang’. Rasanya Aku ingin melompat kegirangan saat itu juga. Menari hula-hula atau dance ala Michael Jackson.
“Aku akan bawakan makanan untukmu.” Zayn berlalu dibalik pintu memberi kesempatan untuk  aku dan Oline.
Kulihat mata Oline yang merah dan sembab. Entah, karna tidak tidur semalaman atau menagis karna melihat keadaanku . Keduanya, mungkin lebih tepat.
Aku membelai pipi bawah mata Oline yang kusam dan berminyak. Sudah berapa hari dia tak membersihkan diri? Dasar wanita jorok.
Dia memegang tanganku,menghentikan kegiatan yang aku nikmati.
“Kita sudah saling mengenal lebih dari 3 tahun jadi kau pasti tau bagaimana baik dan buruknya aku.”
Oline masih menatap mataku menunggu kelanjutan dari ucapanku.
 “Aku juga tau ini bukan tempat yang tepat mengatakannya.”
“Katakan Just .” Oline dengan nada sedikit kasar, mungkin dia sudah geram dengan ucapanku yang berputar-putar.
“Would You marry Me, Oline Maura, please.” Nadaku lemah, memohon.
“Tidak.” Jawabnya singkat.
“Aku memang cuek, tapi aku juga mau dilamar ditempat romantic , lampu-lampu berwarna mengelilingi, bunga-bunga indah menghiasi dan,,,,”
Aku menaruh telunjukku didepan bibirnya.
“Aku akan melakukannya setelah keluar dari sini. Sekarang, kau hanya jawab YA atau TIDAK.”
“Kalau begitu aku juga akan menjawabnya saat kau keluar dari sini.”
Dia benar-benar membuatku gemas. Aku menarik tangannya membuat tubuh Oline jatuh ke tubuhku. Aku tau semburan merah tlah menyeruak ke wajah manisnya.
“Aku anggap itu jawaban untuk YA.” Ucapku terkesan memaksa.
Aku merasakan pelukan hangat dari Oline, tak akan pernah membiarkan dia lepas dari sisiku.
“Kau berat sekali. Saat kau jadi Mrs.Bieber nanti, cobalah untuk Diet. Aku tak mau punya istri jelek, jorok, dan gendut.” Ucapku bercanda.
“Kau.” Ucapnya halus sambil mencubit perutku. Suara terindah yang pernah ku dengar dari seorang wanita selain Ibuku. Aku mencintai Oline, sangat.
;
;
;
Dan sekarang aku tau mengapa Tuhan slalu mempertemukan kami disaat yang tak terduga, karna dia adalah wanita berharga. Dia, Oline Maura adalah seorang yang diciptakan Tuhan untukku.


Caitlin Beadles AS Bella
Katie lieung as Rey
Patricia Lynn Mallete AS Liana
Ryan AS Ben
Sylvia Fully AS Alex
zayn malik


~
Kritik dan saran ya. :D

2 komentar:

  1. Halooooo :)

    Salam kenal ^_^! kalau ada waktu, mampir ke blog saya ya ^_^!

    Matur nuwun :)

    BalasHapus